Memburu saham IPO di akhir tahun



JAKARTA. Menjelang penghujung tahun, masih ada beberapa emiten yang akan mencatatkan saham alias initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (lihat tabel). Pasar yang tengah lesu, tak membuat pesimistis calon emiten tersebut.

Analis Danareksa Sekuritas, Lucky Bayu Purnomo mengatakan, sebenarnya di akhir tahun aksi IPO kurang menarik. "Sentimen negatif dari luar negeri dan dalam negeri masih akan mengintai sampai akhir tahun, kemungkinan IHSG pun cenderung melemah," jelas dia.

Secara historis, IHSG memang bisa sedikit terdorong dari aksi window dressing di akhir tahun. Hanya saja, kata Lucky, perdagangan saham menjelang liburan akhir tahun biasanya sepi dan kurang agresif. Karena itu, dia menyarankan, investor yang ingin mengambil untung dari saham IPO, membeli untuk jangka waktu menengah. "Jangan beli langsung dilepas. Sulit untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek di tengah kondisi pasar seperti ini," jelas dia.


Toh begitu, manajemen PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo (DAJK) optimistis, saham IPO mereka akan terserap pasar. Begitu juga dengan PT Sido Muncul. "Kondisi pasar sudah tidak seperti sebelumnya," ujar Tiur Simamorang, Sekretaris Perusahaan Sido Muncul.

Dana IPO untuk ekspansi

Apalagi, rata-rata penggunaan dana IPO calon emiten itu lebih banyak untuk ekspansi. DAJK, semisal, akan memakai 60% dana IPO untuk modal kerja dan sisanya untuk ekspansi. Andreas Chaiyadi Karwandi, Presiden Direktur DAJK merinci, modal kerja seperti pembelian bahan baku kertas, pembiayaan piutang perusahaan, dan bahan baku penunjang lain. Nah, sisanya untuk menggenjot kapasitas produksi. DAJK akan menaikkan kapasitas produksi divisi offset printing dari 36.000 ton per tahun menjadi 76.000 ton per tahun.

Dus, kapasitas perusahaan yang bergerak di bidang kemasan kertas ini akan naik 111%. Caranya, kata Andreas, DAJK akan membeli empat mesin baru untuk mengganti mesin yang lama, sehingga kapasitas produksi akan meningkat.

Strategi ini diharapkan bisa mendongkrak kinerja DAJK. DAJK menargetkan bisa meraup pendapatan Rp 490 miliar di akhir 2013. Jumlah itu tumbuh lebih dari dua kali lipat dari 2012 yang sebesar Rp 205,15 miliar. "Hingga September sudah mencapai Rp 350 miliar dan pendapatan ini diharapkan terus tumbuh menjadi Rp 700 miliar-Rp 900 miliar di tahun depan," kata Sekretaris Perusahaan DAJK, Henri Victor Parengkuan.

PT Logindo Samuderamakmur juga akan memakai dana IPO untuk ekspansi. Eddy Kurniawan Logam, Direktur Utama sekaligus pendiri Logindo mengatakan, pihaknya akan menggunakan dana IPO untuk menambah satu kapal anchor handling tug supply (AHTS) bertenaga 12.000 bhp seharga US$ 30 juta. "Total belanja modal sekitar US$ 80 juta, setiap tahun diharapkan bisa menambah tiga sampai empat kapal baru," jelas.

Sido Muncul pun tak mau kalah. Perusahaan jamu ini mengalokasikan 100% dana IPO untuk mengembangkan bisnis. Irwan Hidayat, Presiden Direktur Sido Muncul mengaku, Sido Muncul akan membangun dua pabrik bahan baku di Klepu, Ungaran.

Secara sektoral, menurut Lucky, emiten konsumer seperti PT Sido Muncul cukup prospektif untuk dikoleksi. Selain itu, IPO anak usaha PT Indomobil Sukses Sarana Tbk (IMAS) yang bergerak di sektor pembiayaan, yakni PT Indomobil Multi Jasa (IMJ) juga menarik.

Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities menambahkan, keunggulan IMJ adalah sudah memiliki pangsa pasar jelas sehingga fundamental menarik. 

Calon Emiten Bursa Efek Indonesia di Akhir Tahun        
           
Nama Perusahaan Jumlah saham yang dilepas  Target Penyerapan Dana  Penjamin Emisi Pelaksana     
PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo  642,85 juta saham setara 30% Rp 400 miliar NISP Sekuritas     
PT Indomobil Multi Jasa  1,29 miliar saham setara 25% Rp 645,75 miliar-Rp 839,47 miliar CIMB Securities, Deutsche Securities, DBS Vickers Securities, Kresna Graha Sekurindo, Buana Capital
PT Logindo Samuderamakmur 30% Rp 500 miliar RHB OSK Securities     
PT Sido Muncul  10% Rp 1 triliun-Rp 1,5 triliun Kreshna Graha Securindo, Mandiri Sekuritas 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Avanty Nurdiana