Mencermati Pendekatan Baru Industri Digital Marketing



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri digital marketing saat ini menghadapi tantangan dalam mengukur performa iklan. Selama ini, keberhasilan sering dinilai dari banyaknya lead dengan biaya serendah mungkin, seperti cost per lead (CPL) yang rendah, tingginya traffic, dan banyaknya form yang terisi. Namun, kondisi tersebut tidak selalu sejalan dengan peningkatan penjualan.

Di lapangan, banyak bisnis menghadapi masalah lanjutan berupa lead yang sulit dihubungi, tidak sesuai target pasar, atau tidak memiliki niat beli yang jelas. Akibatnya, meskipun kampanye terlihat berhasil di sisi marketing, dampaknya terhadap revenue tidak optimal.

CEO Whizzy Growth Tommy Soependi menilai hal ini terjadi karena platform iklan seperti Meta masih mengandalkan data awal seperti klik, impresi, dan pengisian form untuk mengoptimalkan kampanye, bukan berdasarkan hasil akhir seperti transaksi. “Akibatnya, sistem lebih fokus pada kuantitas lead, bukan kualitasnya,” kata dia dalam keterangannya, Rabu (29/4/2026).


Baca Juga: GoApotik Tingkatkan Penjualan Apotek UMKM Lewat Digital Marketing

Tommy Soependi menilai kehadiran Meta Conversion API merupakan solusi penting mengatasi kendala tersebut.  Teknologi ini mengirimkan data langsung dari server perusahaan ke sistem Meta, sehingga tidak bergantung pada browser pengguna. Hasilnya, data menjadi lebih akurat, stabil, dan minim kehilangan informasi.

Ia menjelaskan, peran utama teknologi tersebut adalah  menghubungkan aktivitas iklan dengan hasil bisnis nyata seperti pembelian, nilai transaksi, dan konversi pelanggan. Dengan data yang lebih lengkap, perusahaan dapat menilai performa kampanye secara lebih objektif, bukan hanya dari jumlah klik atau lead.

Tommy bilang, Whizzy Growth telah menggunakan pendekatan ini dengan fokus menghubungkan data marketing langsung ke hasil bisnis. Bukan hanya mengejar jumlah lead, tetapi memastikan data sales kembali masuk ke sistem iklan agar algoritma terus belajar dari hasil nyata.

Dengan integrasi ini, lanjutnya, optimasi tidak berhenti di klik atau form, tetapi sampai ke data closing dan nilai transaksi. Hasilnya, marketing tidak lagi sekadar menghasilkan traffic atau lead, tetapi benar-benar mendorong revenue yang terukur dan berkelanjutan.

Whizzy Growth menekankan bahwa efektivitas digital marketing tidak cukup diukur dari jumlah lead, tetapi dari keterhubungan langsung data marketing dengan pendapatan bisnis.

Baca Juga: Komdigi Pede Indonesia Jadi Pemain Utama Ekosistem Digital Global, Begini Caranya

Melalui integrasi Conversion API dan CRM, data penjualan seperti closing dan nilai transaksi dikirim kembali ke platform iklan agar algoritma dapat belajar dari hasil bisnis nyata, bukan hanya dari aktivitas awal seperti klik atau pengisian form.

Pendekatan ini diperkuat dengan value-based optimization yang berfokus pada kualitas dan nilai transaksi, bukan sekadar jumlah konversi. Dengan sistem feedback antara marketing dan sales, optimasi menjadi lebih akurat dan berorientasi pada revenue.

Pada akhirnya, Tommy menegaskan bahwa pertumbuhan bisnis tidak ditentukan oleh banyaknya lead, melainkan oleh kualitas closing dan nilai transaksi yang dihasilkan. “Meta Conversion API menjadi alat penting untuk menggeser fokus dari metrik permukaan ke hasil bisnis yang nyata.” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News