Memacu rezeki nan manis di bengkel mobil otomatis



Meski disebut sebagai biang kemacetan, jumlah mobil pribadi di jalanan terus meningkat. Pertumbuhan itu menjadi peluang bagi pelaku usaha bengkel, termasuk usaha bengkel khusus mobil otomatis yang belum memiliki banyak pesaing.Penjualan mobil dengan transmisi otomatis terus meningkat. Tahun 2005, pasaran mobil ini masih 10,9% dan tahun 2006 naik menjadi 11,6%. Tahun 2007, penjualan mobil jenis ini mencapai 16,6%–17% dari total penjualan mobil. Nah, saat ini, penjualan mobil tanpa pedal kopling ini sudah sekitar 30%. “Pemakai mobil ini memang terus meningkat, tapi masih kalah jauh dari pemakaian di luar negeri yang sudah mencapai 70%,” kata Bambang Prianto, pemilik bengkel Bayu Sakti Auto di Kediri Jawa Timur.Melihat tren itu, pemilik CV Automatic Global Sukses Matic (AGS Matic) Eni Nuraeni yakin, peminat mobil otomatis akan terus tumbuh. Maklum, mobil otomatis memang sangat memanjakan pengemudinya. “Mobil tipe ini sangat disukai anak muda karena memang nyaman,” katanya. Mobil jenis ini juga menjadi solusi ketika banyak orang sering menghadapi jalan-jalan yang macet. Tak heran, mobil jenis ini paling laris di kota-kota besar. Pertumbuhan mobil otomatis di Tanah Air sudah pasti mendongkrak laju bisnis jasa pendukungnya. Salah satunya bengkel yang khusus menangani mobil otomatis. “Di Jakarta, termasuk Tangerang, bengkel khusus mobil otomatis masih sangat terbatas,” kata Eni yang sudah membuka bengkel khusus mobil otomatis sejak tahun 2007. Hal ini diamini pemilik bengkel Wani Matic, Encik Mochammad Holil. Holil mengaku kewalahan melayani para pelanggannya. Bulan ini saja, masih ada 20 mobil yang menunggu untuk ditangani Wani Matic. Menurut Holil, pemilik mobil otomatis memang lebih suka datang ke bengkel khusus ketimbang bengkel umum. Sebab, mereka ingin mobil mereka ditangani oleh ahlinya langsung. Maka, tak heran, Wani Matic sering kebanjiran order. Omzet Wani Matic bisa mencapai Rp 75 juta per bulan. Dari jumlah itu, Holil mengaku bisa mengantongi keuntungan sekitar 40%–50%. “Tarif yang kami kenakan mulai Rp 1,37 juta hingga Rp 4 juta,” katanya. Eni pun mengaku mampu mengantongi pendapatan sekitar Rp 60 juta–Rp 70 juta per bulan. AGS Matic mengenakan tarif mulai dari Rp 6 juta hingga Rp 7 juta sekali servis. Bahkan bila kerusakan parah, tarif yang ia kenakan bisa mencapai Rp 18 juta. Pasalnya, kerusakan mobil yang masuk ke bengkel AGS Matic, biasanya, sudah mencapai kategori “gawat darurat”. “Benar-benar sudah tidak bisa maju maupun mundur. Sedangkan untuk perawatan, biasanya, konsumen datang ke diler resmi,” jelas Eni. Sementara, Bambang menyebut bisa meraup omzet Rp 40 juta–Rp 50 juga dari layanan bengkel mobil otomatis. “Di kota kami (Kediri), pengguna mobil otomatis belum sebanyak di Jakarta. Tapi, peluang masih tetap ada,” katanya mantap.Keahlian dan rekananJika Anda ingin menjajal usaha ini, hal yang harus Anda punyai adalah keahlian. Holil mengatakan, pengetahuan dasar seputar otomotif atau perbengkelan menjadi bekal wajib bila ingin memulai usaha ini. Ditambah, Anda harus memiliki pengalaman serta keterampilan otak-atik mesin dan sistem mobil otomatis paling sedikit tiga tahun. “Orang bilang, mengerjakan mobil otomatis itu susah, tapi sebenarnya sama saja dengan mobil manual. Yang jelas, ini hanya menuntut kebersihan dan ketelitian,” kata Holil. Eni menambahkan, untuk mendapatkan keahlian tentang mobil otomatis, seseorang harus mengikuti kelas-kelas pelatihan. “Paling tidak harus aktif mengikuti pelatihan khusus otomatis 10.000 jam,” katanya. Eni sendiri memang bukan ahli otomotif. Namun, ia dibantu sang suami yang memang seorang teknisi sehingga usahanya bisa berjalan. Selain itu, Anda harus aktif mencari informasi tentang teknologi terbaru seputar mobil otomatis. “Jangan malas untuk berselancar di internet. Akan banyak pengetahuan yang akan kita dapat di sana,” ujar Eni. Selanjutnya, Anda juga harus punya rekanan bengkel umum. Sebab, dari sana, Anda bisa mendapatkan order. Asal Anda tahu, tidak semua bengkel umum memiliki teknisi yang mampu menangani mobil otomatis. Jadi, biasanya, si pemilik bengkel umum akan melemparkan pekerjaan servis mobil otomatis ke mitra bengkel otomatisnya. Dari situlah, nama bengkel akan dikenal. Cara untuk mendapatkan rekanan ini tidak sulit. Anda cukup mendatangi sang empunya bengkel dan menginformasikan keahlian bengkel Anda. Tak harus berada di pinggir jalanBerbeda dengan usaha pembuatan pelat kendaraan, bengkel umum, atau usaha pengisian bahan bakar yang memerlukan lokasi strategis seperti pinggir jalan, usaha bengkel mobil otomatis justru tidak disarankan berlokasi