Memadukan Anyaman dan Limbah Kulit



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Anyaman tradisional Indonesia memiliki nilai dan keindahan yang luar biasa, namun kerap kali kurang mendapatkan perhatian. Namun Susy Darmayanti,  founder Zante, berhasil memadukan anyaman dengan sisa limbah kulit menjadi tas tangan yang unik, ringan dan bernilai tinggi. 

Susy menceritakan, usaha ini dimulai pada Oktober 2021. Terlahir dari kecintaannya terhadap tas berkembang menjadi passion yang lebih dalam untuk mengangkat nilai kerajinan anyaman Indonesia sekaligus mendukung perajin lokal.

Di sisi lain, Susy menaruh perhatian pada limbah industri kulit yang masih banyak terbuang dari produksi tas full leather. 


"Berawal dari kecintaan saya terhadap tas. Dari sekadar hobi, lama-lama berkembang menjadi passion yang lebih dalam, keinginan untuk dapat mengangkat nilai kerajinan anyaman Indonesia dan mendukung perajin lokal," kata dia kepada KONTAN, Selasa (29/4).

Baca Juga: Menemami Secangkir Kopi dengan Camilan Sejiwa

Produk utama Zante adalah tas tangan, mulai dari tote bag kasual hingga handbag elegan, yang seluruhnya dibuat secara fully handmade oleh perajin lokal.

Keunggulan utama label ini terletak pada kombinasi bahan yang digunakan, yakni anyaman alam dari berbagai penjuru Tanah Air seperti rotan, lontar, pandan, mendong hingga mansiang, dipadukan dengan kulit asli seperti kulit eksotik python dan biawak, kulit sapi dan domba asli.

Baca Juga: Cuan dari Menjaga Budaya Nusantara

Zante juga mengutamakan penggunaan sisa potongan kulit atau offcuts dari produksi tas full leather sebagai bagian dari upaya keberlanjutan.

"Jadi setiap tas Zante tidak hanya indah, tapi juga punya cerita dan makna. Karena seluruh proses dikerjakan dengan tangan dan bahan alami. Tidak ada dua tas Zante yang persis sama, itulah yang kami sebut one of a kind charm," jelas Susy.

Baca Juga: Fulus Ciamik dari Saban Hari Pakai Batik

Dalam perjalanannya, Zante telah mencatatkan sejumlah pencapaian, di antaranya masuk Top 25 dari 1.150 peserta Inkubasi SMESCO, lulus kurasi Gadepreneur 2023 dari 3.350 peserta, hingga berkesempatan tampil di pameran internasional Vakantiebeurs 2024 di Belanda dan INACRAFT Maret 2024.

Sejak Oktober 2024, produk Zante juga telah tersedia di Korea Selatan, tepatnya di Gallery Seni Wastra, Busan.

Untuk strategi bisnis, Susy mengutamakan membangun koneksi emosional dengan konsumen melalui brand storytelling mengenai makna di balik setiap tas, pameran internasional, selain direct to consumer melalui personal selling.

Zante juga mulai menggarap segmen korporat untuk proyek gift dan hampers.  Memasuki tahun 2026, kata Susy, fokus utama Zante adalah memperkuat fondasi bisnis yang lebih terstruktur dan terukur. Zante juga bersiap memperluas jangkauan offline secara bertahap.  

"Ke depan, Zante berencana memperluas pasar ke negara-negara yang memiliki apresiasi tinggi terhadap produk kerajinan tangan otentik," imbuh Susy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: