Menanti Merger Dua Raksasa Minuman Beralkohol Pernod Ricard dan Brown-Forman



KONTAN.CO.ID - LONDON. Produsen minuman beralkohol asal Prancis Pernod Ricard dan Brown-Forman, produsen Jack Daniel's, berpotensi melakukan merger. Kedua perusahaan belum memberikan rincian keuangan dan kepastian kapan transaksi akan terjadi.

Kamis lalu (26/3/2026), Pernod, produsen minuman beralkohol terbesar kedua di dunia, mengkonfirmasi pembicaraan merger dengan Brown-Forman. Reuters melaporkan, mengutip sumber yang mengetahui rencana tersebut, pembicaraan antara kedua perusahaan tersebut sudah mencapai tahap lanjut.

Menurut riset Jefferies, menggabungkan wiski dan tequila Amerika milik Brown-Forman ke dalam portofolio dan distribusi global yang lebih luas milik Pernod dapat menghasilkan penghematan biaya tahunan hingga US$ 450 juta. Produk Pernod di kedua kategori tersebut saat ini masih minim.


Baca Juga: Negara Anggota Sulit Sepakat, Perundingan WTO Soal Moratorium E-Commerce Buntu

Penggabungan ini juga akan menciptakan pesaing yang lebih kuat bagi Diageo, yang saat ini jadi pemimpin global di segmen tersebut. Penggabungan juga akan memberikan grup tersebut pengaruh yang lebih besar di pasar AS, di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan.

Namun, para analis menilai, dengan adanya beberapa generasi anggota keluarga pendiri di kedua pihak, termasuk di pucuk pimpinan Pernod dan di seluruh dewan direksi Brown-Forman, potensi penggabungan besar ini menghadapi rintangan unik.

"Ini bukan kesepakatan yang mudah," kata Chris Beckett, analis Quilter Cheviot, pemegang saham Pernod. Ia mengatakan, menghasilkan kesepakatan yang memuaskan anggota keluarga serta pemegang saham bisa jadi sulit.

Baca Juga: Merger Warner Bros–Paramount Senilai US$110 Miliar Masuki Tahap Krusial

Kesepakatan juga tidak akan secara otomatis menyelesaikan masalah penjualan yang lesu. Produsen alkohol di seluruh dunia sedang berjuang melawan perlambatan permintaan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Keluarga Brown telah mengendalikan Brown-Forman sejak didirikan pada 1870 silam. Keturunan generasi kelima dari pendiri George Gavin Brown duduk di dewan eksekutif. Menurut perkiraan analis, keluarga tersebut memiliki setidaknya 67,5% hak suara.

Keluarga tersebut telah lama menolak akuisisi. Bill Kirk, Analis Senior Roth Capital, mengatakan, kondisi tersebut menjadikan Brown-Forman target yang sulit.

Pada 2010, keluarga Brown mencetak pernyataan pada label bourbon perusahaan, menegaskan komitmen dan kendali mereka. Pada 2017, Brown-Forman menolak tawaran akuisisi dari perusahaan bir Constellation Brands.

Baca Juga: Estee Lauder dan Puig Jajaki Merger, Berpotensi Lahirkan Raksasa Kecantikan Global

Beberapa analis mengatakan keluarga Brown mungkin akan meminta premi yang signifikan dari Pernod untuk menyetujui kesepakatan tersebut.

Di Pernod Ricard, Alexandre Ricard, yang merupakan cucu dari pendiri perusahaan pendahulu Societe Ricard, telah menjabat sebagai CEO di Pernod selama 11 tahun. Menurut seorang sumber, keluarga Ricard mengendalikan 21% hak suara dan memiliki peran yang lebih pasif dibanding keluarga Brown.

Sumber tersebut juga menuturkan, tidak ada penerus keluarga yang jelas untuk Alexandre. Anggota keluarga lainnya tidak memegang peran penting di dewan direksi.

Analis J.P. Morgan mengatakan tidak jelas apakah Pernod secara realistis dapat mengejar kesepakatan sebesar itu. Pasalnya, neraca keuangan perusahaan ini sedang dalam tekanan.

Baca Juga: Tokio Marine Jual Saham ke Berkshire Hathaway, Bentuk Kemitraan Strategis

Utang bersih Pernod mencapai 3,8 kali laba inti (EBITDA) pada akhir Desember. Utang ini dapat meningkat lebih lanjut jika keluarga Brown meminta premi.

Beckett menyebut, kondisi tersebut juga dapat mengurangi manfaat yang diharapkan bagi pemegang saham Pernod. "Manfaat ekonomi dari sinergi tersebut bisa berakhir pada investor Brown-Forman dan keluarga Brown, bukan pada investor Pernod," katanya.