KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah maraknya misinformasi produk tembakau alternatif (PTA), Gerakan Bebas TAR & Asap Rokok (GEBRAK) menggelar diskusi publik bertajuk “Ngobrol Santai Bareng GEBRAK: Kenal Lebih Dekat Produk Tembakau Alternatif & Cara Pakainya Secara Bertanggung Jawab” di Tangerang Selatan, Banten, pada Sabtu (14/3) lalu. Kegiatan yang mengundang berbagai komunitas ini menjadi ruang edukasi untuk berbagi informasi mengenai penggunaan produk tembakau alternatif secara bertanggung jawab. Ketua GEBRAK, Garindra Kartasasmita, mengatakan edukasi publik ini sangat krusial agar masyarakat, salah satunya konsumen, memperoleh informasi yang akurat dan berimbang mengenai produk tembakau alternatif. Menurutnya, banyak perokok dewasa yang sebenarnya ingin mencari alternatif dari rokok tetapi masih kebingungan karena minimnya informasi yang komprehensif.
Baca Juga: Riset BRIN Beri Perspektif Baru tentang Produk Tembakau Alternatif “Tantangan terbesarnya justru saat ini adalah hoaks dan misinformasi. Kalau tahun 2018–2019 edukasi jauh lebih mudah karena orang fokus pada perubahan positif yang dirasakan di badannya. Sekarang banyak informasi miring di media sosial yang membingungkan masyarakat,” kata Garindra seperti dikutip, Senin (16/3). Produk tembakau alternatif seperti rokok elektronik (vape), produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin telah terbukti secara kajian ilmiah memiliki profil risiko yang berbeda dengan rokok. Perbedaan paling signifikan adalah proses cara menghantarkan nikotin, di mana rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan mengimplementasikan sistem pemanasan, tidak seperti rokok yang melalui pembakaran. “Produk tembakau alternatif menyalurkan nikotin dengan profil risiko yang berbeda dibandingkan rokok. Seperti mobil, ada yang menggunakan bahan bakar bensin dan listrik. Keduanya sama-sama kendaraan, namun mobil listrik memiliki profil risiko yang lebih rendah (dalam hal polusi),” katanya. Sejumlah penelitian mulai membandingkan profil risiko antara rokok dan produk tembakau alternatif, khususnya terkait paparan zat berbahaya yang dihasilkan dari kedua produk tersebut. Salah satunya adalah penelitian terbaru bertajuk “Evaluation of Laboratory Tests for E-Cigarettes in Indonesia Based on WHO’s Nine Toxicants” yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hasil penelitian BRIN menunjukkan bahwa dari sembilan senyawa toksikan utama yang dianalisis, kadar senyawa berbahaya yang terdapat pada emisi rokok elektronik tercatat secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan yang ditemukan pada asap rokok. “Bahkan, 3 sampai 4 zat toksikan utama tidak ditemukan sama sekali di rokok elektronik. Inti perbedaannya memang terletak pada keberadaan TAR dari proses pembakaran yang dilakukan,” terang Garindra. Berkat profil risikonya yang rendah, produk tembakau alternatif telah digunakan di sejumlah negara maju seperti Inggris, Jepang, dan Kanada, sebagai bagian dari strategi untuk menekan prevalensi merokok. “Di Inggris bahkan ada program subsidi produk alternatif bagi perokok yang membutuhkan. Kami berharap Indonesia juga dapat memiliki kerangka regulasi pengurangan risiko yang lebih suportif, sehingga benar-benar memfasilitasi perokok dewasa yang ingin beralih, bukan justru membatasi ruang informasi bagi masyarakat,” ungkap Garindra. Penggunaan yang Bertanggung Jawab Selain derasnya misinformasi, Garindra juga menyayangkan maraknya penyalahgunaan rokok elektronik. Akibatnya, reputasi produk tembakau alternatif sebagai opsi beralih dari kebiasaan merokok bagi perokok dewasa terus mendapatkan penilaian yang negatif. Kini, desakan untuk melarang peredaran dan penggunaan terhadap produk ini semakin luas. “Sebagai pengguna kadang menjadi risih dan bingung kalau ada satu berita negatif langsung viral. Tetapi kabar positifnya, banyak perokok dewasa yang berhasil berhenti dari rokok berkat produk tembakau alternatif justru jarang terekspos dan sulit dikonfirmasi ke masyarakat,” ujarnya. Sebagai mantan perokok, Erwin yang merupakan anggota Yamaha NMAX Club Indonesia (YNCI) Chapter Tangerang Selatan, berbagi pengalaman mengenai keberhasilan sejumlah rekan di komunitasnya untuk berhenti dari kebiasaan merokok. “Banyak di komunitas kami yang tadinya tergolong perokok berat. Tapi karena melihat teman-teman sebelumnya yang pakai rokok elektronik dan berhasil berhenti merokok, banyak yang merasa ingin coba pakai. Sampai detik ini, mereka sudah pakai rokok elektronik,” tuturnya.
Pengguna rokok elektronik sekaligus anggota komunitas Matic Dizzy Person, Mamet, menceritakan pengalamannya beralih ke rokok elektronik sebagai upaya untuk mengurangi risiko yang selama ini ia rasakan akibat dari kebiasaan merokok. Ia mengaku merasakan sejumlah perubahan positif setelah memutuskan untuk menggunakan produk tembakau alternatif. “Perubahannya sangat terasa. Pertama soal penampilan, gigi saya sekarang tidak kuning lagi seperti dulu saat masih merokok. Bau badan dan baju juga jadi lebih bersih,” bebernya. Dengan efektivitas dalam membantu perokok dewasa beralih dari kebiasaan merokok, Garindra mendorong agar edukasi mengenai produk tembakau alternatif perlu dilakukan secara berkelanjutan. Harapannya, informasi-informasi keliru terhadap produk ini semakin berkurang di masa mendatang sekaligus memberikan keyakinan bagi para pengguna. “Kalau bukan kita yang menginformasikan fakta dari PTA ini siapa lagi? Kita harus berbagi informasi yang positif, berdasarkan data seperti hasil riset BRIN. Kita informasikan juga siapa saja dokter yang mengedukasi soal ini agar informasinya seimbang,” katanya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News