Ali Imron mulai terjun ke dunia usaha sejak lulus kuliah di salah satu perguruan tinggi di Kediri, Jawa Timur. Lulus kuliah pada tahun 1998, Ali mengawali bisnis dengan membuka toko sepatu di Tanggulangin, Sidoarjo. Untuk membuka toko sepatu ini, ia meyiapkan modal sekitar Rp 10,5 juta. "Semua berasal dari pinjaman orang tua," katanya. Modal tersebut digunakan buat menyewa kios di pasar tradisional. Biaya sewa kios ini mencapai Rp 7,5 juta untuk sewa selama sepuluh tahun. Sementara sisanya dipakai buat modal membeli sepatu dan sandal. Setelah berjalan selama dua tahun, usaha toko sepatu Ali mulai menunjukkan kemajuan. Namun, ia tidak lantas puas dengan hasil tersebut. Ali kemudian memilih meninggalkan bisnis ini dan menyerahkan pengelolaanya kepada sang istri. "Kebetulan saat itu saya sudah menikah," ujarnya.
Memulai usaha dengan pinjaman rentenir
Ali Imron mulai terjun ke dunia usaha sejak lulus kuliah di salah satu perguruan tinggi di Kediri, Jawa Timur. Lulus kuliah pada tahun 1998, Ali mengawali bisnis dengan membuka toko sepatu di Tanggulangin, Sidoarjo. Untuk membuka toko sepatu ini, ia meyiapkan modal sekitar Rp 10,5 juta. "Semua berasal dari pinjaman orang tua," katanya. Modal tersebut digunakan buat menyewa kios di pasar tradisional. Biaya sewa kios ini mencapai Rp 7,5 juta untuk sewa selama sepuluh tahun. Sementara sisanya dipakai buat modal membeli sepatu dan sandal. Setelah berjalan selama dua tahun, usaha toko sepatu Ali mulai menunjukkan kemajuan. Namun, ia tidak lantas puas dengan hasil tersebut. Ali kemudian memilih meninggalkan bisnis ini dan menyerahkan pengelolaanya kepada sang istri. "Kebetulan saat itu saya sudah menikah," ujarnya.