Mencermati Saham-Saham Murah Setelah Fenomena Sell In May



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fenomena sell In May and go away melanda pasar saham Indonesia bulan lalu. Setelah fenomena ini, umumnya valuasi saham akan terdiskon.

Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto menerangkan sell In May terjadi pada sepekan pertama pasca libur lebaran awal Mei lalu. Hal tersebut terjadi karena adanya capital outflow yang dipicu oleh kenaikan suku bunga The Fed.

Namun, untungnya hal ini tidak berlangsung lama. Pada pekan selanjutnya, berikutnya kondisi sudah mulai normal kembali dengan seiringan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).


Baca Juga: Simak Rekomendasi Teknikal Saham DIGI, JPFA dan MPMX untuk Hari Selasa (7/6)

Sepanjang Mei, Pandhu mencermati saham teknologi mengalami koreksi paling dalam. Hal ini disebabkan oleh valuasi sektor ini yang relatif lebih tinggi dibanding sektor lain, ditambah dengan tren kenaikan suku bunga dan kinerja perusahaan.

"Maka tidak heran jika terjadi peralihan dimana para investor akan kembali menempatkan investasinya ke perusahaan old economy yang kinerjanya terbukti dan telah teruji bertahun-tahun," ujar dia, Senin (6/6).

Jika mengamati kinerja pada kuartal pertama, Pandhu menilai masih ada beberapa saham yang mencetak kinerja yang cukup bagus dan masih diperdagangkan pada valuasi yang relatif rendah.

Baca Juga: IHSG Melemah 1,20% pada Senin (6/6), Asing Mencatat Net Buy Rp 396 Miliar

Misalnya, PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) yang mencatatkan pendapatan sebesar Rp 947 miliar pada kuartal pertama 2022 yang melesat 102,56% secara year on year (yoy) dari Rp 467 miliar di kuartal pertama 2021. ASRI juga berhasil berbalik untung Rp 138,39 miliar dari rugi Rp 308 miliar.

Kemudian, ada PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) yang membukukan laba bersih US$ 176,46 juta. meningkat 26,69% yoy dari US$ 139,27 juta pada akhir Maret 2021.

PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) membukukan peningkatan pendapatan menjadi Rp 2,6 triliun di tiga bulan pertama tahun ini. Pendapatan MNCN naik 21,68% yoy dari Rp 2,14 triliun. Pertumbuhan juga terjadi pada laba bersih MNCN yang meningkat 55% menjadi Rp 619 miliar.

Baca Juga: Ada Kekhawatiran Akan Sikap The Fed, Level CDS Indonesia Naik

Berdasarkan hitungan Pandhu, saat ini saham ASRI masih diperdagangkan pada PBV 0,37 kali dan PE 6,5 kali. Sementara INKP diperdagangkan pada PBV 0,62 kali dan PE 4,5 kali. Kemudian, MNCN diperdagangkan di PBV 0,78 kali dan PE 5,85 kali.

Dia bilang berbekal kinerja positif dan valuasi yang masih rendah tentu cukup menarik untuk dipertimbangkan bagi para investor untuk koleksi ketiga saham tersebut. Adapun hingga akhir tahun ini Investindo Nusantara Sekuritas memasang target harga ASRI Rp 260, INKP Rp 11800, dan MNCN Rp 1.485.

"Secara teknikal pun masih cukup menarik dimana masing-masing mulai bergerak dalam tren positif sejak sepekan terakhir," pungkas dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati