Menakar Prospek Kinerja Emiten BUMN Karya Jelang Wacana Merger Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Margin emiten BUMN karya menunjukkan sejumlah perbaikan di tengah upaya restrukturisasi jelang rencana aksi merger di tahun 2026.

Danantara sebelumnya menyebut PT PP Tbk (PTPP) dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) sebagai pasangan yang diprioritaskan untuk merger akhir 2026.

Sementara PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT) masih harus menjalani restrukturisasi lebih lanjut.


Terkait upaya restrukturisasi, PTPP baru saja mengumumkan bahwa master restructuring agreement (MRA) alias perjanjian kredit perseroan sudah efektif berlaku per tanggal 21 Oktober 2026. Jumlah terutang kepada seluruh kreditur berdasarkan MRA (baik pokok dan bunga pada Juli 2026) secara keseluruhan mencapai Rp 18,2 triliun.

Bank dan lembaga keuangan yang telah menyetujui restrukturisasi adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). Bank Mandiri selaku agen fasilitas turut serta juga menandatangani MRA ini.

Baca Juga: Uji Support US$ 4.000, Emas Mengintip Peluang Rebound Jelang FOMC

ADHI juga melakukan MRA dengan BMRI, BBRI, BBNI, serta Bank Mandiri selaku agen fasilitas. Jumlah terutang kepada seluruh kreditur, baik pokok dan bunga pada Juli 2026 totalnya sebesar Rp 3 triliun. Adhi Karya juga berencana mengalihkan dana hasil rights issue sebesar Rp 378,69 miliar untuk modal kerja.

Sementara, WIKA dan WSKT telah melakukan proses restrukturisasi via MRA sejak 2024 lalu.

Corporate Secretary Waskita Karya Steven Subiantoro mengatakan, Waskita telah menandatangani Master Restructuring Agreement (MRA) pada 2024 oleh 21 bank.

Berkat restrukturisasi, WSKT mengakui memiliki kemampuan lebih tinggi untuk memenuhi kewajiban keuangan. Dengan begitu, total pembayaran beban keuangan dari Rp1,02 triliun menjadi Rp1,06 triliun.

Nilai pembayaran pinjaman bank jangka panjang tercatat Rp701,39 miliar, dari sebelumnya Rp 393,65 miliar, naik 78,18%. Waskita Karya juga menurunkan beban keuangan menjadi Rp2,79 triliun.

“Kami akan terus berusaha membayar utang atau kewajiban perusahaan, agar beban keuangan bisa semakin ditekan," tuturnya.

Steve mengingatkan, sejak akhir 2023 lalu WSKT telah menurunkan utang sebanyak 20,8%. Total nilainya menjadi sebesar Rp 66,5 triliun, dari sebelumnya sekitar Rp 84 triliun.

Lalu kewajiban atas pajak past due sudah diselesaikan 100% sejak efektifnya restrukturisasi. Dengan begitu, per 2024 perusahaan berkode saham WSKT ini tidak lagi memiliki pajak utang past due.

Pada September 2026 lalu, WSKT juga mendapat persetujuan restrukturisasi Obligasi III Tahap IV Tahun 2024.

Sedangkan, WIKA dengan sejumlah lembaga keuangan telah merampungkan MRA pada tahun 2024. Nilai outstandingnya Rp20,79 triliun.

Menjelang rencana konsolidasi itu, kinerja emiten konstruksi pelat merah per kuartal III 2026 menunjukkan perbaikan.

Baca Juga: Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Berpotensi Melejit ke Level US$ 118 per Barel

Rugi WSKT turun 9,54% year on year (YoY) ke Rp 2,87 triliun per 30 September 2026. Pendapatan usaha tercatat Rp 8,12 triliun, naik 55,73% YoY.

ADHI mengantongi laba bersih Rp 15,34 miliar per kuartal III 2026, naik 247,04% YoY. Namun, pendapatan terkoreksi tipis 4,96% YoY ke Rp 5,37 triliun.

PTPP membukukan laba bersih Rp 259,96 miliar per September 2026, naik 4.576,34% YoY. Padahal, pendapatannya turun 12,69% YoY ke Rp 9,37 triliun.

Sayangnya, perbaikan margin tersebut diikuti dengan kondisi arus kas operasional yang memprihatinkan.

Kas bersih digunakan untuk aktivitas operasi WSKT minus Rp 1,14 triliun per September 2026.

ADHI mencatatkan arus kas neto diperoleh dari (digunakan untuk) aktivitas operasi minus Rp 475,12 miliar per September 2026.

PTPP mencatat minus Rp 2,62 triliun pada pos kas bersih digunakan untuk aktivitas operasi per September 2026.

Pengamat Pasar Modal, Edwin Sebayang melihat, persoalan utama emiten BUMN karya saat ini bukan sekadar apakah laba bersih mulai membaik atau apakah restrukturisasi utang berhasil disepakati.

“Perbaikan tersebut harus cukup kuat untuk mengembalikan kemampuan perusahaan menghasilkan kas, membayar kewajiban tepat waktu, dan menjalankan bisnis konstruksi secara berkelanjutan tanpa terus bergantung pada restrukturisasi,” ujarnya kepada Kontan, Sabtu (24/10/2026).

