Menakar Kelayakan Saham Big Banks Kala BI Rate Naik, Berikut Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) membawa tantangan baru untuk sektor perbankan. Namun, secara jangka panjang saham-saham di sektor ini berpotensi kembali menarik minat asing seiring menguatnya stabilitas nilai tukar. 

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), Rabu (20/5/2026), BI memutuskan untuk menaikkan BI-rate sebanyak 50 bps menjadi 5,25%. Keputusan ini sejalan dengan proyeksi pasar, mengingat tekanan pada nilai tukar rupiah kian besar beberapa waktu terakhir. 

Di satu sisi, respons positif pasar terhadap keputusan ini terlihat dari penguatan rupiah di pasar spot sebesar 0,29% secara harian ke level Rp 17.654. Namun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rupanya masih mencatatkan koreksi 0,82% menjadi 6.318,5. 


Kendati begitu, kelompok bank dengan kapitalisasi pasar terbesar alias big banks menunjukkan kinerja beragam. 

Baca Juga: Bank bjb Tawarkan Sukuk ST016, Imbal Hasil Capai 6,25%

Secara harian, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berhasil menguat 2,42% menjadi Rp 4.230. Di saat yang sama, bank juga mencatatkan net buy asing sebesar Rp 217,73 miliar. Namun, sejatinya basis harga BMRI beberapa hari terakhir memang relatif rendah sejak ex date 11 Mei 2026 lalu. 

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga berhasil menutup perdagangan dengan penguatan, yakni sebesar 0,42% secara harian menjadi Rp 5.975. Namun, asing nampaknya belum sepenuhnya kembali ke saham ini, lihat saja catatan net sell BBCA yang mencapai Rp 375,75 miliar dalam sehari. 

Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ditutup stagnan dari perdagangan kemarin di harga Rp 3.040, dengan catatan net sell asing Rp 221,01 miliar. Adapun saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terkoreksi 0,26% ke harga Rp 3.800 dan mencatatkan net sell asing Rp 169,98 juta. 

Senior Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas bilang saham perbankan memang bakal tertekan akibat kenaikan BI Rate, tetapi koreksi harga ini diprediksi hanya berlaku untuk jangka pendek. “Itu karena ada kekhawatiran perlambatan kredit,” kata Sukarno kepada Kontan, Rabu (20/5/2026). 

Jika kebijakan moneter BI ini efektif menjaga rupiah dan menahan capital outflow, ia bilang sentimen terhadap big banks justru bakal membaik. Apalagi, kalau arus dana asing kembali masuk ke pasar dalam negeri karena stabilitas rupiah dan daya tarik imbal hasil tinggi domestik. 

Baca Juga: BTN Telah Salurkan Kredit Program Perumahan Rp 2,97 Triliun hingga Awal Mei 2026

Namun, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengingatkan, kenaikan BI Rate juga berisiko mendorong naik biaya dana (cost of fund/CoF) dan menekan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) bank. Belum lagi, persaingan likuiditas yang menurut Nico bakal lebih ketat ke depannya. 

Nico bilang pada dasarnya daya beli dan konsumsi masyarakat bakal otomatis tertekan begitu suku bunga naik, ekspansi perusahaan juga bisa tertahan jika suku bunga bank tinggi. Pada gilirannya, perekonomian berisiko melambat, dan kualitas kredit menurun. 

“Kredit bermasalah berpotensi naik, terutama mereka yang menggunakan skema floating rate. Hal ini membuat bank juga akan lebih hati-hati dalam menyalurkan kreditnya,” jelas Nico. 

Namun Nico melihat langkah BI menaikkan suku bunga acuan ini pada dasarnya tak terhindarkan. Toh, saat ini Indonesia memang perlu mendorong daya tarik di mata investor asing. Ia bilang itu wajar, karena sebagai negara emerging market, volatilitas dan kerentanan Indonesia memang lebih tinggi. 

“Menaikkan suku bunga merupakan jalan terakhir untuk bisa menjaga rupiah,” imbuh Nico. 

Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya sepakat. Menurutnya, saat ini pasar sedang sangat sensitif terhadap arah rupiah dan aliran dana asing. Maka, stabilitas nilai tukar menjadi faktor penting bagi pemulihan kepercayaan investor terhadap sektor perbankan. 

Dalam kondisi ini, Andrey bilang big banks tetap menjadi pilihan. Pasalnya, bank-bank ini mempunyai basis dana murah yang kuat, likuiditas yang solid, serta imbal hasil dividen yang menarik. "Big banks tetap menjadi pilihan utama karena lebih defensif ketimbang bank second liner ataupun bank digital," ujarnya.

Dengan kondisi suku bunga tinggi, Andrey bilang investor sebaiknya fokus pada kualitas pendanaan, kemampuan menjaga CoF, stabilitas laba, dan kualitas aset, alih-alih mengejar pertumbuhan agresif. Ia merekomendasikan buy untuk seluruh big banks, dengan target harga BMRI di Rp 5.920, BBCA di Rp 8.650, BBRI di RP 4.000, dan BBNI di Rp 5.200. 

Kalau Sukarno merekomendasikan accumulative buy untuk saham big banks, dengan target harga BMRI di Rp 5.100, BBCA di Rp 7.200, BBRI di Rp 4.600, dan BBNI di Rp 3.700. 

Senada, Nico bilang big banks memang menjadi pilihan karena fundamental yang solid dan valuasi yang menarik. Namun, investasi di saham perbankan, kata Nico, untuk saat ini sebaiknya difokuskan untuk jangka panjang. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News