Menakar Prospek Sumber Alfaria (AMRT) di Tengah Efisiensi dan Tekanan Daya Beli



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) diproyeksikan masih mampu mengamankan pertumbuhan kinerja yang positif hingga akhir 2026.

Meski demikian, laju ekspansi perseroan di paruh kedua tahun ini dibayangi oleh tantangan normalisasi daya beli masyarakat serta tekanan biaya operasional.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai prospek kinerja AMRT hingga akhir tahun masih berada di jalur positif.


Katalis pendorong utama kinerja emiten ritel ini berasal dari ekspansi jaringan gerai, pertumbuhan penjualan di gerai yang sama (Same-Store Sales Growth/SSSG), peningkatan kontribusi produk non-food, hingga efisiensi biaya operasional.

Kendati begitu, Nafan memperkirakan pertumbuhan laba perseroan akan bergerak lebih moderat di paruh kedua.

Hal ini sejalan dengan ekspektasi konsensus analis yang memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sekitar 9% dan laba bersih sekitar 10% pada 2026, dengan perkiraan net margin berada di kisaran 2,7%.

"Saya masih melihat pertumbuhan positif pada 2026, dengan katalis utama berasal dari ekspansi jaringan gerai, pertumbuhan SSSG, peningkatan kontribusi produk non-food, serta efisiensi biaya," kata Nafan Aji Gusta kepada Kontan, Kamis (13/8/2026).

Secara operasional, AMRT menargetkan pembukaan sekitar 800 gerai baru di Indonesia pada 2026, di mana lebih dari 50% diarahkan ke luar Pulau Jawa.

Jika memperhitungkan ekspansi internasional di Filipina dan Bangladesh, total target penambahan gerai mencapai 1.080 unit.

Pada semester I-2026, perseroan telah merealisasikan pembukaan 167 gerai Alfamart dan 42 gerai Alfamidi.

Analis UBS Global Research, Alex Manoonpol, mencatat bahwa kontribusi pendapatan dari luar Jawa terus meningkat menjadi 37,3% pada semester I-2026 berkat permintaan yang kuat serta intensitas persaingan yang lebih rendah dibandingkan dengan Pulau Jawa.

Di saat yang sama, Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Willy Goutama, menyoroti adanya tekanan biaya gaji dan depresiasi akibat pembukaan gerai baru serta pusat distribusi (Distribution Center/DC) yang membuat laju pertumbuhan laba bersih di kuartal II-2026 cenderung moderat. 

Baca Juga: Pertumbuhan EPS AMRT Melambat, Ini Rekomendasi Saham dari Analis

Sejumlah tantangan utama siap menanti AMRT hingga penutupan tahun.

Nafan membeberkan lima faktor risiko utama, yakni potensi melandainya daya beli masyarakat pasca-Ramadan, tekanan operating leverage akibat kenaikan biaya tenaga kerja dan sewa, hingga perlunya menjaga produktivitas gerai baru agar tidak menekan Earnings Per Share (EPS).

Selain itu, ketatnya persaingan ritel modern maupun tradisional, serta potensi gejolak inflasi dan nilai tukar rupiah turut menjadi perhatian.

"Menambah jumlah toko memang menaikkan revenue, tetapi tidak otomatis meningkatkan EPS apabila produktivitas toko baru belum mencapai tingkat mature stores," tegas Nafan.

Di sisi lain, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, optimistis kinerja AMRT tetap berpeluang solid.

Proyeksi pertumbuhan pendapatan sebesar 6,49% dan laba bersih 7,5% secara tahunan dinilai masih sejalan dengan target high single digit dari manajemen.

Baca Juga: IHSG Ambruk 1,18% ke 6.298 Sesi I, Top Losers LQ45: ESSA, MBMA, CUAN, Kamis (13/8)

Menurut Abida, jaringan AMRT yang melampaui 20.000 gerai memberikan bargaining power yang kuat serta efisiensi logistik yang sulit ditandingi oleh para pesaing.

Selain itu, fenomena perpindahan belanja konsumen dari supermarket ke minimarket di tengah tekanan ekonomi menjadi angin segar bagi perseroan.

"Downtrading konsumen dari supermarket ke minimarket menguntungkan AMRT di tengah tekanan daya beli," ungkap Abida.

Penguatan margin operasional AMRT ke depan juga diperkirakan mendapat topangan dari efisiensi rantai pasok.

Analis Bahana Sekuritas, Reinard Tanukusuma, menjelaskan bahwa tingkat normalisasi biaya operasional perseroan didukung oleh peningkatan utilisasi di lima pusat distribusi baru AMRT, seperti DC Madiun yang berhasil mencapai kapasitas penuh dalam waktu enam bulan. 

Terkait sentimen pasar, pergerakan saham AMRT sempat terdampak oleh keputusan rebalancing MSCI yang menurunkan peringkat perseroan dari MSCI Global Standard ke MSCI Global Small Cap sejak akhir Mei 2026.

Kendati penurunan kelas ini memicu arus keluar modal asing (outflow) dalam jangka pendek, kondisi ini dinilai tidak merusak fundamental jangka panjang perusahaan.

Investor disarankan untuk terus mencermati pergerakan SSSG, kestabilan margin laba, hingga dinamika daya beli masyarakat.

Atas pertimbangan prospek ekspansi dan ketahanan fundamental perusahaan,  Nafan memberikan rekomendasi add untuk saham AMRT dengan target harga Rp 1.595 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News