KONTAN.CO.ID - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum sejumlah kejadian bencana yang terjadi pada periode 27-28 Juli 2026. Memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Agustus, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendominasi laporan kejadian di berbagai daerah. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, salah satu kejadian karhutla terjadi di Gampong Cot Girek Kandang, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Aceh, pada Minggu (26/7) pukul 18.30 WIB.
Baca Juga: Purbaya Tegaskan Danantara Tak Punya Hak Suara dalam Kebijakan KSSK “Kebakaran tersebut menghanguskan sekitar dua hektare lahan. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Api berhasil dipadamkan sekitar dua jam kemudian oleh tim gabungan BPBD Kota Lhokseumawe, tim reaksi cepat, petugas pemadam kebakaran, dan masyarakat setempat,” kata Abdul dalam keterangan resminya Selasa (28/7). Karhutla juga melanda kawasan hutan Perhutani seluas sekitar empat hektare di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, pada Sabtu (25/7) dini hari. BPBD Kabupaten Probolinggo bersama BPBD Provinsi Jawa Timur dan tim gabungan melakukan pemadaman melalui jalur darat. Upaya pemadaman terkendala lokasi kebakaran yang berada di kawasan perbukitan dan sulit dijangkau. Hingga Senin (27/7), titik api masih sempat muncul kembali akibat embusan angin yang meniup bara ke daun, rumput, dan serasah kering.
Baca Juga: El Nino Hantam 35.000 Hektare Lahan, Pemerintah Pastikan Pangan Aman Di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, kebakaran menghanguskan sekitar satu hektare lahan tebu di Desa Jepangrejo, Kecamatan Blora, pada Minggu (26/7). Sementara itu, di Kabupaten Wonogiri, satu hektare lahan tebu di Desa Giriwono, Kecamatan Wonogiri, juga terbakar pada hari yang sama sekitar pukul 15.57 WIB. Kedua kebakaran tersebut telah berhasil dipadamkan. Masih di Jawa Tengah, kebakaran lahan terjadi di area persawahan Dukuh Srimulyo RT 15 RW 05, Desa Kaligawe, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, pada Senin (27/7). Sekitar satu hektare lahan terbakar akibat dugaan pembakaran sampah yang tidak terkendali. BPBD Kabupaten Klaten bersama petugas pemadam kebakaran dan relawan berhasil memadamkan api sekitar satu jam setelah kejadian.
Baca Juga: Pemerintah Siaga Hadapi El Nino, Jaga Pasokan Air dan Produksi Pangan Karhutla juga terjadi di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Sebanyak 3,4 hektare lahan di Desa Prigi, Kecamatan Kedungjati, dan Desa Kaliwenang, Kecamatan Tanggungharjo, terbakar pada Senin (27/7) sekitar pukul 12.10 WIB. Berdasarkan hasil asesmen, kebakaran diduga dipicu pembakaran serasah bekas panen jagung. Tim gabungan melakukan pemadaman sekaligus membuat sekat bakar untuk mencegah api meluas. Api kini telah berhasil dipadamkan. Sementara itu, di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, kebakaran melanda area pemakaman di Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin. Menurut keterangan warga, api berasal dari area pemakaman sebelum merambat ke lahan di sekitarnya dan menghanguskan sekitar satu hektare lahan. BPBD Kabupaten Bandung bersama Dinas Pemadam Kebakaran berhasil memadamkan api, sementara petugas masih melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada titik api yang tersisa.
Baca Juga: CITA: SP2DK Berpotensi Jadi Andalan DJP Kejar Target Pajak Selain karhutla, BNPB juga mencatat kejadian cuaca ekstrem di Desa Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada Minggu (26/7). Hujan lebat disertai angin kencang menyebabkan kerusakan pada 10 rumah warga yang dihuni 10 kepala keluarga. Hasil asesmen BPBD Kabupaten Banyuwangi menunjukkan tiga rumah mengalami kerusakan sedang dan tujuh rumah mengalami kerusakan ringan. Tim gabungan telah melakukan pembersihan material sisa bencana melalui kerja bakti. BNPB juga melaporkan kejadian tanah longsor di Desa Epil, Kecamatan Lais, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Longsor terjadi pada Rabu (22/7), namun dipicu oleh pergeseran tanggul Sungai Batanghari yang mulai terjadi sejak Minggu (19/7). Awalnya, tanggul sepanjang sekitar 30 meter bergeser ke arah sungai sehingga memicu abrasi. Pergeseran susulan sepanjang sekitar 10 meter terjadi pada 22 Juli setelah hujan deras meningkatkan tekanan air di dalam tanah dan mengganggu kestabilan lereng. Akibat kejadian tersebut, sebanyak 10 kepala keluarga atau 12 jiwa terdampak. Tujuh rumah mengalami kerusakan, tiga di antaranya rusak berat.
Baca Juga: Ekonom CORE Ingatkan Risiko Saat Konsumsi Masyarakat Mulai Bergantung Utang BPBD Kabupaten Musi Banyuasin telah melakukan asesmen, mengevakuasi warga ke rumah kerabat, serta berkoordinasi dengan dinas terkait untuk melakukan penanganan darurat terhadap tanggul yang jebol. Menghadapi puncak musim kemarau, BNPB mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi kering, terutama kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan. Masyarakat diimbau menyiapkan cadangan air bersih, menggunakan air secara hemat, memperbaiki kebocoran instalasi air, serta memanfaatkan kembali air yang masih layak digunakan, seperti air bekas mencuci sayuran untuk menyiram tanaman.
BNPB juga mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta memastikan bara api benar-benar padam untuk mencegah terjadinya karhutla. Selain itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi bencana geologi seperti gempa bumi yang dapat terjadi sewaktu-waktu. BNPB mengimbau masyarakat menyiapkan tas siaga bencana dan terus memantau informasi resmi dari BNPB, BPBD, maupun BMKG. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News