Melihat Peran Nikotin dalam Upaya Menurunkan Prevalensi Merokok



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nikotin merupakan senyawa yang banyak diteliti dalam bidang kesehatan dan ilmu saraf. Sejumah penelitian menunjukkan potensi besar nikotin dalam melindungi sel-sel otak, meningkatkan kemampuan berpikir atau fungsi kognitif seperti fokus, serta mengurangi risiko peradangan penyakit yang disebabkan oleh penurunan fungsi saraf (neurodegeneratif).

Potensi ini mendorong perluasan studi yang tidak hanya mengkaji manfaat klinisnya, tetapi juga melihat peluang pemanfaatan produk berbasis nikotin sebagai bagian dari pendekatan pengurangan bahaya tembakau (tobacco harm reduction) untuk membantu perokok dewasa beralih dari kebiasaan merokok.

Baca Juga: Aturan Nikotin Baru Dikhawatirkan Ancam Serapan Panen Petani Tembakau


Nikotin tidak tergolong zat karsinogen atau penyebab kanker menurut International Agency for Research on Cancer, dan National Health Service UK juga menegaskan bahwa nikotin tidak mengandung zat beracun seperti tar yang muncul dari proses pembakaran tembakau.

Sebagian besar bahaya merokok berasal dari asap hasil pembakaran, bukan dari nikotin. Meski bersifat adiktif, nikotin sendiri tidak menyebabkan kanker maupun penyakit paru-paru, dan juga telah digunakan dalam pendekatan untuk membantu perokok beralih dari kebiasaan merokok.

Mantan Direktur World Helath Organization (WHO), Tikki Pangestu, menegaskan bahwa produk nikotin bebas asap memiliki risiko lebih rendah dibandingkan rokok. “Kendati tidak sepenuhnya bebas risiko, risiko relatif dari produk bebas asap ini secara substansial lebih rendah dibandingkan risiko merokok,” ujar Tikki dalam tulisannya di Nature Health bersama Robert Beaglehole dan Ruth Bonita seperti dikutip Rabu (1/7/2026).

Selain itu, ia mencontohkan sejumlah negara seperti Swedia, Jepang, Amerika Serikat, dan Selandia Baru yang telah menerapkan tobacco harm reduction untuk menurunkan prevalensi merokok. Di negara-negara tersebut, penggunaan produk tembakau alternatif dikaitkan dengan penurunan jumlah perokok dan beban penyakit akibat kebiasaan tembakau.

“Komunikasi yang jelas dan berbasis bukti, termasuk dari WHO, bahwa sebagian besar bahaya tembakau berasal dari asap, bukan nikotin, akan membantu pengambilan keputusan yang lebih tepat oleh para perokok,” ujar Tikki.

Sementara itu, Assistant Clinical Professor University of Colorado School of Medicine, Mitchell B. Liester, mengatakan nikotin merupakan senyawa yang memiliki potensi terapeutik yang besar, meskipun selama ini lebih dikenal karena sifat adiktifnya.

“Nikotin, senyawa yang membuat tembakau bersifat adiktif, juga memiliki potensi terapeutik yang sangat besar sebagai pengobatan untuk gangguan neurologis dan kognitif,” kata Mitchell sebagaimana disampaikan dalam publikasinya di bidang neuroscience, dikutip Rabu (1/7/2026).

Menurut Mitchell, penelitian modern menunjukkan bahwa nikotin bekerja dengan mengikat reseptor di otak yang dikenal sebagai reseptor asetilkolin nikotinik. Reseptor ini berperan penting dalam proses pembelajaran, memori, perhatian, hingga perlindungan saraf.

Ketika reseptor tersebut diaktifkan, nikotin memicu serangkaian respons biologis yang membantu neuron tetap hidup dan berfungsi dengan baik. Proses ini mendorong pembentukan protein pelindung yang berfungsi seperti perisai bagi sel-sel otak saat menghadapi tekanan atau kerusakan.

"Salah satu temuan yang paling menarik adalah potensi nikotin dalam penelitian penyakit Parkinson. Berbagai studi menunjukkan bahwa nikotin dapat melindungi neuron dopaminergik, yakni sel-sel otak yang mengalami kerusakan pada penderita Parkinson," ujar Mitchell.

Selain itu, nikotin juga memiliki efek anti-inflamasi pada otak. Senyawa ini mampu mengaktifkan jalur anti-inflamasi kolinergik yang membantu menekan produksi molekul pemicu peradangan sekaligus mempertahankan sinyal anti-inflamasi.

"Kemampuan ganda sebagai pelindung saraf dan anti-inflamasi tersebut membuat nikotin dinilai memiliki potensi untuk berbagai penyakit neurodegeneratif yang ditandai oleh kematian sel saraf dan peradangan kronis," tambahnya.

Fungsi kognitif

Studi yang dilakukan Vanderbilt University Medical Center menemukan bahwa nikotin dapat meningkatkan perhatian, daya ingat, dan pemrosesan kognitif, baik pada individu sehat maupun mereka yang mengalami gangguan kognitif ringan. Peningkatan fungsi kognitif tersebut bahkan dinilai lebih nyata pada individu yang memiliki faktor risiko lebih tinggi terhadap penyakit Alzheimer.

"Berbagai penelitian klinis juga menunjukkan bahwa nikotin memiliki potensi untuk mendukung penanganan sejumlah kondisi lain, seperti depresi, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), sindrom Tourette, hingga skizofrenia," ungkap Mitchell.

Dalam pengembangannya, para peneliti mengeksplorasi berbagai metode penghantaran nikotin yang tidak melibatkan proses pembakaran tembakau, seperti penggunaan plester nikotin yang mampu memberikan kadar nikotin stabil tanpa paparan zat-zat berbahaya yang terdapat dalam asap rokok.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News