Memanfaatkan kotoran cacing untuk pupuk organik



Cacing bagi sebagian orang terlihat menjijikkan. Namun sesungguhnya hewan invertebrata ini memiliki banyak khasiat bahkan bisa mendatangkan keuntungan finansial. Salah satunya ialah dengan memanfaatkan kotoran cacing untuk dijadikan pupuk atau biasa disebut kascing. Selain kandungan unsurnya yang tinggi, pupuk organik ini ramah lingkungan.

Salah seorang pengusaha yang telah merasakan manfaat dari memproduksi kascing ini ialah Haris Benyamin. Pria yang tinggal di Pengalengan, Jawa Barat, ini mengaku membuat pupuk kascing karena peduli terhadap kualitas pertanian di Indonesia, utamanya pertanian organik. Ia membudidayakan cacing jenis Lumbricus loberus dan cacing Afrika.

Menurut Haris, bukan mustahil pertanian organik berbiaya murah sehingga hasilnya juga bisa lebih murah. “Saat ini, harga beras organik bisa Rp 28.000 per kg. Harga tersebut sebenarnya bisa lebih murah,” tuturnya.


Pupuk kascing memiliki kandungan penyubur paling baik dibanding pupuk organik lainnya, seperti kotoran sapi, ayam, babi, dan kuda.

Pembudidayaan dan pengolahan untuk menjadi pupuk pun tidak rumit serta tidak memakan biaya besar. Dalam pembudidayaan, cacing hanya perlu diberi makan. “Porsi makan cacing itu sesuai beratnya. Jadi misal kita punya 1 kg cacing, makanan yang cukup untuk cacing, ya, 1 kg juga. Nah, agar menghasilkan kotoran yang banyak, disediakan pakan yang lebih dari berat badannya,” tuturnya.

Peternakan cacing milik Haris berbentuk susunan rak-rak ke atas. Dia memberi pakan dengan perbandingan 1 banding 3 hingga 10. Artinya, untuk 1 kg cacing, ia memberi 3 kg hingga 10 kg pakan. Pada peternakan cacingnya, dia memanfaatkan kotoran sapi untuk dijadikan pakan cacing. “Di Pangalengan kan banyak peternak sapi, jadi saya pakai itu saja. Sebenarnya pakan cacing bisa berupa kompos sampah-sampah organik juga,” terang Haris.

Proses selanjutnya ialah memisahkan kotoran cacing dengan tanah, cacing, dan bibit cacing. Kotoran cacing tersebut kemudian tinggal dimasukkan dalam kemasan. Haris membuat kemasan ukuran 5 kg.

Usaha yang dia rintis sejak tahun 2011 ini sudah bisa mendapatkan pasar yang cukup luas di berbagai kota di Indonesia. Haris menjual produknya seharga Rp 15.000 per bungkus untuk daerah Bandung. Untuk daerah lain, harga per kemasan ialah Rp 20.000. Rata-rata Haris bisa menjual sekitar 1.000 bungkus per bulan. Sehingga, dia bisa meraup omzet sekitar Rp 20 juta per bulan. "Margin sekitar 20% dari harga per kemasan," kata dia.  

Harga jual produknya lebih murah dibanding kompetitor. Itu karena niatnya yang memang fokus untuk membantu mensejahterakan petani tanaman organik. Menurutnya, jika pemerintah bisa membantu, harga beras organik bisa menjadi Rp 15.000 per kg.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: S.S. Kurniawan