Rencana merger PTPP-ADHI ditargetkan secara indikatif selesai pada akhir Desember 2026, tetapi skema merger dan entitas yang akan bertahan belum diputuskan secara final.

Artinya, ada alasan untuk melihat prospek BUMN karya dengan lebih optimistis dibandingkan ketika tekanan restrukturisasi sedang memuncak.

“Namun, optimisme terhadap proses restrukturisasi dan merger tidak boleh disamakan dengan kepastian pemulihan fundamental maupun kenaikan harga saham,” ungkapnya.

Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengatakan, BUMN karya saat ini masih berada dalam tahap restrukturisasi dan penyehatan keuangan, belum sepenuhnya memasuki fase pemulihan bisnis.

Kemajuan restrukturisasi utang PTPP dan WSKT merupakan perkembangan positif, karena dapat mengurangi tekanan pembayaran kewajiban dan memberikan ruang bagi perusahaan untuk memperbaiki operasionalnya.

Perbaikan laba PTPP dan ADHI, serta penurunan kerugian WSKT, juga menunjukkan perkembangan yang cukup konstruktif. Namun, penurunan arus kas operasional mereka lebih penting untuk dicermati.

Dalam bisnis konstruksi, kemampuan menghasilkan kas sangat penting untuk membiayai proyek baru, membayar pemasok, dan memenuhi kewajiban utang.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Tertekan hingga di Bawah US$ 4.000, Ini Proyeksi Akhir 2026

“Perbaikan laba belum tentu mencerminkan pemulihan kondisi keuangan secara menyeluruh,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (25/10).

Terkait merger, kemajuan restrukturisasi sebagai salah satu prasyarat penting bagi konsolidasi BUMN karya. Namun, belum bisa disimpulkan bahwa merger pasti terlaksana pada akhir 2026.

“Rencana penggabungan PTPP dan ADHI memang sudah menunjukkan arah yang lebih jelas, tetapi realisasinya masih bergantung pada penyelesaian restrukturisasi, persetujuan yang diperlukan, serta skema penggabungan yang akhirnya dipilih,” tuturnya.

Kinerja emiten BUMN karya juga diproyeksikan belum sepenuhnya pulih di tahun 2027.

Edwin mengatakan, pemulihan operasional dapat mulai terlihat ketika perusahaan kembali memperoleh proyek dengan margin yang sehat, mengendalikan biaya, dan meningkatkan penerimaan kas dari pelanggan.

Namun, pemulihan neraca dapat memerlukan waktu lebih panjang. Utang yang telah direstrukturisasi tetap harus dibayar, piutang lama perlu ditagih, aset tertentu mungkin membutuhkan waktu untuk dijual, dan perusahaan harus memulihkan modal kerja.

Bahkan jika perusahaan kembali mencetak laba positif pada 2027, belum tentu utang bersihnya turun secara signifikan. Sebagian besar kas yang dihasilkan bisa saja digunakan untuk memenuhi kewajiban lama.

“Tahun 2027 adalah tahun pembuktian keberhasilan restrukturisasi dan konsolidasi, bukan langsung mengasumsikannya sebagai tahun pemulihan penuh seluruh BUMN karya,” katanya.

Rully berpandangan, tahun 2027 masih berpotensi menjadi awal pemulihan yang lebih nyata bagi sebagian BUMN karya. Namun, kemungkinan berlangsung secara bertahap dan tidak merata antarperusahaan.

Katalis positifnya antara lain penyelesaian restrukturisasi utang, penurunan beban bunga, perbaikan modal kerja, serta potensi peningkatan proyek infrastruktur dan konstruksi.

“Konsolidasi BUMN karya juga dapat memberikan manfaat jangka panjang apabila berhasil mengurangi duplikasi biaya, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat struktur keuangan,” ungkapnya.

Baca Juga: Yield US Treasury Terjun Imbas Risk Off, Derasnya Inflow SBN Masih Tertahan CDS

Namun, tantangannya masih cukup besar. Selain beban utang, perusahaan harus memperbaiki penagihan piutang, mempercepat penerimaan pembayaran proyek, dan memastikan kontrak baru memiliki margin serta arus kas yang sehat.

“Tahun 2027 bukan tahun pemulihan penuh bagi seluruh BUMN karya. Untuk perusahaan dengan persoalan keuangan yang lebih kompleks, proses penyehatannya berpotensi membutuhkan waktu lebih panjang,” ujarnya.

Edwin menyarankan investor untuk mengamati lima indikator dalam melihat kinerja emiten BUMN karya ke depan, yaitu kualitas pendapatan, arus kas, struktur utang, ekuitas, dan perkembangan aksi korporasi.

Rully menyarankan investor untuk tidak hanya melihat pertumbuhan laba bersih atau penurunan kerugian. Indikator yang lebih penting saat ini adalah perbaikan arus kas operasional, penurunan utang berbunga, kemampuan membayar bunga dan pokok utang, serta kualitas kontrak baru.

Investor juga perlu memperhatikan apakah pertumbuhan pendapatan benar-benar menghasilkan kas, bukan hanya menambah piutang dan kebutuhan modal kerja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News