KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham-saham lapis kedua (second liner) diperkirakan tetap menjanjikan terlepas dari adanya
rebalancing indeks FTSE yang turut menyasar sejumlah saham dari kategori tersebut.
Berdasarkan data Google Finance, kineja IDX Small-Mid Cap (SMC) Composite mampu menguat 4,42% dalam sebulan terakhir ke level 403,85 hingga Senin (24/8/2026). Pada saat yang sama, IDX SMC Liquid menguat 5,85% ke level 311,60. Kinerja indeks saham lapis kedua juga bisa bersaing dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat 5,11% ke level 6.501,67 dalam sebulan terakhir. Baca Juga: Pasar Saham BEI Hari Ini Tidak Libur! Cek Rekomendasi Saham untuk Jual/Beli Baru-baru ini pula FTSE Russell mengumumkan bahwa salah satu saham Indonesia yaitu BSDE keluar dari indeks pada kelompok Mid Cap. Selain itu, ada 10 saham yang keluar dari kelompok Small Cap, antara lain BBYB, BJBR, BTPS, LPKR, LPPF, MNCN, PNLF, SILO, SMRA, dan SCMA. FTSE juga menyingkirkan 27 saham Indonesia dari kelompok Micro Cap, contohnya adalah ADHI, ASSA, CARS, DILD, KEEN, MAIN, HEAL, PBID, PTPP, PRDA, ISSP, dan lain-lain. Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, keluarnya sejumlah saham lapis kedua dari indeks FTSE memang berpotensi menekan permintaan dari investor pasif atau fund manager yang menjadikan indeks tersebut sebagai tolok ukur. Namun, hal itu tidak otomatis mengubah fundamental emiten yang bersangkutan. "Bahkan, penguatan IDX SMC Composite dan IDX SMC Liquid menunjukkan investor domestik masih aktif mencari peluang di luar saham big caps," kata dia, Senin (24/8/2026). Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini (24/8), IHSG Berpeluang Menguat Dengan demikian, hingga sisa tahun 2026, saham lapis kedua masih menarik, namun pemilihan sahamnya harus lebih berbasis fundamental, likuiditas, dan katalis perusahaan daripada hanya sekadar status indeks. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menambahkan bahwa saham-saham lapis kedua yang terlempar dari FTSE berpotensi menghadapi tekanan dari sisi outflow dana pasif. Namun, lantaran performa IDX SMC Composite dan SMC Liquid tetap kompetitif terhadap IHSG, ini memperlihatkan bahwa investor domestik masih memiliki ketertarikan terhadap saham lapis kedua. "Saham lapis kedua masih menarik terutama apabila memiliki earnings growth, katalis korporasi, valuasi menarik, dan likuiditas yang memadai," kata dia, Senin (24/8). Di luar rebalancing FTSE, Hari menyebut ada beberapa sentimen lain yang bisa memengaruhi kinerja saham-saham lapis kedua sampai akhir tahun nanti. Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Bank Papan Pengembangan Saat IHSG Reli Salah satunya adalah likuiditas domestik, di mana Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% dan terus memperluas kebijakan insentif untuk mendongkrak likuiditas serta menarik dana asing masuk. Sentimen berikutnya berasal dari pemulihan kinerja keuangan. Jika pertumbuhan ekonomi nasional semakin solid, maka sektor yang berhubungan dengan konsumsi, properti, perbankan, konstruksi, dan industrial dapat menunjukkan perbaikan laba.