Mencermati Prospek Saham BBNI Usai Mencetak Kinerja Solid di Kuartal III



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja keuangan kuartal III 2026 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menjadi katalis positif baru bagi pemulihan saham bank BUMN setelah tertekan akibat sentimen pengumuman MSCI.

Tekanan muncul setelah MSCI membuka konsultasi terkait kemungkinan penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Kekhawatiran ini mendorong investor, terutama asing, mengurangi risiko investasi dan melepas saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk saham perbankan BUMN.

Saham BBNI sempat merosot ke kisaran Rp2.800 pada pertengahan Oktober 2026. Namun, hingga penutupan perdagangan Kamis (29/10/2026), saham BBNI kembali menguat ke level Rp3.240.


Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji menilai tekanan saham bank Himbara, terutama BBNI, BBRI, dan BMRI, dipicu ketidakpastian setelah MSCI mengumumkan konsultasi terkait status pasar saham Indonesia. “Isu ini membuat investor lebih berhati-hati karena berpotensi memengaruhi aliran dana dan alokasi portofolio berbasis indeks,” kata Nafan, Kamis (29/10/2026).

Namun, koreksi tajam membuat valuasi saham perbankan kembali menarik, ditambah ekspektasi kinerja keuangan kuartal III 2026. Nafan menambahkan, likuiditas saham bank berkapitalisasi besar juga menjadi daya tarik bagi investor yang mulai mengakumulasi saham.

Baca Juga: Transaksi wondr by BNI Tembus Rp 1.774 Triliun, Naik 25% hingga September 2026

Meski demikian, penguatan harga belum memastikan tren pemulihan berlanjut. Investor masih perlu mencermati arus dana asing, volume transaksi, dan perkembangan kebijakan MSCI.

Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, BNI mencetak laba bersih sebesar Rp16,1 triliun, meningkat 6,6% secara tahunan. Sementara  laba operasional sebelum pencadangan mencapai Rp 27,5 triliun, tumbuh 11,6% secara tahunan.

Kinerja operasional tersebut turut ditopang pendapatan bunga bersih (NII) yang tumbuh 13,6% menjadi Rp33,2 triliun. Pendapatan non bunga juga meningkat 8,7% menjadi Rp 18,5 triliun. 

Dari sisi intermediasi, kredit BNI meningkat  22,2% secara tahunan menjadi Rp 992,5 triliun per September 2025. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 20,4% menjadi Rp 1.124,5 triliun dengan CASA mencapai Rp Rp733,7 triliun atau tumbuh 19,6%.

Pada saat yang sama, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross berada di level 1,9%. Kombinasi pertumbuhan kredit, penguatan dana murah, serta perbaikan kualitas aset menjadi faktor penting dalam melihat daya tahan fundamental BNI di tengah volatilitas pasar.

Nafan menilai kinerja fundamental yang kuat dapat mendorong kenaikan ekspektasi laba, memperkuat kepercayaan investor, dan membuka peluang re-rating saham BBNI dan BMRI. Bank Mandiri mencatat laba bersih konsolidasi Rp45,5 triliun pada kuartal III 2026, tumbuh 20,7% secara tahunan.

Baca Juga: Kredit BNI (BBNI) Melonjak 22,2%, Laba Tumbuh 6,6%, Mirae Tetap Rekomendasi Netral

Menurut Nafan, investor juga perlu mencermati kualitas pertumbuhan melalui indikator kredit, margin bunga bersih (NIM), biaya dana, efisiensi operasional, rasio kredit bermasalah (NPL), dan biaya risiko kredit.

Pertumbuhan dana murah (CASA) serta valuasi melalui rasio PER, PBV, dan potensi imbal hasil dividen juga menjadi pertimbangan investor. Jika laba terus tumbuh, kualitas aset terjaga, dan valuasi kian menarik, peluang pemulihan saham bank BUMN tetap terbuka.

Namun, tekanan jual asing akibat ketidakpastian MSCI masih dapat membatasi penguatan saham. Nafan menegaskan, fundamental lebih berperan sebagai penopang jangka menengah-panjang, sementara sentimen pasar dan arus dana cenderung mendominasi pergerakan saham dalam jangka pendek.

Nafan menilai bank-bank besar memiliki keunggulan berupa skala bisnis, basis nasabah luas, diversifikasi pendapatan, dan peran strategis dalam pembiayaan ekonomi nasional. Prospek saham Himbara bergantung pada pertumbuhan kredit, pengendalian biaya dana, kualitas aset, dan profitabilitas.

Katalis positif meliputi kinerja keuangan yang solid, pertumbuhan kredit produktif, penurunan biaya pencadangan, prospek dividen, valuasi menarik, serta meredanya ketidakpastian MSCI. Pemulihan arus dana asing dan kepercayaan investor juga dapat menopang harga saham.

Sebaliknya, risiko yang perlu dicermati mencakup arus keluar dana asing, ketidakpastian status pasar Indonesia, pelemahan rupiah, kenaikan biaya dana, perlambatan kredit, dan peningkatan risiko kredit. Karena itu, Nafan menilai saham Himbara masih menarik untuk dicermati secara selektif, terutama bagi investor dengan orientasi investasi jangka menengah hingga panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News