Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok telah menciptakan peluang meraih investasi baru bagi negara di kawasan Asia Tenggara. Tarif yang dikenakan AS terhadap barang impor dari Tiongkok telah memaksa perusahaan Tiongkok merelokasi pabriknya ke negara lain untuk menghindari tarif tersebut. Ini kesempatan besar bagi negara di kawasan termasuk Indonesia untuk menampung relokasi pabrik dari Tiongkok. Namun laporan survei Bank Dunia yang dikutip Presiden Joko Widodo menyebutkan dari 33 perusahaan Tiongkok yang berencana merelokasi pabriknya ke luar negeri, tak ada satu pun pindah ke Indonesia. Sebanyak 23 perusahaan itu ingin merelokasi pabriknya ke Vietnam, sisanya berniat merelokasi ke Malaysia, Thailand dan Kamboja.
Laporan ini sungguh mengentak kesadaran akan iklim investasi bahwa Indonesia tidak bisa menarik satu pun perusahaan yang ingin merelokasi pabriknya ke Indonesia. Sesungguhnya apa yang menjadi masalah bagi para investor sehingga tidak memilih Indonesia sebagai tujuan investasi dibandingkan negara tetangga di Asia Tenggara? Menarik melihat hasil Survei Japan External Trade Organization (JETRO) terhadap perusahaan Jepang yang beroperasi di berbagai negara. Survei ini menunjukkan lima masalah utama yang menjadi perhatian investor adalah kenaikan upah pekerja, ketidakstabilan mata uang rupiah, kenaikan biaya untuk mendapatkan bahan baku, kesulitan mendapatkan bahan baku dan masalah perpajakan. Lebih detail lagi, kenaikan upah pekerja memang bukan hal mudah untuk dipecahkan. Namun pemerintah harus menjaga tingkat harga-harga umum tetap rendah, terutama perumahan dan biaya transportasi. Berdasarkan data BPS, pengeluaran untuk perumahan dan transportasi masing-masing sebesar 20% dan 13% dari total pengeluaran. Dengan biaya hidup yang relatif rendah, seharusnya tuntutan kenaikan upah tidak besar. Hal lain untuk menjaga tingkat upah yang kompetitif tentu meningkatkan produktivitas sehingga biaya per unit dari barang yang dihasilkan bisa tetap. Hal ini terkait kualitas tenaga kerja yang perlu ditingkatkan keterampilannya sehingga mampu menyesuaikan perkembangan teknologi yang bisa meningkatkan produktivitasnya. Terkait kenaikan biaya dan kesulitan mendapatkan bahan baku, saya kira terkait ketersediaan infrastruktur baik untuk transportasi (jalan, pelabuhan, dan bandara) dan jaringan komunikasi, termasuk aturan yang membatasi arus barang antar wilayah. Hal itu akhirnya menentukan besar
logistic cost yaitu menyangkut biaya transportasi, gudang dan administrasi untuk mobilitas barang. Hal ini juga akan menentukan apakah pasar bahan baku kompetitif. Jika terjadi informasi tidak menyebar secara merata, sangat mungkin mengakibatkan pasar yang tidak kompetitif dan akhirnya harga menjadi mahal. Sementara itu, masalah perpajakan yang menjadi salah satu perhatian investor jelas memberikan masukan bahwa sektor perpajakan harus dibenahi, mulai dari kualitas peraturan dan kebijakan, kualitas pelayanan, kuantitas dan kualitas aparat pajak. Pemanfaatan insentif pajak yang rendah yaitu
tax holiday dan
tax allowance juga mengingatkan kita bahwa insentif pajak yang disediakan pemerintah untuk menarik investasi belum efektif. Hasil Survei JETRO mungkin bisa menjadi acuan aspek prioritas mana yang perlu diperbaiki secepatnya. Jangan sampai kita mendahulukan hal yang tidak relevan dalam upaya memperbaiki iklim bisnis untuk menarik investasi asing. Masalahnya adalah kita bersaing ketat dengan negara lain yang juga mengharapkan kedatangan investasi asing. Terlambat memperbaiki iklim investasi mengakibatkan Indonesia akan tertinggal dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi termasuk mempercepat alih teknologi, mendorong industrialisasi dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Kita seharusnya punya keyakinan kuat bahwa Indonesia lebih mampu menarik investasi asing. Indonesia punya modal yang jauh lebih baik dibandingkan negara tetangga, yaitu pasar yang besar, sumber daya alam berlimpah dan tenaga kerja banyak. Namun semua ini mungkin tidak berarti apa-apa bagi investor, jika iklim usaha tidak mendukung. Apalagi di saat yang bersamaan negara tetangga sudah jauh lebih cepat memperbaiki iklim investasinya.♦
Dendi Ramdani Head of Industry & Regional Research Bank Mandiri Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News