Menakar Tantangan yang Timbul dalam Upaya Mengubah Batubara jadi Bensin



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah mengolah batubara menjadi bensin dinilai memungkinkan secara teknologi, tetapi pengembangan coal to liquid disebut masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi keekonomian dan emisi yang dihasilkan.

Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS) Ali Ahmudi Achyak mengatakan, Indonesia memiliki sumber daya batubara melimpah yang selama ini pemanfaatannya masih didominasi penjualan batubara dengan nilai tambah yang relatif terbatas.

Karena itu, menurutnya, hilirisasi dapat meningkatkan nilai tambah batubara, baik melalui coal to liquid, coal to DME, maupun coal to methanol.


Baca Juga: Bahlil Ungkap China Tawarkan Kerja Sama Ubah Batubara Jadi Bensin

"Begitu ada program hilirisasi, tentunya ada potensi untuk meningkatkan nilai tambah. Dan itu, secara teknologi, dimungkinkan," katanya kepada Kontan, Minggu (27/9/2026).

Namun begitu, Ali menyoroti rencana hilirisasi batubara menjadi bensin juga diproyeksi memunculkan sejumlah tantangan dalam implementasinya.

Menurut dia, proses produksi bensin dari batubara lebih panjang dibandingkan pengolahan minyak mentah menjadi BBM lantaran diperlukan melalui proses gasifikasi sebelum diolah lebih lanjut menjadi produk cair. 

Ali menilai salah satu hambatan utama coal to liquid ialah emisi, sebab batubara memiliki kandungan sulfur dan nitrogen yang dapat menghasilkan gas polutan SOx dan NOx ketika bereaksi dengan oksigen dalam proses pengolahan.

Baca Juga: Soal Batubara Jadi Bensin, ESDM Tengah Evaluasi Teknologi yang Dibutuhkan

Karena itu, ia menegaskan teknologi pengendalian emisi perlu menjadi bagian dari pengembangan proyek. Salah satunya melalui penerapan carbon capture, utilization, and storage (CCUS).

Selain lingkungan, aspek keterjangkauan harga juga menjadi tantangan. Ali menilai biaya produksi coal to liquid berpotensi lebih tinggi karena rantai pengolahannya lebih panjang dan membutuhkan fasilitas serta teknologi tambahan.

"Dari digasifikasi, kemudian diregasifikasi, berarti kan ada kilang yang dibutuhkan ya. Itu prosesnya lebih panjang, teknologinya lebih berbiaya yang besar. Nanti akan ada problem di harga," jelasnya. 

Ali juga menggarisbawahi kebutuhan infrastruktur transportasi untuk mendukung distribusi produk bensin dari batubara. Infrastruktur yang tidak memadai, lanjutnya, dapat meningkatkan biaya logistik dan akhirnya mempengaruhi harga produk.

"Kalau pemerintah serius, harus menyediakan infrastruktur transportasi yang bagus," kata dia.

Baca Juga: Skema dan Harga DMO Batubara Jadi Sorotan, Ini Catatan dari Dewan Energi Nasional

Oleh karena itu, Ali mendorong pemerintah sebaiknya tidak langsung mengembangkan proyek batubara menjadi bensin dalam skala besar.

Proyek dapat dimulai dari skala kecil untuk menguji teknologi, keekonomian, dan dampak lingkungan.

"Coba dipersiapkan dari kecil-kecil dulu produksinya, kemudian diuji, sampai kemudian sudah produksi baru, baru silakan diproduksi secara massal," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News