Menanti janji manis penurunan harga gas untuk sektor industri



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Merger antara PT Pertamina Gas (Pertagas) dengan PT Perusahaan Gas Nasional (PGN) tampaknya belum memberikan efek yang positif bagi harga gas.

Kabarnya setelah kembali memonopoli pasokan gas, PGN bakal menyesuaikan tarif gas industri seperti semula saat PGN masih menjadi pemasok tunggal di negara ini.

Hal ini tentu saja menjadi tantangan besar bagi industri yang menjadikan gas sebagai energi utama pabrikannya, seperti industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dan keramik.


Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat Dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wiraswasta mengaku setelah Pertagas melebur, kemungkinan untuk naik menjadi besar.

Namun besaran kenaikan, Asosiasi mengaku belum mengetahuinya. "Belum ada kisaran, tapi dari pihak PGN sudah datang ke perusahaan dan meminta kontrak ulang," sebut Redma kepada Kontan.co.id, Kamis (26/7).

Adapun, produsen benang filamen seperti PT Asia Pacific Fibers Tbk (POLY) berharap berekspetasi bahwa harga gas bisa turun sesuai Perpres Nomor 40/2016.

"Harapannya agar harga bisa kompetitif setelah ada merger," ujar Assistant President Director Corporate Communications POLY, Prama Yudha Amdan kepada Kontan.co.id, Kamis (26/7).

Perseroan berharap pemerintah dapat lebih ramah terhadap industri, dengan adanya merger yang berimbas pada efisiensi POLY yakin jika harga gas kompetitif maka konsumsi gas akan tumbuh pula di kalangan industri. "Tentu ada korelasinya, konsumsi gas dapat naik memacu industri dan pada akhirnya perekonomian bergerak," sebut Yudha.

Sementara itu Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) tak muluk-muluk mengharapkan harga gas bakal turun murah. "Yang jelas kami tekankan pemerintah soal janji memberikan harga gas yang kompetitif, perlu kami tegaskan kami tidak minta harga gas murah tapi harga yang kompetitif," beber Elisa Sinaga, Ketua Umum Asaki kepada Kontan.co.id, Kamis (26/7).

Sebelumnya, asosiasi pernah meminta setidaknya harga gas antara di area Jawa Barat dan Jawa Timur bisa sama. Sekarang bedanya, kata Elisa, bisa 13% dimana Jabar sekitar US$ 9,16/mmbtu dan jatim US$ 7,98/mmbtu.

Apalagi pengusaha cukup tertekan dengan pelemahan rupiah terhadap dolar AS akhir-akhir ini. "Harga gas dengan usd ini juga bakal rugi dengan fluktuasi ini. Padahal komponen gas terhadap kontribusi produksi kira kira 30%," tukas Elisa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .