Menakar Prospek Industri Baterai EV di Tengah Optimalisasi Hilirisasi Nikel



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) menjadi salah satu produk hilirisasi nikel yang terus didorong pemerintah. Namun, di tengah ekspor dan penambahan kapasitas produksi, penyerapan pasar domestik masih menjadi pekerjaan rumah bagi industri baterai nasional.

Terbaru, pada Kamis (8/10/2026), Presiden Prabowo Subianto meresmikan ekspor perdana baterai EV di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara.

"Ekspor perdana baterai kendaraan listrik adalah langkah penting. Ini adalah bukti nyata bahwa strategi hilirisasi kita benar dan akan kita teruskan dengan sebaik-baiknya," ujar Prabowo, Kamis (8/10/2026).


Baterai tersebut diproduksi PT REPT Battero Indonesia. Mengutip laporan keuangannya pada semester I-2026, perusahaan merencanakan kapasitas produksi tahap pertama sebesar 8 gigawatt-hour (GWh) per tahun untuk baterai kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi (energy storage system/ESS), dan komponennya.

Selain REPT Battero Indonesia, Indonesia juga memiliki pabrik baterai yang dikembangkan melalui Holding BUMN Indonesia Battery Corporation (IBC). Melalui PT Cahaya Anugrah Industri Baterai Indonesia (CATIB), perusahaan mengoperasikan pabrik baterai di Karawang dengan kapasitas tahap pertama sebesar 6,9 GWh per tahun dan rencana ekspansi hingga 15 GWh.

Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif mengatakan, CATIB melayani pasar global sembari mendorong pertumbuhan pasar domestik. Perusahaan telah berproduksi dan menargetkan kapasitas penuh tahap pertama pada akhir tahun ini. Namun, Aditya belum mengungkapkan negara tujuan ekspor baterai CATIB.

Baca Juga: Ekspor Baterai EV Jadi Angin Segar, Teknologi dan Pasar Domestik Masih Terbatas

Di sisi lain, IBC menyambut baik inisiatif pemerintah melalui Danantara untuk menciptakan pasar baterai domestik, khususnya baterai dengan katoda berbasis nikel.

"Kami berharap inisiatif ini bisa dioptimalkan dengan insentif fiskal maupun non-fiskal, khususnya untuk baterai dengan chemistry berbasis nikel, sehingga kita punya pasar yang mampu driving seluruh rantai nilai dalam negeri yang resilien," katanya kepada Kontan, Senin (12/10/2026).

Menurut Aditya, pasar domestik sebenarnya prospektif, baik untuk baterai EV maupun sistem penyimpanan energi. Namun, potensi tersebut selama ini belum sepenuhnya terealisasi.

"Pasar domestik sebetulnya memiliki potensi besar baik untuk baterai EV maupun BESS. Namun potensi tersebut belum di-unlock," jelasnya.

Mengembangkan industri daur ulang

Selain memperluas pasar, IBC bersama CATL Group berencana membangun industri sektor menengah (midstream) untuk melengkapi rantai nilai baterai di bawah MIND ID.

IBC menargetkan pembangunan fasilitas daur ulang baterai pada 2030, dengan mempertimbangkan kesiapan regulasi dan ketersediaan bahan baku berupa baterai bekas (feedstock) yang bisa diamankan.

"Indonesia perlu melihat baterai bekas bukan sebagai limbah namun sebagai sumber daya mineral sekunder," kata Aditya.

Ia menegaskan, teknologi daur ulang saat ini dapat mengambil kembali hingga 95% mineral kritis dari baterai bekas untuk diolah menjadi material baru yang dapat digunakan kembali.

Baca Juga: Ekspor Baterai EV Jadi Langkah Awal Hilirisasi Nikel, Nilai Tambah Masih Jadi PR

Menurut Aditya, pertumbuhan pasar domestik akan mempercepat ketersediaan bahan baku bagi industri daur ulang. Sebaliknya, daur ulang baterai dapat memperkuat rantai nilai industri di dalam negeri.

Ia mengingatkan, ekspor baterai secara terus-menerus juga berpotensi menimbulkan risiko bagi ketahanan rantai nilai Indonesia dalam jangka panjang. Pasalnya, baterai yang diekspor dapat menjadi sumber mineral sekunder bagi negara pengimpor setelah masa pakainya berakhir.

Risiko overcapacity

Pengamat Otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu menilai Indonesia mulai membentuk dua klaster industri baterai yang saling melengkapi. Pengolahan nikel dan material baterai berkembang di Indonesia Timur, seperti Morowali di Sulawesi Tengah serta Weda Bay dan Halmahera Timur di Maluku Utara.

Sementara itu, manufaktur sel baterai dan perakitan kendaraan berkembang di Jawa Barat. Selain CATIB, Yannes mengungkap Indonesia memiliki HLI Green Power di Karawang dengan kapasitas sekitar 10 GWh per tahun. Sebagian besar produksinya diarahkan untuk pasar ekspor.

Di sisi lain, Yannes menyoroti rencana ekspansi HLI Green Power hingga 20 GWh yang realisasinya belum jelas, serta mundurnya LG dari proyek baterai besar pada 2025.

Baca Juga: IBC Siap Pasok Baterai EV Saat TKDN Naik Jadi 60% Mulai 2027

"Ini tentu perkembangan positif. Tetapi kapasitas yang sudah beroperasi perlu dibedakan dari kapasitas yg masih berupa rencana investasi," ujarnya kepada Kontan.

Menurutnya, risiko kelebihan kapasitas (overcapacity) perlu diantisipasi apabila penambahan kapasitas produksi lebih cepat daripada peningkatan permintaan baterai untuk kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi, dan pasar ekspor.

Belum lagi persaingan harga baterai global juga dinilai semakin ketat, terutama pada baterai berbasis litium besi fosfat (lithium iron phosphate/LFP) yang menjadi kekuatan produsen China.

Di sisi lain, Yannes menuturkan Indonesia memiliki keunggulan bahan baku untuk baterai berbasis nikel, seperti nikel mangan kobalt (nickel manganese cobalt/NMC). 

"Baterai berbasis nikel seperti NMC, yang tetap mempunyai pasar meskipun menghadapi persaingan dari kimia baterai lain," ungkapnya.

Secara keseluruhan, keberhasilan industri baterai nasiona dinilai tidak cukup diukur dari kapasitas produksi yang diumumkan. Lebih penting, seberapa besar kapasitas yang akhirnya benar-benar beroperasi, terserap pasar, dan menghasilkan nilai tambah secara berkelanjutan di Indonesia.

Baca Juga: Hilirisasi Mineral Masuk Babak Baru, RI Bidik Industri Baterai EV dan BESS

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: