Memitigasi risiko yang muncul dari kolaborasi perbankan dan industri keuangan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbankan semakin gencar melakukan kolaborasi dengan para pelaku industri jasa keuangan untuk membentuk ekosistem. Kolaborasi memang merupakan kunci untuk bisa tumbuh pesat di tengah era digitalisasi. 

Kolaborasi dilakukan lewat penyaluran kredit secara channeling dengan fintech, kolaborasi lain lewat layanan open API dan lain-lain. Namun, tidak bisa dipungkiri kolaborasi juga bisa menimbulkan resiko bagi bank dan nasabahnya.

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) telah mengembangkan berbagai solusi digital baik melalui channel BTN sendiri maupun integrasi direct secara B2B.  Andi Nirwoto Direktur Operasi, Teknologi Informasi dan Digital Banking BTN mengatakan, perseroan telah terhubung dengan berbagai ekosistem dan pihak ketiga melalui layanan tersebut.


Solusi tersebut diantaranya mobile banking, web e-Mitra atau integrasi dengan notaris dan kantor jasa penilai publik, digotal mortgage, Digiku, Cash Management System, API Mgt yakni menghubungkan dengan startup, fintech dan e-commerce, dan smart residence yakni layanan yang menghubungkan dengan pengembang.

Baca Juga: OJK paparkan 9 tantangan transformasi digital perbankan, begini cara antisipasinya

Dia bilang, tantangan terbesar BTN dalam melakukan kolaborasi adalah terkait kecepatan integrasi dan kesiapan masing-masing  dalam berintegrasi secara digital karena  IT readiness partners sangat beragam. 

Untuk memitigasi resiko yang muncul dari kolaborasi, BTN menggunakan standar yang berlaku sehingga memudahkan dan mempercepat time delivery, serta menggunakan pihak ke tiga bagi partner yang secara IT relatif belum siap. 

"Terkait data BTN telah menerapkan berbagai model validasi security baik secara aplikasi, prosedur maupun infrastruktur yang mengacu pada best practice  yang ada serta dikaji ulang secara berkala sesuai dengan perkembangan yang ada di market," jelas Andi pada KONTAN, Rabu (10/11).

Sementara PT Bank CIMB Niaga Tbk sangat selektif dalam memilih partner dan mitra dalam melakukan kolaborasi penyaluran kredit.  Hal itu dilakukan agar kolaborasi yang dibangun saling menguntungkan kedua belah pihak dan tetap sejalan dengan prinsip Good Corporate Governance

Baca Juga: Kredit menggeliat, bank kembali nikmati pendapatan bunga bersih

Selain itu, CIMB NIaga juga selalu mengedepankan manajemen risiko pihak ketiga yang tepat guna untuk perencanaan mitigasi risiko yang lebih baik. "Itu tidak hanya mendukung aspek risiko bisnis  tetapi juga keseluruhan potensi risiko yang mungkin timbul," kata Fransiska Oei, Direktur Compliance, Corporate Affairs & Legal CIMB Niaga.

CIMB Niaga menyadari ekosistem digital merupakan industri yang banyak pengaturan. Oleh karena itu, penyesuaian pengaturan governance secara internal bank bersifat fundamental. Fransiskan bilang, pihaknya akan selalu menyeimbangkan antara aspek sinergi bisnis dengan penerapan manajemen risiko dengan tata kelola perusahaan yang sehat.

Editor: Tendi Mahadi