Menakar Prospek Kinerja ASII dan UNTR pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan yang melanda industri batubara hingga otomotif cukup mempengaruhi kinerja keuangan PT Astra International Tbk (ASII) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) pada akhir 2025. Kendati demikian, peluang perbaikan kinerja kedua emiten ini masih sangat terbuka memasuki tahun 2026. Sebagaimana diketahui, pendapatan ASII berkurang 1,54% year on year (yoy) menjadi Rp 323,39 triliun pada 2025. Begitu pula dengan laba bersih ASII yang terkoreksi 3,33% yoy menjadi Rp 32,76 triliun. Secara rinci, pendapatan ASII dari segmen otomotif dan mobilitas tercatat sebesar Rp 125,65 triliun, jasa keuangan Rp 33,44 triliun, alat berat pertambangan, konstruksi dan energi Rp 131,3 triliun, agribisnis Rp 28,65 triliun, infrastruktur Rp 3,16 triliun, teknologi informasi Rp 2,99 triliun, properti Rp 1,13 triliun. Total pendapatan dari tujuh segmen tersebut kemudian dikurangi jumlah eliminasi Rp 2,95 triliun. Presiden Direktur ASII Djony Bunarto Tjondro menyampaikan, penurunan laba Grup Astra pada 2025 disebabkan oleh harga batubara yang lebih rendah dan melemahnya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis Grup Astra tetap resilien berkat dukungan kontribusi positif dari bisnis-bisnis lainnya. Sementara itu, pendapatan bersih UNTR menyusut 2% yoy menjadi Rp 131,3 triliun pada akhir 2025. Bila ditelusuri, pendapatan dari segmen kontraktor penambangan berkurang 7% yoy menjadi Rp 54,1 triliun, kemudian pendapatan dari segmen mesin konstruksi juga turun 2% yoy menjadi Rp 36,6 triliun.

Baca Juga: Kinerja Keuangan 2025 Menurun, Harga Saham ASII dan UNTR Terkoreksi Penurunan juga terjadi pada pendapatan segmen pertambangan batubara termal dan metalurgi sebesar 7% yoy menjadi Rp 24,2 triliun. Sebaliknya, pendapatan dari segmen pertambangan emas dan mineral lainnya tumbuh 41% yoy menjadi Rp 14 triliun. Hingga akhir 2025, laba bersih UNTR turun 24% yoy menjadi Rp 14,8 triliun. Hal ini disebabkan oleh penurunan kontribusi dari segmen kontraktor penambangan yang terkendala curah hujan tinggi dan segmen pertambangan batubara termal dan metalurgi karena harga jual batubara yang lebih rendah, walau sebagian dapat diimbangi oleh penguatan harga emas. Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi mengatakan, sebenarnya pelemahan kinerja keuangan Grup Astra lebih didominasi oleh normalisasi harga batubara. Di segmen otomotif, ASII masih bisa meraih kenaikan pangsa pasar kendati terjadi penurunan volume penjualan yang sejalan dengan perlambatan pasar kendaraan roda empat nasional. Senada, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer mengatakan, fundamental Grup Astra masih tergolong defensif berkat diversifikasi bisnisnya. Khusus ASII, pelemahan pendapatan dan laba bersih tahunan mencerminkan siklus normalisasi ekonomi dan harga batubara. Namun, perbaikan margin pada kuartal IV-2025 memberi sinyal adanya efisiensi dan bauran bisnis yang lebih sehat. "Artinya downside risiko terlihat relatif terbatas selama segmen layanan finansial dan agribisnis mampu menjaga stabilitas kontribusi laba," ujar dia, Jumat (27/2/2026). Memasuki 2026, Wafi menilai, prospek ASII dan UNTR tergolong kuat dan keduanya punya peluang memulihkan kinerja kendati pertumbuhannya akan cenderung moderat. Penurunan suku bunga acuan bakal menjadi angin segar yang memulihkan daya beli masyarakat dan meringankan cicilan leasing kendaraan bermotor dari ASII.

Baca Juga: United Tractors (UNTR) Cetak Pendapatan Bersih Rp 131,3 Triliun pada 2025 Dari situ, segmen jasa keuangan dapat kembali menjadi tulang punggung laba bagi ASII, disusul oleh segmen otomotif. "UNTR penopang laba utamanya akan mulai geser ke segmen tambang emas dan mineral," kata Wafi, Jumat (27/2/2026). Baik ASII maupun UNTR harus segera melanjutkan strategi diversifikasi bisnis dan mengupayakan peningkatan pangsa pasar. ASII harus mempercepat penetrasi kendaraan listrik di berbagai rentang harga untuk membendung kompetitor merek China sembari terus mematangkan investasi di sektor non-otomotif seperti layanan kesehatan, jalan tol, dan keuangan digital. "Untuk UNTR, transisi menjauhi batubara harus dilakukan demi menjaga valuasi jangka panjang," imbuh Wafi. Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder AP Trading Insight Singapore, Kiswoyo Adi Joe menambahkan, kinerja ASII dan UNTR berpeluang meningkat pada 2026 selama pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil dan suku bunga acuan kembali turun. Kedua emiten ini juga diyakini akan kembali aktif melakukan ekspansi anorganik melalui akuisisi perusahaan lain sebagai upaya diversifikasi bisnis. "Strategi ini sangat mungkin dilakukan, karena Grup Astra punya arus kas kuat yang membuatnya leluasa masuk ke bisnis baru," ungkap dia, Jumat (27/2/2026).


Baca Juga: Kinerja Astra International (ASII) Lesu Sepanjang Tahun 2025, Ini Sebabnya Kiswoyo memperkirakan harga saham ASII dapat bergerak ke kisaran Rp 8.000--Rp 8.500 per saham pada 2026, sedangkan UNTR dapat bergerak ke arah Rp 35.000--Rp 40.000 per saham. Sementara itu, Wafi menyebut saham ASII dan UNTR dapat dilirik oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 7.000 per saham dan Rp 28.000 per saham. Di lain pihak, Khaer menganggap saham ASII masih menarik bagi investor yang mencari kombinasi stabilitas, eksposur siklikal, dan income play, meskipun akselerasi pertumbuhan jangka pendek kemungkinan masih bergantung pada pemulihan daya beli domestik dan tren harga komoditas beberapa waktu mendatang.

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham United Tractors (UNTR) Usai Akuisisi Tambang Emas Doup

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News