Menanti Data Klaim Pengangguran, Simak Proyeksi Arah Indeks Dolar AS



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan indeks dolar Amerika Serikat (AS) atawa DXY jelang akhir pekan bakal bergantung pada data tenaga kerja AS. Di mana, Departemen Tenaga Kerja AS akan merilis data klaim pengangguran (unemployment claims) pada Kamis (26/3/2026) waktu setempat.

Research and Development Trijaya Pratama Futures, Lilik Komyani mengatakan, market memperkirakan klaim pengangguran akan berada di 215.000. Prediksi itu naik dari jumlah klaim pengangguran sebanyak 205.000 pada pekan yang berakhir 14 Maret 2026. 

“Apakah yang dirilis sesuai prediksi atau tidak. Kalau melihat data diprediksi naik ini bisa menjadi tanda awal pelemahan ekonomi di AS,” ujar Lilik, Kamis (26/3/2026).


Lilik memperkirakan, pergerakan indeks dolar dalam sejumlah skenario. Pertama, jika klaim pengangguran lebih tinggi atau melemah dari diprediksi, maka ini bisa berpotensi membuat indeks dolar melemah dan harga emas berpotensi naik. Serta mata uang yang melawan dolar pun akan naik.  

Baca Juga: Ditutup Anjlok 1,89%, IHSG Berpotensi Lanjut Melemah Pada Jumat (27/3)

Kedua, jika data klaim pengangguran lebih rendah dari prediksi, maka ini dapat membuat indeks dolar akan menguat dan harga emas akan tertekan. Ketiga, jika klaim pengangguran mendekati prediksi market, maka kemungkinan indeks dolar akan cenderung sideway. 

Adapun dilihat dari sisi teknikal, Lilik memperkirakan selama indeks dolar masih di bawah 99,83 maka secara teknikal tren penurunan masih mungkin terjadi. Begitu juga sebaliknya, jika indeks dolar mampu break di atas 99,83, maka indeks dolar berpotensi akan melanjutkan penguatan. 

Lebih lanjut Lilik menilai tidak serta merta data klaim pengangguran AS yang dirilis akan mencerminkan pergerakan market. Meski data tersebut terbilang penting, tetapi investor diminta untuk selalu menggabungkannya dengan analisa lain seperti analisa teknikal, fundamental maupun sentimen market saat ini. 

“Apalagi saat ini isu geopolitik Timur Tengah sangat mendominasi karena ini berdampak pada krisis energi,” ucap Lilik. 

Mengutip Trading Economics, indeks dolar AS (DXY) berada di level 99,65, naik 1,36% secara year to date (ytd). Dalam sebulan, indeks dolar telah naik 2,10%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News