Mencicip wingko babat di Magelang (1)



Jika Anda berwisata ke Magelang mengunjungi Candi Borobudur dan Candi Mendut, sempatkan mampir ke sentra produksi wingko babat di Desa Rambaenak, Kecamatan Mungkid, untuk membeli oleh-oleh. Di sini ada sekitar 20 produsen wingko babat yang menjadikan usaha ini sebagai mata pencaharian.

Kota Magelang terkenal dengan tempat wisata sejarah berupa candi-candi yang sudah tersohor seperti Borobudur dan Mendut. Potensi wisata di daerah ini yang mampu menarik banyak pengunjung mengangkat industri lainnya salah satunya adalah sektor kuliner. Sehingga tidak heran bila Anda banyak menemukan sentra-sentra produksi camilan di kota ini.

Salah satunya adalah sentra wingko babat yang berada di Desa Rambeanak, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Untuk menandakan sentra ini, Anda akan menemukan spanduk bertuliskan sentra wingko babat. Di tempat ini ada hampir 20 produsen wingko babat yang menjalankan usaha di rumah mereka masing-masing.


Sehingga, pembeli yang mampir di sentra ini bisa membeli oleh-oleh sekaligus melihat proses produksi wingko dari proses pembuatan hingga dikemas. Sejatinya, warga di sini sudah cukup lama memproduksi wingko, namun tempat ini baru dinyatakan sebagai sentra industri pada 2012 silam oleh dinas pemerintahan setempat. Sejak saat itu, tempat ini makin dikenal sebagai pusat produksi dan penjualan wingko di Magelang.

Muhajari, salah satu produsen wingko babat di sentra ini mengaku sudah mulai berjualan camilan khas daerah ini sejak tahun 1990an. Profesi ini menurutnya menjadi mata pencahariannya yang tetap bagi sebagian warga di desanya. Sebelumnya, ada yang berprofesi sebagai peternak puyuh dan itik.

Kue yang terbuat dari kelapa muda, tepung beras ketan dan gula ini memang sejatinya asli dari daerah Babat di Lamongan. Meski begitu, wingko babat dari tempat ini terkenal karena harganya yang murah.

Muhajari menjual tiga jenis rasa yaitu rasa original, rasa durian dan nangka. Harga yang dibanderol berkisar Rp 5.000 per bungkus hingga Rp 20.000 untuk bungkus yang lebih besar. Biasanya Muhajari menjual wingko di tempat-tempat wisata di sekitar Yogyakarta. Dia juga  terkadang jemput bola dengan menjual wingko ke hotel-hotel yang sedang kedatangan banyak tamu dengan bus. Muhajari mengaku bisa menjual hingga 200 bungkus sampai 300 bungkus wingko babat per bulan. Sehingga omzet yang bisa dia raup sekitar Rp 4 juta per bulan.

Rahman, produsen wingko lainnya bercerita, sebelumnya dia adalah pembuat getuk. Namun, setelah ada orang Ambarawa yang menjalankan usaha wingko babat, akhirnya Rahman terpikir untuk menjalankan usaha yang sama. Saat ini Rahman hanya menjual wingko babat rasa original. Harga produknya sekitar Rp 5.000 per bungkus atau Rp 40.000 untuk satu loyang.  

Biasanya Rahman menjual wingko buatannya di tempat wisata Candi Borobudur. Meski mengaku penjualan tidak menentu, tapi rata-rata dia bisa menjual sekitar 200 bungkus wingko per bulan.

Mereka bercerita, biasanya menjelang liburan sekolah atau liburan hari raya Lebaran atau tahun baru, penjualan bisa naik cukup besar. Terang saja, pengunjung tempat wisata biasanya meningkat pada momen-momen tersebut. Muhajari dan Rahman mengaku bisa menjual sekitar 200 bungkus hingga 300 bungkus per minggu ketika musim liburan tiba.               n

(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tri Adi