Memanas! AS Luncurkan Jet Tempur Setelah Trump Ancam Bom Iran Sangat Keras



KONTAN.CO.ID - Kawasan Timur Tengah kembali membara setelah militer Amerika Serikat secara resmi meluncurkan gelombang serangan udara baru yang menargetkan berbagai instalasi di wilayah teritorial Iran pada Rabu (10/6/2026) malam waktu setempat.

Operasi masif ini dieksekusi hanya berselang beberapa jam setelah Presiden Donald Trump bersumpah akan menggempur Teheran "sangat keras" jika draf perjanjian damai tidak segera ditandatangani.

Baca Juga: Infantino: FIFA Bukan Raja Dunia, Kebijakan Visa Sepenuhnya Hak Pemerintah AS


Komando Sentral Militer AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa jet-jet tempur mereka mulai menjatuhkan bom pada pukul 17.15 waktu Washington (atau pukul 00.45 dini hari waktu Teheran).

CENTCOM menegaskan langkah ini diambil sebagai respons langsung atas tindakan agresi yang terus dilakukan oleh Iran secara sepihak.

Kantor berita Iran, Mehr, melaporkan suara ledakan hebat terdengar jelas di kota pelabuhan strategis Sirik, bersamaan dengan aktifnya sistem pertahanan udara (air-defense) di wilayah barat ibu kota Teheran.

Eskalasi ini mengubur dalam-dalam komitmen gencatan senjata rapuh yang sempat disepakati kedua belah pihak pada awal April lalu, sekaligus mengancam meletusnya perang total berskala besar.

"Kami akan memukul mereka dengan sangat keras malam ini, dan kami berharap Iran mengambil keputusan yang tepat," ujar Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth saat mengunjungi markas CENTCOM di Florida.

"Jika kami harus bernegosiasi menggunakan bom, maka kami akan bernegosiasi dengan bom."

Baca Juga: Harga Emas Dunia Anjlok 3%, Konflik AS-Iran Picu Kekhawatiran Inflasi

Saling Balas Rudal dan Tuduhan Kejahatan Perang

Bentrokan terbuka ini merupakan puncak dari ketegangan yang terakumulasi sepanjang pekan. Sebelumnya, militer AS telah membombardir radar pertahanan Iran di dekat Selat Hormuz sebagai aksi balasan atas ditembak jatuhnya helikopter Apache AS.

Iran kemudian merespons dengan meluncurkan hujan rudal dan drone ke tiga pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain.

Di tengah situasi yang kian keruh, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghei menuduh Washington telah sengaja membom fasilitas waduk yang memasok air bersih untuk 10 desa di Iran.

"Ini bukan dampak kerusakan tidak sengaja (collateral damage). Ini adalah kejahatan perang yang direncanakan dan pelanggaran nyata terhadap hak asasi manusia," tegas Baghei.

Merespons serangan baru AS, Kepala Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran Ebrahim Azizi mengeluarkan peringatan keras bahwa jika AS terus melanjutkan agresi ini, skala pertempuran tidak akan lagi terbatas di kawasan Timur Tengah, melainkan meluas ke tingkat global.

Kendati retorika perang memanas, delegasi diplomatik dari Qatar dilaporkan telah mendarat di Teheran sebagai mediator untuk mengupayakan jalur dialog darurat.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak 2% Rabu (10/6), Trump Ancam Serang Iran Lebih Keras

Operasi Senyap Komoditas dan Harga Minyak yang Memanas

Konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan ini telah menlan ribuan korban jiwa dan melumpuhkan seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia.

Akibat ancaman terbaru Trump, harga minyak mentah dunia langsung meroket nyaris US$3 hingga menyentuh level US$94 per barel.Di tengah carut-marut blokade laut, Donald Trump membeberkan adanya misi militer rahasia AS di Selat Hormuz.

Ia mengklaim bahwa sejumlah kapal tanker yang membawa total 100 million barel minyak secara senyap berhasil dikawal keluar dari selat pada tengah malam di bawah perlindungan militer AS, tanpa bisa dideteksi oleh radar Iran.

Trump menyebut operasi ini berhasil mencegah harga minyak dunia terbang ke level ekstrem US$250 per barel. Selain itu, militer AS juga mengonfirmasi telah melumpuhkan sebuah kapal tanker yang kedapatan mengangkut minyak selundupan dari Iran di Teluk Oman.

Baca Juga: Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth: Bom Akan Jatuh ke Fasilitas Kunci Iran

Front Paralel Lebanon dan Tuntutan Meja Perundingan

Kondisi kian rumit karena perang ini berjalan paralel dengan pertempuran di Lebanon selatan antara Israel dan milisi Hizbullah yang disokong Iran.

Serangan udara Israel dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 13 orang di Lebanon pada hari Rabu.

Tuntutan Mutlak Iran Tuntutan Mutlak Amerika Serikat
Penghentian total serangan Israel di Lebanon Pembukaan blokade pelayaran di Selat Hormuz
Pencabutan seluruh sanksi ekonomi internasional Jaminan total Iran tidak mengembangkan senjata nuklir
Pencairan miliaran dolar aset Iran yang dibekukan Penghentian serangan drone ke pangkalan sekutu
Pengakuan kendali penuh Iran atas Selat Hormuz Kepatuhan penuh terhadap inspeksi uranium IAEA
Baca Juga: Akses Mineral Kritis dari China Masih Sulit, Perusahaan AS Cari Pasokan Alternatif

Guna menekan ruang gerak Teheran, Dewan Gubernur Badan Pengawas Nuklir PBB (IAEA) yang beranggotakan 35 negara secara resmi meloloskan resolusi yang didukung AS.

Resolusi tersebut memerintahkan Iran untuk segera membuka seluruh akses bagi inspektur internasional guna memverifikasi sisa stok uranium yang diperkaya.

Pihak Iran dengan tegas menolak resolusi tersebut dan mencapnya sebagai keputusan yang murni bermotif politik.