Memilah Saham-Saham Pilihan Penghuni Indeks Value, Growth & Quality Stock



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks saham masih bergerak landai atau menguat secara terbatas. Tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang parkir di area 6.799,79 pada Kamis (9/3).

Posisi IHSG saat ini menggambarkan pelemahan 0,74% sejak awal tahun 2023 alias year to date (YTD). Salah satu indeks saham yang ambles paling dalam adalah IDX Value 30 (IDXV30) yang melemah 3,91% secara YTD. 

Indeks faktor dengan konstituen 30 saham lain, yakni IDX Growth 30 (IDXG30) juga masih di zona merah dengan penurunan 0,73% (YTD). Sedangkan IDX Quality 30 (IDXQ30) bernasib lebih baik, dengan penguatan 1,46% (YTD).


Research Analyst Reliance Sekuritas Lukman Hakim melihat saham-saham energi dan batubara menjadi pemberat  indeks. Harga komoditas global yang melandai menjadi pemicu sentimen negatif. IDXV30 paling terpukul lantaran saham sektor energi punya bobot yang besar.

"Saham batubara mengalami penurunan tertinggi di indeks ini, dimana harga batubara acuan pun sudah mengalami trend turun," ujar Lukman kepada Kontan.co.id, Kamis (9/3).

Baca Juga: Begini Prospek Saham Sektor Barang Konsumsi

Saham dengan penurunan terbesar (top losers) di IDXV30 diisi oleh saham energi. Yakni PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang turun 24,68% (YTD). Diikuti PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan PT Indika Energy Tbk (INDY) yang masing-masing ambles 19,05% dan 18,68%.

ADRO juga menjadi pemuncak top losers di IDXQ30. Sedangkan pucuk top losers IDXG30 diisi oleh ENRG dan INDY. Selain penurunan harga saham energi, laju sejumlah saham pun masih relatif flat.

Contohnya saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).

Baca Juga: IHSG Naik ke 6.799 Kamis (9/3), BMRI, BBNI, TLKM Paling Banyak Net Buy Asing

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina, melihat ruang untuk mencetak kenaikan cukup terbuka bagi ketiga indeks tersebut. Hanya saja, Martha memperkirakan level pertumbuhannya akan cukup terbatas.

"Terutama untuk indeks yang porsi saham berbasis komoditas cukup besar. Karena dengan normalisasi harga komoditas, harga saham sektor ini pun diperkirakan akan melemah," kata Martha.

Ada sejumlah sentimen yang dapat menjadi katalis penggerak indeks. Dari ranah global, kebijakan suku bunga The Fed masih menjadi faktor yang perlu dicermati. Di dalam negeri, musim pembagian dividen bisa menjadi angin segar.

Secara sektoral, emiten barang konsumsi akan terdorong oleh momentum Ramadan hingga Lebaran. Sedangkan untuk mengukur prospek kinerja di tahun 2023 beserta valuasi sahamnya, secara umum Martha menyarankan untuk menunggu rilis kinerja kuartal pertama 2023.

"Agar melihat saham yang tepat, apalagi untuk jangka panjang, kami rasa patut menunggu rilis kinerja Q1-2023 di bulan depan karena akan menjadi gambaran kinerja tahun ini," imbuh Martha.

Baca Juga: IHSG Diprediksi Rawan Koreksi Pada Jumat (10/3)

Momentum koleksi akan terlihat pada emiten yang mampu mencetak kinerja apik. Apalagi dengan harga saham yang telah turun dalam. Sejauh ini, Martha menilai IDXQ30 lebih menarik dicermati ketimbang IDXV30 dan IDXG30.

Alasannya, IDXQ30 memiliki pilihan saham beragam dari berbagai sektor yang rata-rata tergolong market leader. Martha menjagokan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP).

Chief Economist TanamDuit Ferry Latuhihin menimpali, mayoritas emiten penghuni ketiga indeks tersebut berpeluang besar menumbuhkan kinerja. Dus, sahamnya pun masih menarik dilirik.

Bahkan, Ferry melihat prospek saham energi dan batubara masih belum padam di tahun ini. Meski tidak setinggi level kenaikan tahun lalu, tapi demand dari pembukaan kembali ekonomi China  bakal jadi katalis positif.

Begitu pula untuk saham emiten tambang logam dan bank yang masih seksi di tahun ini. Catatan Ferry, wait and see atau hindari terlebih dulu saham properti, sembari memperhatikan sentimen pasar dan efek kenaikan suku bunga ke depan.

Baca Juga: IHSG Menguat 0,35% ke 6.799 Hari Ini (9/3), ARTO, TBIG, BBNI Top Gainers LQ45

"Saham pertambangan masih bisa diuntungkan dari pertumbuhan ekonomi China. Saham bank masih menarik, sedangkan untuk saham properti belum ada pemicu yang signifikan untuk mereka," ujar Ferry.

Sementara itu, Lukman memandang sejumlah saham yang menarik secara valuasi. Antara lain ada PT United Tractors Tbk (UNTR) yang memiliki PER 4,80x, INDY dengan PBV 0,70x, dan PT Panin Financial Tbk (PNLF) dengan PBV 0,48x.

Target harga untuk UNTR ada di Rp 31.250, INDY di Rp 2.650, dan PNLF di Rp 496 per lembar saham. "Dapat dimanfaatkan momentum untuk melakukan pembelian saham yang masih undervalued," tandas Lukman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati