KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir di bawah level 7.000 setelah ditutup melemah 0,68% atau turun 60,21 poin ke posisi 6.956,66 pada Selasa (14/1). Tekanan datang dari aksi jual beli bersih atau net sell investor asing sebesar Rp 633,22 miliar di seluruh pasar. Sepanjang tahun berjalan ini, asing sudah mencatatkan net sell Rp 3,32 triliun. Mayoritas saham emiten big caps ambruk, terutama saham-saham perbankan. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi 2,26% dan mengikis IHSG sebesar 11,17 poin.
Menakar Peluang January Effect
Kalau dicermati, sepanjang tahun berjalan ini IHSG sudah terkoreksi 1,74% per Senin (14/1). Tekanan pada indeks komposit ini semakin memudarkan peluang terjadinya January Effect. Dalam lima tahun terakhir, IHSG hanya menguat sekali pada 2022. Pada kala itu, IHSG berhasil menguat 0,78% sepanjang Januari 2022. Nafan mencermati pada Januari 2020 dan 2021, IHSG ditekan karena pandemi Covid-19. Sementara pada Januari 2023 dan 2024, IHSG ditekan oleh kekhawatiran terjadinya hard landing di AS. “Sepanjang tahun berjalan ini IHSG sudah negatif, sehingga rasanya January Effect berpeluang tidak jadi. Kecuali IHSG pergerakan IHSG masih positif sepanjang Januari ini,” jelas dia. Baca Juga: Ini Rekomendasi Saham Migas Pilihan di Tengah Harga Minyak yang Memanas di Awal 2025 VP Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menyebut kondisi tekanan pengetatan suku bunga belakangan ini mulai memudarkan January Effect. Ini sebabkan oleh target relaksasi kebijakan ini semakin mengecil yang disebabkan kekhawatiran kebijakan Donald Trump terhadap perlawanan akan inflasi dan juga arah kebijakan Thed Fed yang masih akan hawkish. “Hal ini yang membuat investor menahan diri dari pasar saham, tercatat asing juga masih outflow sebesar Rp 1,53 triliun di seluruh perdagangan,” ucap Audi. Namun Audi memproyeksikan tekanan akan mulai berangsur membaik seiring dengan rilis kinerja tahun buku 2024. Dengan catatan, hasilnya sesuai dengan ekspektasi pasar. Sukarno menimpali tekanan jual akan terus berlangsung hingga saham blue chip yang dijual investor asing sudah berada di harga yang ideal dan valuasinya sudah tergolong murah.AADI Chart by TradingView