KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Kompas100 memasuki kuartal IV-2026 setelah mengalami tekanan berat. Pada penutupan perdagangan Jumat (2/10/2026), indeks ini berada di level 777,037, turun 34,9% sejak awal tahun. Koreksi sedalam itu membuat sebagian pelaku pasar mulai melihat peluang
technical rebound pada sisa tahun ini. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan prospek Kompas100 pada kuartal IV-2026 mulai membuka peluang
technical rebound setelah terkoreksi sekitar 34% sejak awal tahun. Namun, belum terdapat indikasi solid
bullish reversal. Valuasi sejumlah saham memang sudah mengalami
de-rating, tetapi belum bisa dikatakan seluruh indeks sudah sangat murah karena r
isk premium dan tekanan eksternal masih tinggi.
Baca Juga: Harga Logam Mulia Kompak Tertekan, Prospek Oktober Dibayangi Arah Kebijakan The Fed Untuk kuartal IV-2026, strategi yang lebih tepat adalah
buy on weakness dan
stock picking, terutama pada saham dengan fundamental kuat dan valuasi yang sudah tertekan. Beberapa saham yang dapat dicermati antara lain BMRI, BBRI, TLKM, PTBA, dan UNTR. BMRI dan BBRI menarik dari sisi valuasi serta peluang pemulihan sektor perbankan, TLKM relatif defensif, sementara PTBA dan UNTR memiliki katalis dari sektor komoditas dan pertambangan. "Koreksi 34% membuat
risk reward mulai menarik, tetapi murah secara harga belum tentu murah secara risiko. Konfirmasi berikutnya akan sangat bergantung pada stabilisasi rupiah,
foreign flow, dan kinerja emiten pada kuartal III," kata Alrich kepada Kontan, Jumat (2/10/2026). Secara teknikal, area 750–770 menjadi level support Kompas100. Jika indeks mampu kembali ke atas 800–820, peluang pemulihan menuju 850–880 akan terbuka. Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengungkapkan prospek indeks Kompas100 pada kuartal IV-2026 masih akan diwarnai volatilitas, tetapi terdapat peluang terjadinya
technical rebound setelah indeks mengalami koreksi sekitar 34,9% sejak awal tahun hingga akhir perdagangan 2 Oktober 2026. Pelemahan yang cukup dalam tersebut mulai membuat valuasi sejumlah saham anggota Kompas100 menjadi lebih atraktif, meskipun belum dapat dikatakan seluruh konstituen indeks sudah berada dalam kondisi
deeply undervalued. Investor tetap perlu mencermati kualitas fundamental masing-masing emiten karena koreksi pasar saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor teknikal, tetapi juga tekanan nilai tukar rupiah, tingginya yield SBN, arus keluar dana asing, serta kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan laba. "Dengan demikian, valuasi Kompas100 saat ini memang relatif lebih murah dan memberikan
margin of safety yang lebih baik dibandingkan awal tahun, tetapi belum menjadi alasan untuk melakukan akumulasi secara agresif pada seluruh saham di dalam indeks," jelas Nafan. Memasuki kuartal IV-2026, katalis yang berpotensi menopang pemulihan Kompas100 antara lain stabilisasi rupiah, potensi pelonggaran kebijakan moneter, perbaikan likuiditas domestik, penguatan konsumsi, serta potensi
window dressing menjelang akhir tahun. Namun, ruang penguatan indeks masih akan sangat bergantung pada kemampuan pasar meredam tekanan eksternal, terutama pergerakan yield US Treasury, harga minyak, serta arus modal asing. Apabila tekanan tersebut mulai mereda, saham-saham yang telah mengalami koreksi signifikan berpeluang menjadi sasaran
bottom fishing. Dus, strategi yang lebih tepat pada periode ini adalah akumulasi secara bertahap dan selektif, dengan memprioritaskan emiten yang memiliki fundamental kuat, neraca sehat, valuasi atraktif, serta prospek pertumbuhan laba yang relatif konsisten.
Rekomendasi Saham Baca Juga: PMI Manufaktur Ekspansi, Simak Prospek Saham AUTO dan ASII Untuk kuartal IV-2026, Alrich menargetkan saham BMRI pada level Rp4.700–Rp5.000, BBRI Rp3.600, TLKM Rp3.400, PTBA Rp3.700–Rp3.870, dan UNTR sekitar Rp30.000. Adapun Nafan menjagokan sejumlah nama seperti BBCA, BMRI, BBRI, BBNI, ASII, TLKM, ICBP, AMRT, ANTM, INCO, PTBA, dan TPIA. Di sektor perbankan, BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI menarik karena memiliki fundamental relatif solid, skala bisnis besar, serta berpotensi memperoleh manfaat apabila kondisi likuiditas dan suku bunga domestik semakin kondusif. ASII juga menarik karena memiliki diversifikasi bisnis yang kuat dan eksposur terhadap pemulihan aktivitas ekonomi domestik. Sementara itu, ICBP dan AMRT dapat dicermati karena karakter bisnisnya relatif defensif dan memiliki eksposur kuat terhadap konsumsi domestik. Dari sektor komoditas, ANTM, INCO, dan PTBA berpotensi menarik apabila harga komoditas tetap mendukung profitabilitas dan prospek earnings. Adapun TPIA layak diperhatikan seiring perkembangan ekspansi kapasitas dan prospek perbaikan industri petrokimia. Secara keseluruhan, Nafan melihat kuartal IV-2026 sebagai momentum untuk melakukan akumulasi secara selektif, bukan sekadar membeli saham yang mengalami penurunan paling dalam.
Saham dengan kombinasi valuasi yang sudah terkoreksi, fundamental kuat, katalis pertumbuhan laba yang jelas, arus kas sehat, dan neraca yang solid berpotensi memberikan risk-reward lebih menarik. Apabila sentimen makro dan arus dana asing mulai membaik, Kompas100 memiliki peluang mengalami relief rally pada akhir tahun, meskipun pemulihan kemungkinan berlangsung bertahap dan tidak merata di seluruh konstituen.
Baca Juga: Yield SBN Naik, Yield Obligasi Korporasi Ikut Terkerek pada September 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News