Mendag Buka Suara! Ini Penyebab Harga MinyaKita Berpotensi Naik



KONTAN.CO.ID - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut rencana penyesuaian harga eceran tertinggi (HET) MinyaKita tidak berkaitan dengan program biodiesel B50.

Menurut dia, rencana kenaikan HET murni dipengaruhi kenaikan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan biaya produksi minyak goreng.

"Enggak ada sama sekali (kaitan dengan B50). Ini kan faktor karena harga CPO naik, biaya produksi naik," ujar Budi ditemui di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Minggu (3/5/2026).


Diketahui, pemerintah bakal menerapkan program mandatori B50 (campuran 50 persen minyak sawit dan 50 persen solar) pada 1 Juli 2026.

Program ini akan berdampak langsung pada lonjakan permintaan CPO.

Tingginya permintaan terhadap minyak kelapa sawit tersebut pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan harga CPO.

Meski begitu, Budi memastikan tidak ada kaitan antara rencana pemerintah menaikkan HET MinyaKita dengan program B50.

Ia menuturkan, biaya produksi minyak goreng terus mengalami kenaikan, sementara HET MinyaKita belum berubah sejak Agustus 2024.

Baca Juga: Gatepass Priok Dibatasi, Importir Tekor Rp 375 Miliar!

Maka dari itu, diperlukan penyesuaian HET dengan kondisi ekonomi terbaru.

"Apalagi harga HET MinyaKita itu sudah dari 2024. Kan sudah lama, semua kan pasti nilai ekonominya berubah," kata dia.

Menurut Budi, pemerintah saat ini masih mengkaji penyesuaian HET MinyaKita bersama kementerian dan lembaga teknis terkait.

Namun ia enggan memastikan kapan keputusan kenaikan HET akan diumumkan.

"Ya lagi kita bahas sekarang," katanya.

Di sisi lain, meski ada rencana kenaikan HET, ia memastikan pasokan MinyaKita saat ini dalam kondisi aman di pasaran.

Harga jual di sebagian besar wilayah juga dinilai stabil.

"Hari ini harganya sekitar Rp 15.800-an. Sebelumnya Rp 15.900-an, berarti malah bagus,” kata dia.

Tonton: Industri Rokok Padat Karya Tertekan, Wacana Kebijakan Baru Picu Kekhawatiran PHK

Namun, ia mengakui masih ada sejumlah daerah yang mengalami harga lebih tinggi, salah satunya Papua. Kondisi tersebut dipicu kendala distribusi.

"Memang ada daerah tertentu yang agak mahal, misalnya di Papua karena faktor distribusi. Kami sudah minta Bulog untuk mendistribusikan ke Papua," pungkas Budi.

(Yohana Artha Uly, Erlangga Djumena)

Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/05/03/140427726/bukan-karena-b50-mendag-ungkap-alasan-harga-minyakita-mau-dinaikkan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News