Menakar Resiliensi Pasar Saham di Tengah Derasnya Net Sell Asing



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aliran dana asing masih terus menguap dari pasar saham Indonesia. Tren net sell asing pun diperkirakan masih akan berlanjut imbas dari pengumuman MSCI terkait konsultasi reklasifikasi pasar saham Indonesia.

Sebagai pengingat, MSCI pada Jumat (16/10/2026) lalu meluncurkan konsultasi atas usulan reklasifikasi MSCI Indonesia Indexes dari emerging market menjadi standalone market, dengan keputusan akhir paling lambat akhir Juni 2027.

Hari ini, net sell tercatat Rp 2,28 triliun di akhir perdagangan Senin (19/10/2026). Sejak awal tahun, asing sudah keluar sebesar Rp 114,17 triliun year to date (YTD).


Sejumlah emiten berkapitalisasi pasar besar (big caps) juga tercatat masih dilego asing. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) bahkan dilepas asing paling banyak, yaitu Rp 1,1 triliun.

Lalu, dilanjut PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang dilego asing Rp 986,9 miliar, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 367,5 miliar, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 113,4 miliar.

Baca Juga: IHSG Turun ke Level 4.996, Simak Prediksi dan Rekomendasi Saham Selasa (20/10)

Melansir data KSEI per 30 September, BBCA digenggam asing sebanyak 361.35.021.780 saham, BBRI 40.006.845.342 saham, BMRI 24.842.103.812 saham, dan TLKM 37.572.526.822 saham

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan, berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 September 2026, investor asing secara total menguasai sekitar 39,7% saham tercatat secara scripless, sementara sisanya dimiliki investor domestik. 

Di tengah tekanan MSCI, porsi domestik berpotensi meningkat apabila investor lokal menyerap saham yang dilepas asing. 

Namun, peningkatan porsi tersebut tidak selalu berarti nilai investasi domestik bertambah, karena juga dapat terjadi akibat penurunan kepemilikan asing. 

“Kemampuan investor lokal menopang pasar tetap bergantung pada ketersediaan dana dan kepercayaan terhadap prospek pasar saham Indonesia,” ujar Abida kepada Kontan, Senin (19/10/2026).

Domestik Mendominasi

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan melihat, secara keseluruhan pasar modal, investor lokal mendominasi kepemilikan saham di IHSG sekitar 60%. 

“Namun, khusus pada saham big caps, terutama sektor perbankan dan konsumer, porsi asing masih cukup dominan dan memegang peran penting dalam pergerakan harga harian,” ujarnya kepada Kontan, Senin (19/10/2026).

Pasar domestik pun  perlahan menunjukkan kemandirian seiring pertambahan jumlah investor ritel dan basis institusi lokal. Namun, arus dana asing (foreign flow) tetap dibutuhkan sebagai motor likuiditas dan penopang valuasi saham berkapitalisasi besar. 

“Pergeseran ke dominasi lokal akan berlangsung bertahap, bukan instan,” kata David.

Baca Juga: Buyback Saham Jadi Katalis Positif, Ini Saran untuk Investor

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy mengatakan, pada saham-saham big caps tertentu, terutama perbankan, pengaruh investor asing terhadap pergerakan harga masih sangat besar. 

Saat ini, porsi investor domestik berpotensi meningkat seiring keluarnya sebagian dana asing. Pasar domestik bisa lebih mengandalkan investor lokal, tetapi kemampuan menyerap tekanan jual tetap terbatas, terutama ketika terjadi penjualan asing secara serentak.

Sebagai gambaran, pada saham scripless BBCA, porsi asing mencapai 68,9% dan BBRI 56,4%. 

“Angka ini berbeda dari persentase terhadap seluruh saham beredar karena belum memasukkan seluruh saham pengendali,” ujarnya kepada Kontan, Senin.

Investor Institusi

Abida berpandangan, institusi domestik seperti BPJS Ketenagakerjaan, dana pensiun, asuransi, dan reksadana berpotensi menjadi penyangga pasar, terutama pada saham berkapitalisasi besar dan likuid. 

