Menakar Durasi Tren Pelemahan Valas Asia dan Indikator Penentu pada Semester II-2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap mata uang regional semakin pekat setelah keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) memicu pelemahan berjamaah di pasar valuta asing Asia sepanjang pekan ini.

Berdasarkan data Trading Economics pada perdagangan per Jumat (10/7/2026), posisi mata uang Garuda terpantau melemah 0,48% dalam sepekan hingga membawa USD/IDR bertengger di level Rp 18.080,0.

Koreksi mingguan juga menjalar secara masif ke negara-negara sekawasan dengan kenaikan grafik USD/TWD sebesar 0,55%, USD/THB melonjak 0,39%, USD/JPY terkoreksi 0,20%, serta USD/INR ikut terdepresiasi 0,15%.


Meskipun USD/KRW mampu menguat 1,97% di zona hijau, USD/CNY melemah tipis 0,04%, USD/SGD terapresiasi 0,01%, dan USD/MYR terkikis 0,02% secara mingguan.

Baca Juga: Valas Asia Fluktuatif, Analis Sebut Penguatan Masih Terbatas

Laju indeks dolar AS yang kokoh mencerminkan kuatnya dominasi mata uang global tersebut.

Para pengamat pasar menilai kejatuhan nilai tukar kawasan kali ini dipicu oleh kombinasi sentimen geopolitik dan arah kebijakan moneter AS yang bertindak sebagai triple punch.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, melihat bahwa arah pergerakan ke depan akan sangat bergantung pada eskalasi konflik di Timur Tengah serta dampaknya pada harga energi dunia.

"Saya lihat pelemahan ini masih lebih bersifat sementara akibat eskalasi geopolitik," ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (10/7/2026).

Baca Juga: Valas Asia Bergerak Terbatas, Ini Strategi Investor Hadapi Volatilitas

Namun, tekanan depresiasi ini berisiko memperpanjang tren penurunan hingga akhir tahun jika respons moneter The Fed terbukti jauh lebih ketat dari perkiraan awal pasar.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Wahyu Laksono, menambahkan bahwa dominasi dolar global saat ini merefleksikan kekuatan fundamental yang persisten.

"Jika sinyal moneter ketat di AS terus bertahan dan ketegangan geopolitik tidak kunjung reda, tekanan depresiasi ini berisiko memperpanjang tren pelemahan hingga akhir tahun, meskipun intervensi bank sentral masing-masing negara akan membatasi kejatuhan yang terlalu dalam." kata Wahyu kepada Kontan, Jumat (10/7/2026).

Memasuki Semester II-2026, kondisi pasar valas di kawasan Asia diproyeksikan mulai menunjukkan polarisasi kekuatan yang cukup kontras antarnegara.

Investor disarankan untuk bersikap lebih selektif dalam menaruh modal dengan mencermati mata uang yang memiliki basis ekonomi kokoh.

"Karakteristik kebijakan moneter MAS (Monetary Authority of Singapore) yang berbasis nilai tukar (Nominal Effective Exchange Rate - NEER) membuat SGD cenderung memiliki ketahanan (resilience) paling kuat dibandingkan mata uang Asia lainnya saat dolar AS perkasa," papar Wahyu.

Di sisi lain, potensi terjadinya pembalikan arah grafik secara tajam kini mulai membayangi pergerakan kurs yen Jepang yang posisinya sudah terlampau murah.

"JPY sangat menarik dicermati karena setiap rilis data ekonomi AS yang mendingin atau adanya potensi intervensi mendadak dari Bank of Japan (BoJ) dapat memicu pembalikan arah (reversal) yang sangat tajam akibat aksi short-covering," pungkas Wahyu.

Baca Juga: Valas Asia Masih Terbebani Sentimen Geopolitik Timur Tengah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: