KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada Senin (22/6/2026). Mengutip
Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,22% secara harian ke Rp 17.843 per dolar AS. Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat tipis 0,03% secara harian ke Rp 17.819 per dolar AS. Chief Analyst Doo Financial Future, Lukman Leong mengatakan, rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen risk off domestik, dengan investor cenderung berhati – hati mengantisipasi pengumuman MSCI dalam 1 hari sampai 2 hari ke depan.
Mata uang Asia juga pada umumnya melemah dan indeks dolar AS naik, dengan investor merespon negatif perkembangan seputar prospek perdamaian di timteng yang permanen.
Baca Juga: GOTO dan NCKL Keluar dari Indeks FTSE, Saham Berpotensi Tertekan, Ini Kata Analis “Rupiah mungkin masih akan tertekan selama sebelum pengumuman MSCI,” ujar Lukman kepada Kontan, Senin (22/6/2026). Lukman menambahkan, pergerakan rupiah besok (23/6) akan dipengaruhi sentimen pengumumam MSCI. Investor juga akan terus memantau perkembangan seputar pembicaraan damai AS-Iran, dan situasi di Lebanon. Lukman memproyeksikan rupiah besok (23/6/2026) bergerak di kisaran Rp 17.800 – Rp 17.900 per dolar AS. Sementara itu, Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi melihat pergerakan rupiah melemah seiring dengan potensi meningkatnya inflasi. Hal ini setelah Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya kenaikan pada jenis Pertamax dan Pertamax Turbo, akan memberikan andil terhadap peningkatan inflasi nasional. Menurutnya, tantangan utama berasal dari rambatan global berupa transmisi harga minyak dan harga komoditas ke dalam negeri, atau yang lazim disebut sebagai imported inflation.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Masih Rawan Terkoreksi pada Selasa (23/6), Ini Sentimennya Faktor rambatan global tersebut secara langsung berdampak pada kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices), seperti yang tercermin dari kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi baru-baru ini.
Faktor risiko kedua yang tengah diwaspadai adalah potensi gangguan cuaca. Fenomena El Nino diperkirakan akan melanda Indonesia pada periode akhir Juni hingga Oktober atau November mendatang. Kondisi cuaca ekstrem ini berpotensi memberikan tekanan pada kelompok harga pangan bergejolak (volatile food). Ibrahim menambahkan, pergerakan rupiah besok (23/6/2026) dipengaruhi ekspektasi kebijakan moneter AS karena sejumlah data ekonomi seperti Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal pertama tahun 2026 dan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE) akan dirilis dalam waktu dekat. Perkembangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi perhatian investor. Ibrahim memproyeksikan rupiah pada Selasa (23/6/2026) bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp 17.840 – Rp 17.890 per dolar AS. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News