Memotret peluang usaha penyedia jasa foto udara



Pelan tapi pasti, orang mulai menggunakan jasa foto udara untuk mengabadikan bangunan dari berbagai sudut, termasuk kejadian-kejadian penting yang sulit diambil dari darat. Pemilik usaha ini bisa mendulang omzet hingga Rp 50 juta per bulan. Anda berminat?pembangunan hotel, vila, resor, dan restoran yang makin marak membuat bisnis jasa potret udara cukup menjanjikan. Permintaan pun mengalir deras.Choliq Abdullah, pendiri Jirolu Photography di Denpasar, Bali, misalnya. "Banyak permintaan foto udara, tapi mahal. Makanya, saya buat pakai helicam," kata Choliq yang saat ini berusia 27 tahun.Helicam adalah helikopter radio kontrol yang menggendong kamera. Jadi, fotografer cukup membidik objek dengan pengendali jarak jauh atawa remote control. Sesi pemotretan membutuhkan waktu 30 menit, ditambah persiapan 15 menit. Dengan cara ini, klien bisa memonitor proses pemotretan dari layar digital, sehingga dapat leluasa mengatur objek dan sudut gambar foto yang mereka inginkan. Sayang, helicam tidak bisa dipakai saat angin kencang karena gambar akan goyang.Beberapa klien Choliq adalah perusahaan yang hotel dan vilanya baru saja selesai dibangun atau direnovasi. "Kebanyakan dekat pantai atau tebing. Hasilnya untuk foto reklame, baliho atau majalah," ujarnya.Choliq juga pernah menerima order memotret hotel yang masih tahap pemugaran dari atas langit. Tujuannya, untuk mengetahui sudah berapa persen proses pengerjaannya. Dalam setahun, setidaknya ada dua permintaan foto udara khusus hotel yang baru tahap renovasi di Bali.Dengan tarif minimal Rp 10 juta sekali proyek, dalam sebulan Choliq rata-rata menerima tiga sampai lima permintaan. "Pertumbuhan vila dan hotel di Bali sangat pesat," kata dia.Pemain lain, Rainaldy, pemilik Hi-Cam, lebih banyak menggunakan balon udara untuk melakukan pemotretan udara. Dibandingkan dengan helicam, balon udara lebih murah dan efisien.Itu sebabnya, untuk sekali foto, Rainaldy memasang tarif minimal Rp 5 juta. Penggunaan balon udara juga membuat waktu pemotretan sangat fleksibel. "Pokoknya, soal harga bisa dinegosiasikan," beber dia.Saban bulan, Rainaldy bisa menerima dua hingga tiga permintaan pembuatan foto udara. Selain pengembang, kliennya datang dari pemilik pabrik, pengusaha resor, hingga perorangan.Meski pasar jasa foto udara kurang begitu berkembang, usaha ini tetap menghasilkan keuntungan yang stabil. Makanya, bisnis ini juga dilirik Septi Endrasmoro asal Yogyakarta bersama dua kawannya, Muhammad Thoha, dan Dendi Pratama. Pada 11 Januari 2011 lalu, mereka mendirikan Capung Aerial Photo and Video. "Proyek pertama kami adalah ketika bencana lahar dingin Gunung Merapi," ungkap pria berusia 24 tahun ini.Hasil pengerjaan mereka kemudian ditayangkan sebuah televisi swasta di Jakarta. Selain itu, Septi juga pernah melayani permintaan foto udara dari Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Pusat Studi Pariwisata UGM.Tak seperti yang lain, Septi menggunakan tricopter dan pesawat terbang untuk membuat foto udara. Tricopter sanggup terbang hingga ketinggian 100 meter, sedang pesawat terbang daya jelajahnya sampai 300 meter. "Kami pakai kamera GoPro yang biasa dipakai untuk terjun payung dan underwater," tutur Septi.Namun, saat angin kencang, Septi lebih memilih memakai kamera saku dengan resolusi 10 megapixel. Soal tarif, untuk proyek di Yogyakarta, tarifnya Rp 1,5 juta per pemotretan. Tarif di luar Yogyakarta Rp 2,5 juta per pemotretan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Tri Adi