KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada Kamis (11/6/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,25% secara harian ke Rp 17.989 per dolar AS. Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,05% secara harian ke Rp 17.981 per dolar AS. Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, secara teknikal dan fundamental, proyeksi pergerakan mata uang Rupiah untuk esok hari diperkirakan masih akan berada dalam tekanan jangka pendek yang bias
bearish.
Meskipun Bank Indonesia telah mengaktifkan benteng pertahanannya melalui intervensi pasar dan sinyal pengetatan moneter dari Gubernur Perry Warjiyo, penguatan Rupiah di bawah level 17.900 yang sempat terjadi sebelumnya terbukti sulit dipertahankan secara berkelanjutan.
Baca Juga: Summarecon (SMRA) Pertimbangkan Refinancing Obligasi di Era Suku Bunga Tinggi “Di atas kertas, struktur pergerakan Dolar AS (DXY) yang kokoh sebagai aset penampung risiko utama (safe-haven) membuat posisi mata uang emerging markets seperti rupiah terpaksa bergerak defensif, menanti meredanya volatilitas eksternal sebelum mampu membentuk basis akumulasi yang lebih solid,” ujar Sutopo kepada Kontan, Kamis (11/6/2026). Adapun, untuk perdagangan esok hari, Sutopo melihat terdapat dua koridor sentimen utama yang wajib dicermati secara ketat. Dari panggung eksternal, fokus pasar akan tertuju pada rilis data PPI (Producer Price Index) AS malam ini serta reaksi lanjutan para pelaku pasar terhadap eskalasi geopolitik di Selat Hormuz yang terus melambungkan harga minyak mentah global. Jika inflasi produsen AS kembali memanas, indeks Dolar AS dipastikan akan mendapat dorongan amunisi baru untuk terus menekan instrumen berisiko. Sementara dari sisi domestik, pasar akan terus menakar efektivitas dari kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 75bps yang terakumulasi sejak Mei lalu dalam meredam dampak imported inflation serta melambatnya angka penjualan ritel April. Menjaga kedisiplinan manajemen risiko tetap menjadi prioritas utama di tengah kondisi pasar yang sangat dinamis ini. Sutopo memproyeksikan rupiah besok (12/6) bergerak fluktuatif di rentang Rp 17.920 per dolar AS hingga Rp 18.050 per dolar AS.
Baca Juga: Waskita Beton (WSBP) Resmi Perluas Bisnis ke Jasa Laboratorium dan Sewa Aset Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah ditutup melemah karena tertekan oleh penguatan dolar AS seiring dengan eskalasi di Timur Tengah.
Sentimen risk off di pasar ekuitas domestik dan outflow asing juga ikut menekan rupiah. Dari data ekonomi, penjualan ritel yang turun 3,7% semakin membebani. “Untuk besok, rupiah kemungkinan tertekan oleh dolar AS yang berpotensi kembali menguat oleh antisipasi investor pada data inflasi AS, kali ini tingkat produsen yang diperkirakan akan juga naik. Sedangkan sentimen umum global masih bergerak fluktuatif merespon perkembangan di timur tengah,” jelas Lukman. Lukman memperkirakan rupiah besok (12/6) bergerak dikisaran Rp 17.900 – Rp 18.100 per dolar AS. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News