Namun, mereka belum tentu dapat menggantikan arus keluar asing sepenuhnya karena memiliki kebutuhan likuiditas, kewajiban kepada peserta, batas diversifikasi, serta mandat investasi masing-masing. 

Sebagai contoh, BPJS Ketenagakerjaan memiliki batas investasi saham maksimal 5% dari total investasi untuk setiap emiten dan 50% secara keseluruhan. 

“Kendalanya bukan semata-mata regulasi, tetapi juga manajemen risiko, tata kelola, dan pertimbangan imbal hasil jangka panjang,” tuturnya.

Senada, David juga menilai institusi lokal berpotensi besar menjadi penyangga (buffer) stabilitas pasar, tetapi belum sepenuhnya bisa menggantikan volume dana asing dalam waktu dekat.

Menurut Budi, BPJS Ketenagakerjaan, dana pensiun, dan asuransi memiliki potensi besar menjadi penyangga pasar, tetapi sulit sepenuhnya menggantikan investor asing dalam waktu singkat.

Kendalanya bukan hanya regulasi, melainkan juga kewajiban menjaga likuiditas, keamanan dana peserta, dan risiko investasi. 

Berdasarkan PP 27/2026, investasi saham dari aset BPJS Ketenagakerjaan dapat mencapai maksimal 50%, dengan batas 5% per emiten. 

“Jadi, masih ada ruang investasi, tetapi tidak berarti dana tersebut harus dialokasikan ke saham,” ungkapnya.

Baca Juga: Sejumlah Emiten Bersiap Buyback Saham, Bisa Angkat IHSG?

Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya melihat, penguatan peran institusi domestik perlu dilakukan secara bertahap melalui pendalaman pasar, peningkatan transparansi, serta kebijakan investasi yang tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

“Jadi, bukan sekadar mendorong pembelian saham untuk menahan penurunan indeks,” ujarnya kepada Kontan, Senin.

Saran untuk Investor

Di tengah situasi saat ini, investor ritel sebaiknya tidak terburu-buru menangkap peluang hanya karena harga saham sudah turun signifikan. 

Abida menyarankan investor memperhatikan valuasi terhadap fundamental, kualitas laba, arus kas, kebijakan dividen, serta kemampuan perusahaan menghadapi kondisi ekonomi yang lebih menantang. 

Selain itu, perkembangan reformasi pasar modal dan respons MSCI perlu dicermati karena ketidakpastian tersebut dapat mempertahankan volatilitas dalam jangka pendek. 

“Strategi akumulasi bertahap pada saham berfundamental kuat, disertai pengelolaan risiko dan diversifikasi portofolio, lebih relevan dibandingkan mencoba menebak titik terendah pasar,” ungkapnya.

David menyarakan investor untuk membatasi transaksi spekulatif dan menghindari FOMO. “Sesuaikan alokasi portofolio dengan profil risiko serta horizon investasi jangka panjang,” katanya.

Baca Juga: Kuasai 28,8% Kapitalisasi Pasar, BEI Keluarkan HSC dari IHSG

Budi menyarankan investor untuk melakukan pembelian secara bertahap, menghindari penggunaan margin, serta tetap menjaga diversifikasi dan cadangan kas.

Intinya, investor domestik bisa membantu menstabilkan pasar, tetapi tidak dapat terus-menerus menggantikan dana asing. 

“Pemulihan yang berkelanjutan tetap membutuhkan kepercayaan investor domestik maupun global,” ujar Budi.

Andrey menuturkan, dalam jangka pendek, sentimen pasar kemungkinan masih mendominasi pergerakan harga. Namun, bagi investor jangka panjang, koreksi yang berlebihan dapat membuka peluang akumulasi pada saham berkualitas.

“Khususnya, apabila reformasi pasar modal mampu memulihkan kepercayaan investor,” tuturnya.

Baca Juga: 7 Emiten Siapkan Buyback Saham di Tengah Anjloknya IHSG

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News