KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek reksadana indeks dinilai tetap positif di tengah rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan saham
high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meski demikian, ketidakpastian pasar saham Indonesia dalam jangka pendek masih menjadi perhatian pelaku industri. Berdasarkan data PT Infovesta Utama (Infovesta), Dana kelolaan atau
asset under management (AUM) reksadana indeks sebesar Rp 17,08 triliun per Agustus 2026. Nilai ini turun tipis sebesar 3,50% dibandingkan posisi Agustus 2026 yang mencapai Rp 17,70 triliun. Baca Juga: BEI Akan Keluarkan 82 Saham HSC dari IHSG, Volatilitas Berpotensi Menurun? Total dana kelolaan tersebut berasal dari 65 produk reksadana indeks yang dikelola oleh 22 manajer investasi (MI). Dari total tersebut, hampir separuhnya adalah reksadana ABF IBI Fund yang mengacu pada indeks obligasi pemerintah dengan nilai mencapai Rp 7,76 triliun. Kemudian ada reksadana indeks saham yang mencapai Rp 9,3 triliun. Di sisi lain, ada juga ETF yang berbasis indeks dengan nilai mencapai Rp 8,8 triliun. Jika total AUM dirinci lagi, berikut adalah urutan AUM reksadana indeks di sejumlah perusahaan. Bahana TCW Investment Management menjadi pengelola reksadana indeks dengan AUM terbesar, yakni Rp 7,97 triliun atau sekitar 47% dari total industri. Posisi berikutnya ditempati BNP Paribas Asset Management dengan dana kelolaan Rp 3,03 triliun dan Danareksa Investment Management sebesar Rp 1,94 triliun.
Baca Juga: Menakar Dampak Dikeluarkannya Saham HSC terhadap Pergerakan IHSG Selanjutnya, Panin Asset Management mencatatkan AUM reksadana indeks sebesar Rp 1,34 triliun, diikuti oleh Syailendra Capital sebesar Rp 860 miliar dan Batavia Prosperindo Aset Manajemen sebesar Rp 730 miliar. Sementara itu, dana kelolaan pada 16 manajer investasi lainnya masing-masing berada di bawah Rp 250 miliar. Menurut Head of Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana, keputusan pengeluaran saham HSC ke portofolio reksadana indeks terbilang masih terbatas. "Tidak ada reksadana indeks yang mengacu langsung ke IHSG, acuan yang dipakai adalah IDX30, LQ45, SRI KEHATI, Pefindo, dan sejenisnya," ujarnya kepada Kontan, Senin (26/10/26). Dengan begitu, perusahaan MI baru akan melakukan perombakan portofolio jika saham HSC juga dikeluarkan dari indeks yang menjadi acuan produknya. Selain itu, penyesuaian portofolio tersebut dapat dilakukan mengikuti periode
rebalancing rutin indeks terkait. Lebih lanjut, Infovesta justru melihat peluang positif bagi reksadana indeks jika indeks acuan makin mencerminkan saham-saham likuid yang dapat dibeli investor. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memudahkan reksadana indeks mengikuti kinerja indeks acuannya dengan
tracking error yang lebih kecil. "Ini mendukung tren minat investor ke produk pasif berbiaya rendah, terutama lewat platform digital. Tantangannya tetap pada likuiditas saham konstituen dan biaya transaksi saat rebalancing," ujarnya. Kendati dampak pengeluaran HSC dari perhitungan IHSG dinilai tidak akan memberikan dampak langsung bagi portofolio reksadana indeks perusahaan MI, sejumlah perusahaan mengaku tetap melakukan strategi untuk menjaga kinerja.
Baca Juga: Intip Syarat Lengkap Agar Saham HSC Agar Bisa Kembali Masuk IHSG PT Sinarmas Asset Management (Sinarmas AM) yang mengaku akan melakukan penyesuaian portofolio secara terukur sesuai dengan perubahan metodologi dan komposisi indeks acuan yang ditetapkan BEI. "Proses rebalancing akan mempertimbangkan likuiditas pasar, biaya transaksi, serta potensi dampak terhadap harga saham agar tracking error tetap terkendali," ujar Head of Equity Sinarmas Asset Management, Donny Primananda kepada Kontan, Senin (26/10/26). Selain itu, pengelolaan portofolio juga akan dilakukan sesuai dengan ketentuan investasi dan prinsip pengelolaan risiko dengan tetap memprioritaskan menjaga kinerja reksadana indeks agar tetap mereplikasi indeks acuran secara optimal. Adapun Sinarmas AM mencatatkan AUM reksadana indeks adalah sebesar Rp 50 miliar untuk periode berjalan Oktober 2026. Donny melihat instrumen ini masih memiliki daya tarik untuk investasi jangka panjang, terutama bagi investor yang mengutamakan diversifikasi, transparansi, dan efisiensi biaya. Di sisi lain, Sinarmas AM juga melihat instrumen ini masih memiliki prospek yang positif dalam jangka menengah hingga jangka panjang. Namun, dalam jangka pendek, pasar masih dibayangi ketidakpastian terkait gagasan
Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar saham Indonesia. Sejalan dengan kondisi ini, kejelasan kebijakan dan evaluasi MSCI diharapkan dapat menjadi katalis positif bagi pemulihan kepercayaan investor, khususnya bagi investor asing. Selain itu, valuasi pasar saham Indonesia yang saat ini berada pada level relatif rendah dibandingkan rata-rata historisnya dinilai berpotensi membuka peluang investasi menarik setelah ketidakpastian mereda. Oleh karena itu, Sinarmas AM juga akan berfokus pada pengelolaan portofolio yang optimal, menjaga
tracking error, serta menangkap peluang pertumbuhan dana kelolaan seiring dengan membaiknya sentimen pasar. Baca Juga: Usai MSCI, FTSE akan Depak Saham Konsentrasi Tinggi, Cek Saham HSC & Konstituen FTSE Sementara itu, Direktur Batavia Prosperindo Asset Management Eri Kusnadi mengatakan pengeluaran saham dari HSC tidak serta-merta menghilangkan saham tersebut dari perdagangan di bursa. Menurutnya, perusahaan telah memiliki indikator tersendiri untuk menilai likuiditas dan fundamental perusahaan sebelum isu HSC muncul. Dengan demikian, saham yang masuk HSC masih dapat dinilai layak investasi jika memenuhi parameter tertentu. Sebaliknya, saham yang tidak masuk HSC juga belum tentu aktif diperdagangkan.
Di sisi lain, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menyebut pihaknya tidak menyiapkan strategi khusus terkait isu HSC. Pemilihan saham di Panin AM mengacu pada pendekatan
value investing sehingga saham dengan valuasi tinggi tidak masuk ke dalam portofolio berdasarkan pendekatan tersebut. Oleh sebab itu, kata Rudianto, status HSC bukan menjadi persoalan utama bagi saham yang memiliki valuasi murah atau wajar. Adapun reksadana indeks Panin AM menggunakan IDX30 dan SRI KEHATI sebagai acuan mereka. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News