KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investor asing terus melepas saham Himbara dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Meski konerja bank pada triwulan I 2026 solid, belum mampu menahan arus keluar dana yang besar. BBCA mencatat tekanan paling berat dengan
net sell asing Rp 24,27 triliun sejak awal hingga Jumat (24/4) alias year to date. membuat sahamnya turun 25%. Pada akhir pekan lalu, saham BBCA ditutup melemah 5,84% ke Rp 6.050, level terendah sejak tahun 2021 atau periode pandemi Covid-19. Dalam satu hari,
net foreign sell (NFS) di saham ini tercatat mencapai Rp2,1 Triliun.
Analis Trimegah Sekuritas, Jonathan Gunawan, menilai tekanan tersebut tidak hanya terjadi pada BBCA, melainkan merata di seluruh bank besar. Tengok saja, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melemah 2,81% ke level Rp 4.500 dengan jual bersih investor asing mencapai Rp 655 miliar. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga turun 2,85% menjadi Rp3.070 dengan NFS Rp 447,3 miliar. Data Kustodian Sentra Efek Indonesia KSEI per 30 Maret 2026 menunjukkan penurunan kepemilikan asing di seluruh b
ig banks dibanding akhir tahun lalu. BBNI turun 8,09%, BBCA 7,04%, BMRI 2,26% dan BBRI 1,4%. Analis RHB Sekuritas, Andrey Wijaya menilai, tekanan saham perbankan lebih dipicu kekhawatiran pasar terhadap risiko sektor, bukan pelemahan fundamental. Sentimen negatif terutama berasal dari ketidakpastian kebijakan dan potensi penugasan pemerintah pada bank Himbara yang dinilai dapat memengaruhi kualitas aset, margin, dan disiplin kredit. Meski dampaknya belum terlihat, pasar sudah bersikap antisipatif. “BBCA juga ikut terkoreksi karena sektor perbankan menjadi indikator sentimen makro. Kondisi
risk-off menyebabkan investor mengurangi eksposur secara luas, termasuk pada saham berfundamental kuat,” paparnya, Jumat (24/4).
Baca Juga: Pasti! Saham Blue Chip Bank Ini Akan Bayar Dividen Tiap 3 Bulan, Rasio Dividen Naik Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai arus keluar investor asing lebih dipicu faktor domestik, terutama setelah MSCI membekukan tinjauan indeks pada Mei 2026 yang memunculkan kekhawatiran Indonesia berisiko turun ke frontier market akibat isu likuiditas dan intervensi pasar. Sentimen negatif juga diperkuat penolakan bantuan IMF di tengah tekanan rupiah, yang dipersepsikan meningkatkan risiko tanpa jaring pengaman global dan mendorong kenaikan premi risiko Indonesia. Jonathan berpendapat investor asing sedang melakukan penyesuaian portofolio terhadap risiko makro Indonesia di tengah ketidakpastian global. Saham sektor perbankan, terutama
big banks, banyak dilepas karena diposisikan sebagai etalase perekonomian nasional. “Bank itu ibarat jantung yang memompa aliran darah ke seluruh sendi-sendi perekonomian. Apabila prospek makro memburuk, saham perbankan yang akan pertama kali terkena imbas. Kala\\eluruh big banks melemah sejak awal tahun dan disertai
net foreign sell besar. Jadi ini tekanan sektoral, bukan spesifik ke BBCA,” papar Jonathan. Konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel juga belum menunjukkan tanda mereda. Ketidakpastian ini mendorong harga energi tetap tinggi dan menekan ekspektasi pertumbuhan global. Di saat bersamaan, nilai tukar terus melemah. “Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya bagi banyak perusahaan. Dampaknya, pertumbuhan laba emiten secara umum berpotensi melambat,” tambahnya. Selain faktor geopolitik, tekanan juga datang dari perubahan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat global serta review MSCI terhadap pasar saham domestik. Kombinasi faktor ini membuat aliran dana asing cenderung keluar dari pasar berkembang, termasuk Indonesia. “Kalau kita lihat lebih dalam, fundamental BBCA saat ini masih solid. BBCA bahkan berupaya menjaga daya tarik bagi investor melalui kebijakan pembagian dividen interim sebanyak tiga kali dalam setahun,” ujarnya.
Baca Juga: Saham Bank Blue Chip Ini Umumkan Dividen Jumbo,Yield 3X Bunga Deposito Pada kuartal I-2026, BBCA mencatat laba bersih Rp 14,7 triliun atau tumbuh 4% secara tahunan. Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas terbaru, pencapaian laba ini sejalan dengan ekspektasi pasar dan konsensus tahunan. “Laba BBCA tetap
in-line dengan ekspektasi, dengan pendapatan non-bunga yang kuat mampu mengimbangi tekanan pada NIM,” kata analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, dalam risetnya. Pertumbuhan kredit tercatat sekitar 6% secara tahunan, dengan segmen korporasi menjadi penopang utama. Sementara itu, segmen konsumer masih menjadi tantangan, terutama pada pembiayaan kendaraan. Analis juga mencermati indikator risiko secara kuartalan, khususnya pada segmen di luar korporasi. Namun secara tahunan, kualitas aset masih menunjukkan perbaikan, mencerminkan ketahanan portofolio BBCA di tengah kondisi ekonomi yang menantang. “Perbaikan kualitas aset di segmen wholesale mampu mengimbangi pelemahan kredit di segmen ritel, sehingga profil risiko secara keseluruhan masih terjaga,” tulis riset tersebut.
BBCA juga mempertahankan panduan kinerja 2026, termasuk target pertumbuhan kredit 8%–10% dan
net interest margin (NIM) di kisaran 5,4%–5,6%. BRIDS mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp10.900. Valuasi BBCA saat ini sudah berada di bawah rata-rata historis dan mendekati kisaran deviasi bawah dalam beberapa tahun terakhir. “Valuasi saat ini mencerminkan tekanan pasar dan sudah berada di level yang relatif menarik, dengan downside yang dinilai terbatas,” tulis riset BRIDS. Sementara secara teknikal, Ivan Rosanova, analius Binaartha Sekuritas memberikan rekomendasi
buy on weakness. Support Rp 6.175 dan
resistance Rp 6.850. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News