KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi Covid-19 kerap menjadi titik balik bagi banyak pelaku usaha, termasuk Hamza. Ketika bisnis kuliner yang ia geluti terdampak pandemi, pria asal Bone, Sulawesi Selatan, ini justru melihat peluang baru dari komoditas yang selama ini akrab dikonsumsi masyarakat di kampung halamannya, yakni gula aren. Ia memberi label usahanya: Aren Sulawesi (Arwes). Arwes telah berdiri dan mulai dipasarkan sejak 2019, sebelum kemudian resmi terdaftar pada 2020. Awalnya, Hamza hanya memperdagangkan gula aren padat dari petani di kampung halamannya untuk kemudian ia pasarkan di Kota Makassar.
Baca Juga: Kuliah Mandiri yang Membawa Berkah Pandemi lalu menjadi momentum untuk mengembangkan bisnis tersebut lebih jauh. Berbekal pengalaman sebagai pedagang dan keyakinan bahwa tren pangan sehat akan terus berkembang, Hamza pun mengembangkan Arwes dari sekadar perdagangan menjadi usaha pengolahan gula aren. "Sebelum pandemi, permintaannya biasa saja. Saat pandemi, orang mulai mencari makanan dan minuman yang lebih sehat, sehingga gula aren ikut naik sampai sekarang," ujarnya belum lama ini.
Baca Juga: Semangat Merancang Aksesori demi Pasar Ekspor Untuk memenuhi permintaan tersebut, Arwes kini mengolah sekitar satu ton bahan baku aren per hari. Awalnya, pasokan gula aren hanya berasal dari wilayah Bone dan Soppeng, yang memang dikenal sebagai sentra gula aren berkualitas di Sulawesi Selatan. Namun, seiring permintaan yang meningkat, Hamza memperluas sumber pasokan gula aren ke berbagai daerah di Pulau Sulawesi. Meski demikian, Arwes belum bermitra langsung dengan kelompok tani. Mereka masih memperoleh pasokan gula aren melalui jaringan pengepul yang bekerjasama dengan petani.
Baca Juga: Bisnis Adem dari Penjualan Pakaian Tidur Wanita Di tengah peningkatan permintaan, Hamza menilai, tantangan terbesar justru datang dari sisi keberlanjutan bahan baku. Pohon aren masih banyak tumbuh secara alami di kawasan hutan dan belum banyak dibudidayakan secara khusus. Di sisi lain, alih fungsi lahan membuat populasi pohon aren berpotensi terus berkurang.
Baca Juga: Merajut Fulus dari Fesyen Sederhana Untuk mengantisipasi fluktuasi pasokan gula aren, Hamza menerapkan strategi menyimpan stok ketika musim panen sedang melimpah dan harga bahan baku relatif lebih rendah. "Ini untuk menjaga stok bahan baku," katanya. Tak heran, penjualan Arwes tergolong terjaga sejauh ini. Apalagi, jalur pemasarannya menyebar via ritel dan digital.
"Untuk penjualan online, dibantu oleh anak saya yang lebih paham," ucapnya. Selain menjual gula aren bubuk dan gula aren cair, Arwes mulai mengembangkan produk turunan berupa sarabba instan, minuman tradisional khas Makassar berbahan dasar gula aren dan rempah-rempah. Produk ini juga menjadi bagian dari pengembangan kafe plus gerai ritel yang tengah Hamza siapkan sambil terus mengoptimalkan pasar domestik bagi Arwes. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News