Membedah Peluang Reksadana di Tengah Konflik Ukraina dan Kenaikan Suku Bunga



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam sepekan terakhir, kinerja reksadana saham melemah. Hal ini tercermin dari kinerja Infovesta 90 Equity Fund Index yang melemah 0,20% dalam tujuh hari terakhir.

Kendati begitu, kinerja pasar saham justru sebenarnya berada dalam teritori positif pada periode yang sama. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,34% ke level 7.235,53, sementara kapitalisasi pasar bursa juga mengalami peningkatan sebesar 3,97% menjadi Rp 9.046,3 triliun. 

Infovesta Utama dalam rilis mingguannya, Senin (18/4) menyebutkan bahwa meski saham sedang dalam pola bullish seiring dengan rilis kinerja emiten dan pembagian dividen, pihaknya melihat pelaku pasar masih akan mengamati perkembangan konflik geopolitik Rusia-Ukraina yang berpengaruh terhadap harga komoditas dan kekhawatiran inflasi Indonesia yang didorong oleh kenaikan harga BBM. 


Baca Juga: Tingkat Suku Bunga Belum Naik, Penerbitan Obligasi Korporasi Tumbuh Solid

Sementara di tengah euforia yang terjadi pada pasar saham, pasar obligasi justru sedang mengalami tekanan. Salah satu faktor pendorongnya adalah terjadinya arus keluar (outflow) dana asing dari pasar SBN. 

Infovesta Utama memperkirakan, tekanan yang relatif masih besar akan terjadi pada tenor jangka panjang seiring dengan masalah inflasi dan kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed maupun Bank Indonesia (BI). 

“Namun, kami memprediksi pasar obligasi masih akan menarik jika tingkat imbal hasil (yield) obligasi mulai atraktif yaitu mendekati 7% atau lebih. Oleh karena itu, sebaiknya para pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam melihat sentimen yang mempengaruhi pasar obligasi,” ujar Infovesta Utama dalam rilisnya.

Baca Juga: Reksadana Pasar Uang Jadi Satu-satunya Reksadana Berkinerja Positif pada Pekan Lalu

Lebih lanjut, seiring dengan masih kuatnya sentimen positif di pasar saham, seperti pemulihan aktivitas ekonomi sepanjang 2022, membaiknya perkembangan pandemi Covid-19, dan publikasi laporan keuangan emiten yang menunjukkan perbaikan cukup signifikan, Infovesta Utama melihat bahwa pasar saham masih berpotensi untuk melanjutkan penguatannya. 

Namun di sisi lain, posisi pasar yang sudah mencapai zona tertinggi ditambah dengan masih belum meredanya konflik Rusia-Ukraina serta kekhawatiran perlambatan ekonomi akibat ekspektasi lonjakan inflasi dapat mendorong aksi profit taking yang semakin kencang di pasar saham. 

Baca Juga: Pasar Keuangan Sepekan: IHSG Melaju, Pasar Surat Utang Loyo

Oleh karena itu, investor yang hendak berinvestasi di reksadana saham disarankan untuk terus memantau perkembangan isu dan sentimen di pasar. Di sisi lain, reksadana pendapatan tetap hingga saat ini masih menunjukkan kecenderungan untuk bergerak turun, sejalan dengan semakin tingginya ekspektasi inflasi dan semakin kencangnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral (termasuk oleh Bank Indonesia). 

“Investor disarankan untuk wait and see sambil memantau arah pergerakan aliran dana asing yang diprediksikan dapat kembali masuk kepasar SBN dalam negeri ketika yield sudah kembali atraktif. Di saat yang sama, investor dapat mempertimbangkan reksa dana pasar uang sebagai alternatif penempatan sementara sambil memantau kondisi lebih jauh,” tutup Infovesta Utama.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati