KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (20/10/2026) diproyeksikan masih dibayangi oleh volatilitas seiring dengan penantian pasar terhadap rilis kebijakan suku bunga acuan. Berdasarkan data
Bloomberg pada Senin (19/10/2026), rupiah spot ditutup melemah 0,11% atau 19 poin ke level Rp 18.046 per dolar AS, sementara kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia justru mencatatkan penguatan sebesar 0,01% atau Rp 2 dari posisi Rp 18.052 menjadi Rp 18.050 per dolar AS. Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi menyampaikan bahwa sentimen eksternal berupa ketahanan ekonomi Amerika Serikat (AS) masih menjadi faktor dominan yang menahan pergerakan mata uang Garuda di awal pekan.
Baca Juga: IHSG Anjlok 3,64% ke 4.996 pada Senin (19/10/2026), MDKA, AMMN, MBMA Top Losers LQ45 Pelemahan rupiah pada Senin (19/10) utamanya didorong oleh ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, serta melonjaknya harga minyak mentah akibat ketegangan geopolitik. Tekanan tersebut juga diperparah oleh sikap kehati-hatian investor domestik yang tengah menantikan respons kebijakan moneter dari Bank Indonesia. Menatap perdagangan Selasa (20/10), pergerakan rupiah diproyeksikan masih akan berjalan secara volatil dengan kecenderungan tertekan akibat kombinasi sejumlah katalis utama. Dari ranah global, sikap bank sentral AS yang menahan kebijakan moneter ketatnya, ditambah dengan naiknya yield US Treasury, terus menyempitkan ruang gerak bagi aset di negara berkembang. Fluktuasi harga energi di tengah panasnya situasi geopolitik juga menjadi beban berat tersendiri. "Bagi Indonesia sebagai negara net importer minyak, kenaikan harga energi global memberikan tekanan tambahan pada defisit transaksi berjalan serta meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi," ungkap Rahma kepada Kontan, Senin (19/10/2026). Sementara dari sisi domestik, pelaku pasar menaruh fokus penuh pada pengumuman RDG Bank Indonesia pada 20-21 Oktober mendatang demi menakar probabilitas penyesuaian BI-Rate guna meredam laju capital outflow. Di samping itu, sentimen kehati-hatian juga membayangi pasar ekuitas menyusul usulan peninjauan kembali klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI, dari Emerging Market yang berpotensi diturunkan menjadi Standalone Market. "Hal ini memicu kekhawatiran terhadap volatilitas aliran dana asing (
foreign portfolio outflow) di pasar modal domestik yang berimbas langsung pada tekanan psikologis terhadap rupiah," jelas Rahma. Dinamika risiko investasi ini kian ditegaskan oleh bergeraknya yield SBN tenor 10 tahun di kisaran 7,36% yang menjadi indikator penting bagi investor asing dalam menilai kembali portofolio aset rupiah mereka. Rahma memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang konsolidasi yang ketat.
Pada perdagangan Selasa (20/10/2026), level support atau batas bawah penguatan rupiah diperkirakan berada di rentang Rp 17.950 hingga Rp 18.010 per dolar AS. Sedangkan untuk level resistensi atau batas atas tekanannya diproyeksikan berada di kisaran Rp 18.060 sampai dengan Rp 18.100 per dolar AS.
Baca Juga: Harga Emas Berisiko Mengalami Koreksi Lanjutan, Berpotensi Turun ke US$ 4.100 per Ons Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News