KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum kembali menilik makna persatuan dalam membangun Indonesia. Semangat tersebut tidak hanya tercermin dalam perjuangan kemerdekaan. Tapi juga melalui kontribusi di bidang ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan dunia usaha. Tiga tokoh dengan latar belakang berbeda, yakni B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan William Soeryadjaya, menunjukkan bagaimana pengabdian kepada bangsa dapat diwujudkan melalui beragam jalan.
Habibie berkontribusi melalui pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri dirgantara. Gus Dur dikenal atas perjuangannya dalam menjaga kemanusiaan, toleransi, dan kebhinekaan. Sementara itu, Om William, sapaan William Soeryadjaya berkiprah di dunia usaha. Ia membangun industri yang turut membuka lapangan kerja dan mengembangkan kemampuan ekonomi nasional. Perbedaan bidang pengabdian ketiganya menunjukkan,pembangunan bangsa membutuhkan peran berbagai elemen masyarakat. Kemajuan ekonomi dan teknologi perlu berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap martabat manusia serta keberagaman. Putri Gus Dur, Yenny Wahid menuturkan, Gus Dur kerap disalahpahami sebagai sosok yang hanya membela kelompok minoritas. Padahal, menurut dia, ayahnya memperjuangkan hak orang-orang yang mengalami ketidakadilan tanpa membedakan identitas. “Banyak yang saya teladani dari Gus Dur, terutama adalah keberanian beliau untuk mengatakan apa yang benar dan apa yang salah. Bagi Gus Dur, kemanusiaan mengalahkan identitas bahwa semua makhluk adalah makhluk Tuhan,” ujar Yenny, dalam keterangannya, Selasa (27/10).
Baca Juga: Harga Minyak dan Rupiah Tekan APBN, Tambahan Beban Anggaran Bakal Membengkak Ilham Akbar Habibie, putra BJ Habibie mengatakan, kiprah ayahnya tidak hanya berkaitan dengan pengembangan teknologi, tetapi juga demokrasi. Menurut dia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu disertai dengan moral dan etika. "Kita butuh kesinambungan antara Iptek sekaligus menjunjung moral dan etika,” kata Ilham. Sementara itu, Edwin Soeryadjaya - putra Om William- mengingat pesan ayahnya mengenai pentingnya integritas dalam menjalankan kehidupan maupun usaha.
“Satu hal yang ayah kami ingatkan kepada saya, yakni harus memegang integritas. Kami selalu diingatkan agar selalu jujur,” tutur Edwin. Pemikir kebhinekaan, Sukidi menyoroti pentingnya keteladanan para tokoh dalam membangun Indonesia. Nilai-nilai yang diwariskan ketiganya mencakup keberanian mengembangkan teknologi, komitmen terhadap kemanusiaan dan keberagaman, serta integritas dalam berusaha. Menurut Sukidi, semangat Sumpah Pemuda perlu diteruskan melalui karya dan kontribusi nyata. Terutama di tengah tantangan ekonomi, perkembangan teknologi, dan polarisasi sosial. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News