JAKARTA. Bukan rahasia lagi, guci antik bisa menjadi alat investasi yang bisa mendatangkan keuntungan tinggi. Sebab, semakin tua sebuah guci, dapat dipastikan guci tersebut semakin antik. Jika sudah demikian, harganya juga akan terdongkrak naik. Makanya, tak sedikit orang yang mau menggeluti bisnis ini. Salah satunya yakni Budi Kusuma atau Yan Yan yang merupakan lelaki keturunan Tionghoa asal Semarang.Di Toko Ukir-Antik miliknya di jalan Sultan Agung Semarang, Yan Yan menawarkan banyak guci-guci antik asal China. Untuk mendapatkan guci antik tersebut, Yan Yan harus hunting ke berbagai daerah. Biasanya, ia mendapatkan guci-guci tersebut dari beberapa kenalannya di sekitar Lasem, Semarang, Kudus, daerah sepanjang Pantura sampai Temanggung, Tarakan dan Magelang. “Di lokasi itu memang masih banyak warga yang masih menyimpan guci-guci China peninggalan leluhurnya," cerita Yan Yan.Yan Yan pun menceritakan pengalamannya selama menekuni bisnis ini. Pernah suatu kali, ia berhasil mendapatkan guci-guci antik Cina sebanyak 25 buah dari pabrik kecap di Kudus. Penjualan guci oleh pabrik kecap dilatarbelakangi oleh keinginan perusahaan kecap itu untuk menggunakan peralatan yang lebih modern dalam memproduksi kecapnya. Tadinya, mereka memang menggunakan guci-guci peninggalan zaman China itu untuk mengolah kecap. "Namun, karena persaingan yang ketat membuat mereka akhirnya mengubah cara pengolahan kecap tidak dengan menyimpannya dalam guci-guci kuno lagi. Itu sebabnya mereka mau menjual guci itu," katanya mengenang.
Memetik Untung dari Guci China Antik
JAKARTA. Bukan rahasia lagi, guci antik bisa menjadi alat investasi yang bisa mendatangkan keuntungan tinggi. Sebab, semakin tua sebuah guci, dapat dipastikan guci tersebut semakin antik. Jika sudah demikian, harganya juga akan terdongkrak naik. Makanya, tak sedikit orang yang mau menggeluti bisnis ini. Salah satunya yakni Budi Kusuma atau Yan Yan yang merupakan lelaki keturunan Tionghoa asal Semarang.Di Toko Ukir-Antik miliknya di jalan Sultan Agung Semarang, Yan Yan menawarkan banyak guci-guci antik asal China. Untuk mendapatkan guci antik tersebut, Yan Yan harus hunting ke berbagai daerah. Biasanya, ia mendapatkan guci-guci tersebut dari beberapa kenalannya di sekitar Lasem, Semarang, Kudus, daerah sepanjang Pantura sampai Temanggung, Tarakan dan Magelang. “Di lokasi itu memang masih banyak warga yang masih menyimpan guci-guci China peninggalan leluhurnya," cerita Yan Yan.Yan Yan pun menceritakan pengalamannya selama menekuni bisnis ini. Pernah suatu kali, ia berhasil mendapatkan guci-guci antik Cina sebanyak 25 buah dari pabrik kecap di Kudus. Penjualan guci oleh pabrik kecap dilatarbelakangi oleh keinginan perusahaan kecap itu untuk menggunakan peralatan yang lebih modern dalam memproduksi kecapnya. Tadinya, mereka memang menggunakan guci-guci peninggalan zaman China itu untuk mengolah kecap. "Namun, karena persaingan yang ketat membuat mereka akhirnya mengubah cara pengolahan kecap tidak dengan menyimpannya dalam guci-guci kuno lagi. Itu sebabnya mereka mau menjual guci itu," katanya mengenang.