KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengaruh konflik Timur Tengah terhadap industri manufaktur juga dirasakan oleh para pengusaha alas kaki nasional baik yang berorientasi ke penjualan domestik maupun ekspor. Ketua Umum Himpunan Pengusaha Alas Kaki Nusantara (Hipan), David Chalik mencermati sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, industri alas kaki domestik cenderung lesu. Ditambah, imbas perang Timur Tengah yang melibatkan Israel-Amerika Serikat (AS) vs Iran, ia menyebut sepekan terakhir ini harga komponen produksi alas kaki sudah meningkat hingga 20% dari harga normal.
"Kondisi produksi dalam negeri saat ini, bahan pokok sudah mengalami kenaikan. Untuk kemikal, lem saja naik sekitar 10-20%. Outsole juga ada kenaikan 10%," ujar David kepada KONTAN, Kamis (9/4/2026). Peningkatan harga komponen untuk membuat alas kaki, katanya, menjadi tantangan yang saat ini memang dirasakan para pengusaha. Untuk itu, David menyebut produsen alas kaki tetap membutuhkan bahan pendukung yang perlu diimpor seperti dari China.
Baca Juga: Aprisindo: Investasi Industri Alas Kaki Belum Mengalir Optimal "Komponen pendukung jangan sampai sulit masuk ke Indonesia, karena kami sebagai produsen juga perlu," ujarnya. Ia menambahkan, meski harga bahan baku terkerek, di segmen sendal tak sedikit produsen yang melaporkan penjualan cukup stabil akhir-akhir ini. Sementara, penjualan persepatuan saat ini dinilai lebih lesu. Seiring kondisi ini, menurutnya, kondisi terberat yang harus diambil ialah menaikkan harga jual ke depan. Namun, David bilang para produsen akan berupaya untuk menjaga margin tetap tipis. "Penyesuaiannya itu mungkin hanya dari komponen, atau mungkin menurunkan margin," ujarnya. Setali tiga uang, Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) telah merasakan kenaikan harga bahan baku impor lantaran terkereknya biaya dalam proses impor, meskipun tak merinci kisaran kenaikan. Untuk itu, Direktur Eksekutif Aprisindo, Yoseph Billie Dosiwoda mengatakan, saat ini para pengusaha persepatuan khawatir dan bersikap wait and see imbas konflik Timur Tengah. "Yang dikhawatirkan dari perang ini adalah dampaknya kepada energi, seperti gas, listrik, dan bahan bakar minyak (BBM) untuk kebutuhan industri manufaktur," jelasnya kepada KONTAN saat dihubungi terpisah.
Baca Juga: Investasi Alas Kaki: Ini 2 Tantangan Besar yang Wajib Diwaspadai 2026! Meskipun, lanjut Billie, untungnya hingga saat ini di Indonesia belum terjadi kenaikan harga komoditas yang penting untuk sektor rumah tangga seperti BBM. Ia pun berharap tidak terjadi panic buying untuk komoditas yang dapat memicu pembatasan pembelian di ruang publik. "Jika terjadi, hal ini nantinya akan berdampak kepada industri manufaktur, termasuk alas kaki," imbuhnya. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Aprisindo mengharapkan adanya insentif fiskal dari pemerintah, seperti berupa diskon harga gas dan listrik untuk industri. Dengan pasar ekspor alas kaki yang masih dijawarai Amerika Serikat (AS), Billie melihat prospek ekspor alas kaki Indonesia tahun ini masih bisa bertumbuh meskipun moderat. "Harapannya, ekspor juga tidak menurun di tengah situasi tarif AS yang juga belum jelas. Jadi kami pasang target minimal sama atau tidak mengurangi capaian ekspor pada 2025," jelasnya.
Billie menambahkan, berdasarkan data yang dihimpun Aprisindo, nilai ekspor alas kaki Indonesia ke AS sepanjang 2025 sebesar US$ 2,8 miliar. Di level ini, kinerja ekspor alas kaki ke Negeri Paman Sam meningkat 13,36% year-on-year dari 2024 yang sebesar US$ 2,47 miliar. Sementara itu, secara keseluruhan, Aprisindo mencatat nilai ekspor alas kaki pada 2025 sebesar US$ 7,97 miliar, tumbuh 9,54% yoy dari tahun sebelumnya sebanyak US$ 7,28 miliar.
Baca Juga: Kemenperin Genjot Daya Saing Sentra IKM Alas Kaki di Tengah Tekanan Pasar Global Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News