di pinggir jalan. Apalagi bila konsep bengkelnya terbuka. “Ini menyangkut kebersihan yang memang harus dijaga dalam menangani mobil otomatis. Jadi, debu itu harus dihindari, ” kata Holil.Maklum saja, debu sangat mudah menempel di peralatan atau onderdil saat transmisi otomatis dirakit kembali. “Pemasangannya selalu menggunakan oli sehingga debu gampang menempel,” jelas Holil. Debu itu akan menyumbat filter oli. Untuk mobil tertentu, bila filter itu terganggu, transmisi harus dibongkar semua. Untuk itu, sejak awal, teknisi harus menjaga kebersihan sehingga pori-pori filter tidak mudah memampat. “Kalau lap dan tangan kotor, kotoran itu akan terbawa oli. Sementara, oli itu yang bekerja akan bermuara di filter. Oli yang tidak lancar merupakan penyakit yang menimbulkan gangguan-gangguan di mobil otomatis,” papar Holil. Lokasi bengkel milik Holil sendiri tidak di pinggir jalan, tepatnya di Kompleks Pinang Griya Permai. Jl. Raya Pinang Griya Ciledug, Tangerang, Banten. Luas bengkel ini sekitar 400 meter persegi (m²). Karena lokasi yang tidak di pinggir jalan ini, tentu bila harus sewa, tarif sewa tempat juga tidak mahal. Holil hanya merogoh Rp 15 juta per tahun untuk menyewa lokasi tersebut. Namun, meski tidak di tepi jalan raya, bengkel itu harus mudah dijangkau. Eni menyarankan, untuk memulai usaha ini, Anda tak perlu memikirkan lokasi yang luas. “Saya sendiri memulai usaha dari garasi mobil. Itu karena bisnis ini dimulai dari bengkel ke bengkel,” kata Eni. Dengan cara seperti itu, Anda tinggal menerima panggilan, sementara mobil konsumen tetap di parkir di bengkel rekanan Anda. Nah, seiring waktu, bila pelanggan mulai banyak, Anda bisa memikirkan untuk membuka bengkel yang lebih luas. AGS Matic, yang berlokasi di Koja, Jakarta Utara, sekarang sudah menempati lokasi seluas 350 m². Sementara itu, bengkel milik Bambang cukup luas, yakni sekitar 2000 m². “Ini karena saya juga menjual spare parts, buka cucian mobil, dan bengkel umum juga,” kata Bambang yang mengaku bisa meraup omzet sekitar Rp 400 juta sebulan dari seluruh usahanya. Dari omzet tersebut, kontribusi bisnis bengkel mobil otomatis baru 10%. Bambang sudah buka usaha bengkel sejak 1990. Namun, baru tahun 2000 dia mulai menggarap mobil otomatis. Maklum, pasar mobil otomatis semakin tumbuh.

Modal sesuai dengan kocekBagaimana soal modal? Tak perlu pusing. Anda bisa menyesuaikan nilai modal dengan kondisi kantong Anda. Menurut Holil, uang sebesar Rp 20 juta sudah cukup untuk membeli peralatan bengkel standar. “Penambahan peralatan bisa sambil jalan,” katanya. Sementara lokasi tidak membutuhkan perlengkapan. Biaya sewa lokasi bisa ditekan bila Anda cukup memanfaatkan garasi di rumah atau menyewakan tempat yang tidak di pinggir jalan. Eni memerinci, peralatan yang harus dimiliki antara lain seperangkat peralatan bengkel, peralatan hidrolik, dan kompresor listrik. “Rata-rata peralatannya sama dengan bengkel umum, hanya memang keahlian yang dibutuhkan,” jelasnya. Eni bilang, biaya yang dikeluarkan untuk membeli peralatan di bengkelnya mencapai Rp 200 juta. Plus, ia mengeluarkan Rp 8 juta untuk mengurus izin mendirikan CV. Dengan order 10 unit per bulan, Eni mengaku bisa cepat balik modal. Eni bercerita, dalam sebulan, ia mengeluarkan sekitar Rp 13 juta untuk gaji 5 orang pegawai, biaya listrik Rp 500.000, membeli minyak tanah sebagai media pembersih perangkat mobil otomatis sekitar Rp 220.000, dan biaya perawatan peralatan Rp 2 juta. Karena pengeluaran tidak besar, ia bisa meraup keuntungan cukup besar.Adapun pengeluaran Wani Matic setiap bulan meliputi gaji 8 orang karyawan Rp 10 juta, belanja suku cadang Rp 40 juta, biaya listrik Rp 500.000, biaya perawatan peralatan Rp 1 juta, dan biaya sewa lokasi bengkel Rp 1,25 juta. Untuk memperlancar bisnis Anda, berikan pelayanan cepat dan hasil maksimal kepada para pelanggan. Untuk itu, ketersediaan suku cadang atau spare part sangat penting. “Perlu sekali kita bekerjasama dengan importir spare part,“ ujar Eni. Sebab, kendala terbesar bengkel otomatis, termasuk di diler mobil resmi, adalah pasokan suku cadang. Untuk mengantisipasinya, pemiliki bengkel harus mencari jaringan distributor atau importir yang bisa menyediakan suku cadang transmisi otomatis secara cepat. Untuk menemukan importir ini, Anda bisa mencari informasi di internet. Oh, iya, jangan lupa memberikan garansi pada konsumen. “Bila diler resmi memberikan garansi dua minggu, kami memberi enam bulan. Jadi berikan kelebihan layanan dibandingkan diler resmi,” saran Eni. Layanan lebih ini akan jadi daya tarik tersendiri bagi bengkel Anda. Selamat mencoba.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tri Adi