Memilah kain tenun sutera di Sengkang (1)



Siapa yang tidak mengenal kain sutera? Kain yang bertekstur sangat lembut ini konon banyak digunakan sebagai pakaian para raja di zaman dulu. Hingga kini kain sutra masih sangat diminati oleh banyak orang lantaran kualitas dan keindahannya.

Nah, jika ingin memburu kain tersebut, salah satu sentra penghasil sutra yang bisa disambangi terletak di Sengkang, ibukota Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Menuju lokasi sentra ini membutuhkan waktu sekitar enam jam dengan kendaraan dari Makassar.

Sentra produksi kain sutera di Sengkang ini sudah lumayan kesohor. Sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidupnya pada industri ini. Tidak hanya ada perajin tenun sutera, petani ulat sutera pun banyak ditemui disini. Meski sudah ada teknologi mesin, namun para penenun di sini masih menggunakan alat tenun bukan mesin alias masih tradisional.


Ada berbagai corak kain sutra tercipta di sini, misalnya beberapa motif bugis seperti sobbi, balorini, baliare, cobo, hingga motif yang menyerupai ukiran Toraja. Saat KONTAN memasuki salah satu rumah produksi kain sutera, tampak para penenun begitu lihai dalam menggunakan alat tenun mereka. Suara gesekan alat tenun yang menderu menghasilkan suara yang begitu khas di telinga.

Haji Baji (45 tahun), salah satu pengusaha tenun sutera di sentra ini mengaku mempertahankan tenun sutra manual lantaran pangsa pasarnya yang masih cukup bagus. Dewasa ini orang-orang kalangan menengah ke atas lebih menyukai produk etnik yang diproses dengan tangan. Popularitas kain tenun sutra asal Sengkang sudah meluas hingga ke manca negara.

Baji merupakan generasi keempat pemilik Losari Silk, produsen tenun sutra manual di Sengkang. Ia mulai terjun mengelola bisnis keluarganya sejak tahun 1999. Di rumah produksinya yang beralamat di Jalan A Baso No 4, Pasar Sempange Sengkang, ada sekitar 50-an alat tenun bukan mesin yang biasa digunakan karyawannya memproduksi kain sutra setiap hari.

Sebagian alat tenun lainnya dibawa ke rumah karyawannya agar mereka bisa mem produksi kain di rumah masing-masing. Baji bilang, total produksi kain sutera per hari bisa mencapai 500 meter dengan berbagai macam motif mulai dari tenun ikat, polos dan variasi.

Hasil produksinya dia pasarkan di butik yang berlokasi di Makassar maupun showroom di rumah produksinya tersebut. "Omzet bisa mencapai Rp 300 juta per bulan," kata dia.

Fitri (17 tahun), perajin kain tenun di Jalan Rusa, Matirotapareng, Sengkang, merupakan generasi ketiga usaha tenun sutera sejak 1980-an. Ia bilang, setiap bulan, produksi kain mencapai 700 meter yang dijual ke pengumpul. Harga jual Rp 40.000-Rp 80.000 per meter. Fitri meraup omzet Rp 30 juta per bulan.       n

(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Rizki Caturini