Mendagri Sebut 17 Daerah di Sumatera Masih Butuh Perhatian



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkapkan ada 10 kabupaten/kota di tiga provinsi Sumatera yang terdampak bencana banjir masih membutuhkan perhatian. 

Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera ini menyampaikan, sebagian daerah ada di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, memang sudah mulai kembali normal. 

Namun, berdasarkan pemantauannya usai berkali-kali turun ke lapangan, ia memetakan ada daerah yang masih perlu perhatian khusus. 


"Ada 52 kabupaten/kota di tiga provinsi. Nah, ada yang sudah normal, ada yang mendekati normal, ada yang perlu atensi," ungkap Tito, di kediamannya di Kawasan Widya Chandra, Jakarta, Sabtu (17/1/2026). 

Baca Juga: Pengangguran Hingga Perlambatan Ekonomi Jadi Tantangan Indonesia pada 2026-2028

Hal ini juga telah disampaikan Tito langsung ke Presiden Prabowo Subianto, dalam rapat yang digelar di Hambalang, pada Sabtu (17/1/2026).

Tito merincikan, sebanyak empat daerah di Sumatera Barat memerlukan atensi khusus karena banyak yang perlu perbaikan. 

"Ada empat yang perlu atensi meskipun tak menafikan yang lain, karena banyak indikatornya yang harus diperbaiki, yaitu di Kabupaten Agam, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Pesisir Selatan," ungkap dia. 

Di Sumatera Utara, setidaknya ada lima daerah yang memerlukan atensi. Kelima daerah di Sumatera Utara itu adalah Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan. 

"Ada yang sudah normal, ada yang mendekati normal, ada yang memerlukan atensi khusus karena beberapa indikator yang saya sampaikan tadi, itu dari dialog saya dengan para bupati dan cek lapangan juga ada masalah," ucap dia. 

Begitu juga di Aceh. Menurut dia, ada daerah yang sudah mulai normal seperti Kabupaten Aceh Besar. 

Namun, ada juga delapan daerah yang memerlukan atensi khusus. "Setidaknya saya catat ada delapan ya. Aceh Tamiang yang paling berat, Aceh Timur, Aceh Utara, kemudian Pidie Jaya, Bireuen, Bener Meriah, Gayo Lues, dan satu lagi Aceh Tengah, Takengon ibukotanya, ini di gunung," papar dia. 

Dari penjelasan 17 daerah yang masih butuh atensi itu, Tito mengusulkan percepatan untuk pembersihan lumpur, khususnyadi Aceh Tamiang dan di daerah-daerah dataran rendah. Eks Kapolri ini juga mendorong percepatan normalisasi sungai. 

"Karena kan banyak sedimen ya, seperti Sungai Aceh Tamiang, Sungai Merdu di Pidie Jaya," imbuh Tito. 

Selain itu, ia menyarankan agar mulai mengurangi pengungsian tenda. Jika korban rumahnya alami kerusakan ringan agar diberikan Rp 15 juta.

Sedangkan, yang rumahnya rusak sedang diberikan Rp 30 juta. "Yang lainnya rusak berat dan hilang jadi huntara, hunian sementara, atau diberikan dana tunggu hunian yang nilainya tiga bulan adalah Rp 1,8, supaya dia bisa sewa atau tinggal di rumah keluarganya," lanjut dia.

Baca Juga: Danantara Jajaki Kerja Sama Migas Hingga Kelistrikan Hijau dengan Abu Dhabi

Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2026/01/18/13564341/mendagri-tito-ungkap-17-daerah-di-sumatera-masih-butuh-perhatian?page=all#page2.

Selanjutnya: Harga Pangan Awal 2026 Relatif Stabil, Pedagang Sebut Pasokan Lebih Aman

Menarik Dibaca: 10 Manfaat Konsumsi Tape Singkong untuk Kesehatan Tubuh yang Jarang Diketahui

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News