Menanti sinyal The Fed, rupiah masih stabil



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk memangkas suku bunga acuannya sebanyak 25 basis poin (bps) menjadi 5,5% sukses membuat nilai tukar rupiah menguat tipis pada perdagangan Kamis (22/8). Meskipun begitu, pergerakan rupiah saat ini dianggap masih stabil.

Mengutip Bloomberg, pada perdagangan Kamis (22/8) nilai tukar rupiah sukses ditutup menguat tipis 0,03% ke level Rp 14.239 per dolar AS dari penutupan perdagangan sebelumnya Rp 14.243 per dolar AS.

Sedangkan menurut data kurs tengah Bank Indonesia (BI) atau dikenal JISDOR, rupiah tercatat menguat sebanyak 25 poin di level Rp 14.234 per dolar AS.


Baca Juga: Secara teoritis, rupiah sudah undevalue 9%

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan untuk jangka pendek, rupiah berpotensi cenderung melemah mengingat interest rate differential antara Indonesia dengan AS yang menyempit. Sedangkan di Jumat (23/8) mendatang, The Fed akan memberikan pernyataan lainnya terkait arah kebijakan moneternya di Jackson Hole.

"Bila The Fed memberikan sinyal dovish di pertemuan tersebut, maka kemungkinan rupiah akan berbalik arah dan menguat, namun apabila The Fed memberikan sinyal netral ataupun less dovish, maka rupiah cenderung mengalami pelemahan di jangka pendek," kata Josua kepada Kontan.co.id, Kamis (22/8).

Sementara itu,  pelaku pasar global juga masih belum mendapat gambaran jelas terkait sinyal pelonggaran moneter dari The Fed. Meskipun begitu, pelaku pasar menilai posisi The Fed saat ini cenderung cenderung netral, sebagaimana yang tercermin dalam beberapa  pernyataan pejabat The Fed akhir-akhir ini.

Baca Juga: IHSG melemah, analis nilai BI masih perlu pangkas suku bunga

Josua memprediksi, untuk jangka pendek rupiah masih akan bergerak stabil pada kisaran Rp 14.200-Rp14.300 per dolar AS. Sedangkan hingga akhir tahun, nilai tukar rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp 14.150-Rp 14.250 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .