Menanti Data Transaksi Berjalan, Begini Proyeksi Rupiah Besok (21/8)



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada Kamis (20/8/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,52% secara harian ke Rp 17.748 per dolar AS. 

Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,36% secara harian ke Rp 17.779 per dolar AS. 

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, rupiah pada perdagangan besok (21/8) berpotensi melanjutkan tren penguatannya, meski ruang apresiasi kemungkinan akan lebih terbatas dibandingkan pekan-pekan sebelumnya. Momentum utama tetap datang dari eksternal. Pelemahan indeks dolar yang bertahan di kisaran 98,8—level terendah dalam tiga bulan—menyusul langkah agresif Departemen Keuangan AS memperluas program buyback obligasi tenor panjang untuk meredam gejolak yield. 


“Selama sentimen risk-appetite global tidak berbalik arah secara tiba-tiba, rupiah masih memiliki peluang bergerak menguat tipis ke arah bawah Rp 17.800, didukung pula oleh sikap Bank Indonesia yang menahan suku bunga di 5,75% sembari menegaskan komitmen stabilitas nilai tukar di bawah kepemimpinan Plt. Gubernur Destry Damayanti,” jelas Sutopo kepada Kontan, Kamis (20/8/2026). 

Baca Juga: Harga Bitcoin Melonjak 11% ke US$ 71.000, Tapi Siklus Bearish Dinilai Belum Berakhir

Namun demikian, terdapat sejumlah sentimen yang patut dicermati secara saksama. Pertama, risalah rapat FOMC Juli yang mengindikasikan sebagian pembuat kebijakan The Fed masih condong pada opsi kenaikan suku bunga. Jika narasi ini menguat lebih lanjut, dapat memicu koreksi teknikal pada dolar yang membalikkan tren pelemahannya. 

Kedua, eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya kebuntuan hubungan AS-Iran, berpotensi memicu aliran modal ke aset safe-haven termasuk dolar apabila situasi memburuk. 

Ketiga, dari sisi domestik, pasar akan menantikan rilis data neraca transaksi berjalan kuartal kedua. Mengingat defisit kuartal pertama tercatat sebagai yang terdalam sejak 2019, hasil yang mengecewakan berisiko membatasi ruang penguatan rupiah lebih lanjut meski sentimen eksternal masih kondusif. 

Sutopo memproyeksikan rupiah pada Jumat (21/8/2026) bergerak direntang Rp 17.650 – Rp 17.875 per dolar AS. 

Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo mengatakan, sentimen domestik saat ini cukup mendukung setelah BI mempertahankan BI Rate di 5,75%. Ini menegaskan fokus pada stabilitas rupiah, memperluas insentif hedging untuk menarik inflow, serta tetap mengandalkan intervensi spot, DNDF, dan pasar SBN. 

“Penurunan yield SRBI dalam dua pekan terakhir tanpa mengurangi arus masuk juga menjadi sinyal positif bahwa daya tarik aset rupiah mulai membaik,” ucap Banjaran. 

Namun, ruang penguatan rupiah masih dibatasi sentimen eksternal. Minutes FOMC menunjukkan inflasi AS masih berada di atas target, tiga anggota bahkan memilih kenaikan 25 bps, dan banyak anggota menilai pengetatan lanjutan mungkin diperlukan apabila inflasi tidak turun. Pasar juga sempat memperhitungkan kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan berikutnya di September 2026, sementara yield UST naik sekitar 25 sampai 30 bps dalam dua pekan terakhir, sebelum US Treasury melakukan intervensi dengan melakukan buyback obligasi untuk stabilisasi pergerakan yield. 

“Artinya, sentimen yang perlu dicermati besok adalah arah dolar AS, yield UST, arus modal asing ke SBN dan saham, serta respons pasar terhadap komunikasi kebijakan BI. Selama dolar tidak kembali menguat tajam, rupiah masih berpeluang bergerak stabil hingga menguat terbatas,” jelas Banjaran. 

Banjaran memperkirakan rupiah pada Jumat (21/8) masih memiliki ruang untuk bertahan menguat, dengan kisaran sekitar Rp 17.700 sampai Rp 17.850 per dolar AS.

Baca Juga: Habco Trans (HATM) Gelar Private Placement 868 Juta Saham, Cermati Tujuannya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News