Menakar Dampak Dikeluarkannya Saham HSC terhadap Pergerakan IHSG



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wacana Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengeluarkan saham High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak serta merta mencerminkan kondisi pasar yang sesungguhnya.

Bahkan kebijakan ini berpotensi meningkatkan volatilitas.

Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi menjelaskan kriteria perhitungan HSC mengacu kepemilikan yang terkonsentrasi di beberapa pihak, ditambah adanya price impact ratio tertentu dan/atau adanya concern dari pengawasan.


“Kalau kriteria-kriteria tersebut sudah tidak terpenuhi, akan masuk kembali dalam perhitungan IHSG. HSC berdasarkan price impact ratio secara reguler akan dievaluasi setiap tiga bulan sekali,” jelasnya, Selasa (20/10/2026). 

Baca Juga: BEI Siapkan Dua Inisiatif Baru, Saham HSC Bakal Dikeluarkan dari IHSG

Secara terpisah, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan secara definisi, HSC merupakan sejumlah persentase tertentu dimiliki oleh sejumlah pemegang saham tertentu. 

“Metodologi penetapan HSC memang tidak dibuka kepada publik supaya tidak bisa disesuaikan dan tidak bisa dipenuhi,” kata Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Senin (19/10/2026). 

Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi mengatakan pengeluaran saham HSC lebih berdampak pada komposisi dan karakteristik indeks. 

Dalam risetnya, Wafi menjelaskan apabila 80 saham HSC dikeluarkan sejak 31 Desember 2025, IHSG akan berada di level 5.200 pada 19 Oktober 2026. Angka tersebut sekitar 4% lebih tinggi dibandingkan level aktual. 

Wafi menjelaskan, 80 saham HSC memiliki bobot sekitar 18,1% dalam IHSG. Namun, kontribusi kelompok saham tersebut terhadap penurunan indeks sepanjang tahun ini hanya sekitar 26%, sedangkan sisanya berasal dari saham-saham lain.

Baca Juga: Tiga Emiten Bank Masuk Daftar Saham HSC, Cek Daftarnya!

Dalam catatan KISI, 80 saham HSC turun 52% sepanjang tahun berjalan dan sisanya 40% berasal dari saham lain. Namun, kontribusi 80 saham tersebut terhadap penurunan IHSG hanya 970 poin dari total penurunan 3.700 poin, atau sekitar 26%.

Adapun sebanyak 74% sisanya berasal dari saham-saham yang tetap berada dalam indeks. Ambil contoh, BBCA saja menyumbang penurunan 300 poin, setara dengan kontribusi saham HSC mana pun. 

“Pelemahan IHSG pada 2026 lebih banyak dipengaruhi aksi jual investor asing terhadap saham berkapitalisasi besar, bukan semata-mata oleh kelompok saham HSC,” tulisnya dalam riset yang dipublikasikan, Selasa (20/10/2026).

Di sisi valuasi, kata Wafi, pengeluaran saham HSC diperkirakan membuat rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (P/E) historis IHSG turun dari 10,9 kali menjadi 9,4 kali. Ini terjadi tanpa perubahan harga saham. 

Namun dia mengingatkan volatilitas IHSG justru berpotensi meningkat. Simulasi historis tiga bulan terakhir menunjukkan volatilitas IHSG tanpa saham HSC mencapai 31% secara tahunan, dibandingkan 29% pada indeks aktual.

“Saham dengan free float rendah dan frekuensi transaksi terbatas sebelumnya turut meredam pergerakan indeks. Setelah dikeluarkan, IHSG akan lebih mencerminkan pergerakan saham likuid yang menjadi sasaran transaksi investor asing,” jelasnya. 

Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto bilang perubahan yang lebih penting terletak pada faktor-faktor yang menggerakkan indeks, bukan pada level indeks itu sendiri. 

Baca Juga: BEI Perluas Daftar Saham HSC Jadi 63 Saham Masuk, Ini yang Perlu Dicermati Investor?

Berdasarkan perhitungan sederhana yang dilakukan Rully dengan menggunakan porsi kapitalisasi pasar penuh dari kelompok saham yang tersisa, bobot empat bank terbesar akan meningkat dari 16,1% menjadi sekitar 22,4%.

“Dengan demikian, IHSG akan semakin bertumpu pada saham-saham berkapitalisasi besar yang tidak masuk dalam daftar HSC, khususnya sektor keuangan,” tulisnya dalam riset tertanggal 20 Oktober 2026. 

Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai pengeluaran saham HSC dapat membuat IHSG lebih representatif karena mengurangi dominasi saham berkapitalisasi besar yang kepemilikannya terkonsentrasi. 

“Langkah ini cukup mendesak untuk memperkuat kredibilitas indeks dan kepercayaan investor, tetapi tidak otomatis membuat IHSG stabil atau naik,” jelasnya kepada Kontan, Selasa (20/10). 

Menurutnya, IHSG tetap relevan sebagai indikator utama meski cakupannya berubah. Namun untuk membaca kondisi pasar secara utuh, kata Andrey,  investor tetap perlu melihat jumlah saham naik-turun, Nila transaksi dan indeks sektoral. 

“Namun metodologi serta mekanisme transisinya juga harus transparan agar perubahan komposisi tidak disalah artikan sebagai pergerakan pasar,” kata dia. 

Baca Juga: Ada 79 Saham HSC Terbaru Oktober 2026: FILM dan MGLV Keluar dari Daftar

Andrey bilang Kebijakan ini mendukung IHSG, LQ45, IDX30, dan IDX80 menjadi tolok ukur yang lebih sehat. Namun tetap, perbaikan membutuhkan keterbukaan, peningkatan free float dan penegakan aturan yang konsisten. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News