Menakar Dampak Akuisisi Infei Metal Terhadap Kinerja Harum Energy (HRUM)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Akuisisi PT Infei Metal Industry (IMI) oleh PT Harum Energy Tbk (HRUM) diyakini akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan HRUM

Sebelumnya, pada September 2023, HRUM telah membeli 799.999 lembar saham IMI dari Central Halmahera Holding Pte Ltd melalui PT Tanito Harum Nickel. Jumlah ini mewakili 50,99% dari  saham IMI. Sementara itu, anak usaha HRUM lainnya yakni PT Harum Nickel Perkasa (HNP) membeli 1 lembar saham IMI atau setara 0,001%. Nilai transaksi jual beli saham ini sebesar US$ 70,38 juta.

IMI adalah perusahaan yang bergerak di bidang pemurnian dan pengolahan nikel, dimana IMI memiliki dan mengoperasikan pabrik pengolahan alias smelter nikel di Indonesia Weda Bay Industrial, Maluku Utara. IMI memiliki kapasitas 28.000 ton dan telah beroperasi secara komersial sejak April 2022.


Sepanjang 2022, IMI membukukan pendapatan sebesar US$ 427,30 juta dengan laba bersih mencapai US$ 59,02 juta.

Baca Juga: Menilik Rencana Harum Energy (HRUM) di Bisnis Nikel Setelah Akuisisi IMI

Analis Samuel Sekuritas Indonesia Juan Harahap menyebut, jika ditotal, HRUM telah menginvestasikan hingga US$ 207,6 juta atau setara Rp 3,1 triliun melalui anak usahanya, PT Tanito Harum Nickel dan PT Harum Nickel Perkasa, untuk mengakuisisi IMI dan mendapatkan kontrol penuh atas smelter-nya. Nilai akuisisi ini setara dengan US$ 7.414 per ton nikel.

Menurut Juan, angka investasi HRUM untuk mengakuisisi smelter IMI lebih rendah dari harga rata-rata akuisisi sejenis saat ini yang mencapai US$ 9.889 per ton. Lebih lanjut, kinerja keuangan IMI akan dikonsolidasikan sepenuhnya ke dalam laporan keuangan HRUM mulai kuartal III-2023

“Kami meyakini akuisisi ini akan menjadi sentimen positif bagi HRUM, karena akan membantu HRUM memperkuat posisinya di sektor mineral,” kata Juan.

Juan memperkirakan HRUM akan mencatatkan laba yang lebih besar dari bisnis nikelnya di semester II-2023. Perkiraan ini dengan menimbang tambang nikel dan smelter kedua milik HRUM diperkirakan akan mulai beroperasi pada paruh kedua 2023.

Sebelumnya, HRUM telah mengisyaratkan smelter keduanya dengan total kapasitas 57 kilo ton per tahun, akan memulai aktivitas produksi pada kuartal IV-2023.

Prospek HRUM juga ditunjang oleh bisnis utamanya, yakni tambang batubara. Juan merevisi perkiraan volume penjualan batubara HRUM menjadi 7 juta ton, dari sebelumnya 5,4 juta ton. Revisi ini terutama karena produksi batubara yang lebih tinggi dari perkiraan pada semester I-2023.

 
HRUM Chart by TradingView

Juan juga menyesuaikan asumsi harga nikel untuk tahun 2023 dan 2024 masing-masing menjadi US$ 22.500 per ton dan US$ 22.000 per ton. Dalam jangka panjang, Juan memproyeksi harga nikel akan berada di level US$ 20.500 per ton.  

Tahun ini, Juan memproyeksi HRUM akan membukukan pendapatan senilai US$ 907 juta dengan laba bersih US$ 263 juta.

Dus, Juan mempertahankan rekomendasi buy saham HRUM dengan target harga Rp 2.500 per saham. Target harga ini menyiratkan price to earnings (P/E) ratio 2024 sebesar 10,4 kali. Adapun risiko dari rekomendasi ini yakni merosotnya harga komoditas dan perubahan regulasi.

Pada perdagangan Senin (16/10), saham HRUM ditutup menguat 2,10% ke level Rp 1.705 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari