Menakar prospek saham di MSCI



JAKARTA. Sejumlah saham anggota Bursa Efek Indonesia (BEI) masuk sebagai penghuni anyar Morgan Stanley Composite International (MSCI) Index. Ada 17 saham yang masuk dalam daftar MSCI Globall Small Cap Indices.

MSCI Globall Small Cap Indices ini merupakan kumpulan saham dari berbagai negara dengan jumlah saham yang diperdagangkan (free float) minimal 14%. Saham second liner emiten BEI yang masuk daftar itu adalah PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES), PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Central Omega Resources Tbk (DKTF) dan PT Ciputra Surya Tbk (CTRS). 

Selain itu, ada PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO), PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT), PT Hanson International Tbk (MYRX), PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) dan PT Nirwana Development Tbk (NIRO). Ada juga PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), PT Sugih Energy Tbk (SUGI), PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC), PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE), PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT).


Para analis menilai, saham-saham yang masuk portofolio MSCI akan menjadi sentimen positif bagi saham tersebut. "Ini bisa memicu volatilitas harga dan likuiditas saham emiten," kata Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo

Menurut Satrio, likuiditas dan kapitalisasi pasar saham adalah kriteria utama agar bisa masuk menjadi anggota indeks MSCI. Ia mencontohkan, saham anyar yang masuk MSCI seperti TELE dan WIKA. Dua saham tersebut terbilang cukup aktif diperdagangkan dalam tiga bulan terakhir.

Harga kedua saham itu pun naik tinggi. TELE, ambil contoh, dalam satu tahun terakhir harganya sudah naik 91,8%. Begitu juga WIKA yang harganya meroket 150% dalam satu tahun terakhir.

Meski demikian, perubahan likuiditas dan volatilitas harga belum terlihat berubah signifikan pasca saham tersebut masuk radar MSCI. Pergerakan harga dan likuiditas saham seperti WIKA dan TELE masih cenderung flat dalam satu pekan terakhir. "Saya sendiri belum pernah mengamati satu per satu perubahan saham yang masuk indeks MSCI. Tapi, teorinya, harga dan likuiditas berubah jadi semakin bagus," papar Satrio.

Managing Partners PT Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe menimpali, indikator saham yang masuk MSCI adalah likuiditas dan fundamental. Dari sisi fundamental, saham MSCI biasanya mampu menjaga pertumbuhan pendapatan dan laba bersih. Selain itu, emiten saham tersebut juga melakukan ekspansi secara berkelanjutan.

Meski demikian, kata dia, tidak semua saham-saham small caps yang bercokol di indeks MSCI menarik untuk dikoleksi. Beberapa saham tergolong punya likuiditas kecil seperti DKTF, tak layak koleksi.

Lihat prospeknya

Kiswoyo sendiri lebih menyarankan investor untuk mencermati saham-saham yang lebih likuid namun memiliki prospek bagus. Dari 17 saham yang terdaftar, ia merekomendasikan saham-saham sektor konstruksi seperti WIKA dan TOTL.

Dia beralasan, WIKA dan TOTL diuntungkan oleh proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Sebagai perusahaan konstruksi, WIKA dan TOTL punya kesempatan lebih besar untuk mengerjakan proyek-proyek pemerintah.

Selain itu, Kiswoyo juga menyenangi bisnsi ARNA yang diuntungkan sektor properti yang tumbuh. Hanya saja, harga ARNA sudah terlalu premium. Kiswoyo menyarankan investor yang ingin mengoleksi ARNA menunggu realisasi stock split saham ARNA. "Kalau harga ARNA bisa naik lagi setelah stock split, sahamnya bisa dikoleksi," tuturnya.

Analis Sinarmas Sekuritas, Tessa Vania Mulia menambahkan, faktor fundamental, seperti kinerja keuangan dan ekspansi, tetap harus menjadi acuan investor. Menurutnya, fundamental saham-saham yang masuk indeks MSCI cukup bagus.

Tessa mencontohkan ARNA. Selama kuartal I-2013, produsen keramik tersebut mencetak pertumbuhan penjualan 37% menjadi Rp 348,6 miliar. Laba bersih ARNA juga meroket 123% menjadi Rp 67,7 miliar.

Begitu pula TOTL yang pendapatannya meningkat 69,7% menjadi Rp 584,6 miliar di kuartal I/2013. Begitu juga, laba bersih TOTL naik 47,8% menjadi Rp 47,8 miliar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Avanty Nurdiana