KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) ditutup menguat 2,71% ke level 5.902,37 pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Ini melanjutkan tren penguatan yang telah terjadi pada perdagangan sebelumnya. Meski IHSG terus bergerak di zona hijau, investor asing masih membukukan aksi jual bersih atau net sell dalam jumlah signifikan. Berdasarkan data perdagangan, nilai net sell asing di seluruh pasar mencapai Rp 3,13 triliun pada Rabu (10/6/2026). Kondisi ini mengindikasikan bahwa penguatan IHSG saat ini lebih banyak ditopang oleh aktivitas investor domestik yang mampu menyerap tekanan jual dari investor asing.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata mengatakan investor domestik terbukti mampu menjadi penyangga pasar dalam jangka pendek, seperti yang terlihat dari relief rally IHSG beberapa hari terakhir meskipun asing masih mencatat
net sell.
Baca Juga: Harga Emas Anjlok ke Titik Terendah Dua Bulan, Pasar Cemas The Fed Kerek Suku Bunga Namun secara historis, kapasitas investor lokal untuk menyerap tekanan jual asing tetap memiliki batas, terutama karena ukuran dana asing di saham-saham big caps masih jauh lebih besar. "Dalam jangka pendek lokal bisa menahan pasar agar tidak jatuh terlalu dalam, tetapi untuk mendorong IHSG kembali ke tren naik yang kuat dan berkelanjutan, kita tetap membutuhkan kembalinya arus dana asing," kata Liza kepada Kontan, Rabu (10/6/2026). Liza bilang saat ini peran institusi domestik jauh lebih penting dibanding investor ritel. Dana pensiun, asuransi, manajer investasi, perbankan, hingga institusi BUMN memiliki kapasitas yang cukup besar untuk menstabilkan pasar ketika valuasi sudah sangat murah. Namun perlu diingat bahwa sepanjang tahun ini asing telah membukukan net sell sekitar Rp 75 triliun, sehingga tidak realistis mengharapkan investor domestik terus menerus menggantikan seluruh likuiditas yang keluar dari investor global. Dus, kemampuan lokal lebih tepat dilihat sebagai shock absorber daripada pengganti permanen dana asing. Disisi lain, Liza tetap berpandangan saat ini dana dari institusi lokal berpeluang besar untuk masuk ke pasar saham, karena banyak saham blue chip Indonesia saat ini sudah kembali ke level valuasi yang sangat menarik, bahkan sebagian telah kembali ke area harga sebelum reli besar IHSG menuju puncaknya. Bagi investor institusi domestik dengan horizon jangka panjang, kondisi seperti ini justru mulai membuka peluang akumulasi. Namun yang lebih penting adalah apabila pemerintah dan regulator berhasil memperbaiki persepsi risiko Indonesia, maka investor asing berpotensi kembali masuk ke saham-saham big caps yang memiliki likuiditas besar.
Baca Juga: Suku Bunga Acuan Naik, Emiten Semen Hadapi Tekanan Berlapis "Pada akhirnya, faktor yang menentukan bukan murah atau mahalnya valuasi semata, melainkan kembalinya kepercayaan pasar terhadap kredibilitas kebijakan, stabilitas fiskal, dan kepastian regulasi Indonesia," tambah Liza. Secara terpisah, Staf Ahli Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI), Bambang Sri Mulyadi berpendapat kondisi IHSG saat ini dapat dimanfaatkan oleh sebagian pengelola dana pensiun yang memiliki likuiditas memadai untuk masuk ke pasar saham dan mengambil keuntungan segera. Bambang bilang penguatan IHSG belakangan ini kemungkinan dipicu oleh ekspektasi kenaikan suku bunga acuan yang diharapkan dapat memperkuat nilai tukar rupiah. Tapi, ia mengingatkan masih terlalu dini untuk meyakini indeks saham akan melanjutkan kenaikannya secara berkelanjutan. "Betul level pasar saham saat ini sudah mulai menarik. Bila didukung kondisi dan kebijakan pemerintah semakin baik, tentu akan meningkatkan kepercayaan masyarakat dan investor," ujar Bambang kepada Kontan, Rabu (10/6/2026). Bambang juga menjelaskan sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan dana pensiun sebelum masuk atau menambah porsi investasi di pasar saham. Pertimbangan utama adalah tingkat risiko saham yang cenderung tinggi dan berfluktuasi. Selain itu, aspek likuiditas juga menjadi perhatian, termasuk kesesuaian karakteristik saham dengan kebutuhan likuiditas dana pensiun dalam memenuhi kewajibannya.
Baca Juga: Menanti Data Inflasi AS, Begini Proyeksi Rupiah pada Perdagangan, Kamis (11/6) Disisi lain, Bambang menyampaikan bahwa dana pensiun tidak menerapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) karena tidak memiliki kewajiban maupun sumber dana dalam mata uang dolar Amerika Serikat. Bambang juga bilang porsi investasi dana pensiun di saham relatif tidak besar. Oleh karena itu, penguatan IHSG saat ini kemungkinan lebih banyak didorong oleh aktivitas pembelian dari investor institusi lain, seperti perusahaan asuransi, BPJS, dan lembaga keuangan lainnya yang mulai meningkatkan eksposur ke saham seiring valuasi pasar yang dinilai sudah lebih menarik setelah mengalami koreksi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News